PFN Targetkan Bioskop Sinewara Meluncur 2027

PFN menargetkan bioskop negara Sinewara mulai beroperasi pada 2027. Proyek perdana dibangun di kantor PFN, Otista, Jakarta, sekaligus menjadi langkah awal memperluas akses bioskop di berbagai daerah.

PFN Targetkan Bioskop Sinewara Meluncur 2027
Kantor Produksi Film Negara (PFN) di Otista Jakarta Timur

Frame Daily, JAKARTA – PT Produksi Film Negara (Persero) atau PFN menargetkan bioskop negara bernama Sinewara mulai diluncurkan pada 2027. Saat ini, perusahaan masih mematangkan konsep dan model bisnis sebelum bioskop tersebut diperkenalkan kepada masyarakat.

Direktur Utama PFN Riefian Fajarsyah, yang dikenal sebagai Ifan Seventeen, menyampaikan target tersebut di Kantor BP BUMN, Jakarta, Senin (17/8/2026).

“Insyaallah tahun depan,” kata Ifan.

Direktur Utama PFN Riefian Fajarsyah bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan Jakarta (Dok. IG)

Ia menjelaskan, PFN masih melakukan sejumlah persiapan agar Sinewara dapat hadir sebagai produk yang matang. Perusahaan ingin memastikan konsep bioskop tersebut siap sebelum masuk tahap peluncuran.

“Sinewara still on progress, masih dalam penggodokan, kita mematangkan dulu agar produk ini begitu keluar sudah menjadi produk yang matang dan siap dirilis,” ujar Ifan.

Bioskop Perdana Dibangun di Otista

Sinewara akan dimulai dari proyek percontohan di kantor pusat PFN yang berada di kawasan Otista, Jakarta Timur. Proyek tersebut dirancang menjadi langkah awal sebelum konsep bioskop negara dikembangkan ke daerah lain.

Rencana pembangunan di kawasan Otista sebelumnya telah disampaikan Ifan dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI pada Februari 2026. Ketika itu, Sinewara disebut sebagai bioskop negara pertama yang akan menjadi proyek percontohan PFN.

PFN berharap proyek tersebut dapat menjadi model bagi pengembangan jaringan bioskop di daerah. Pemerintah daerah nantinya berpeluang ikut terlibat dalam pengembangan Sinewara.

Menurut Ifan, sudah ada sejumlah kepala daerah yang berkomunikasi dengan PFN mengenai kemungkinan pengembangan bioskop tersebut di wilayah masing-masing.

“Sudah ada beberapa kabupaten, kepala daerah sudah ada yang beberapa berkomunikasi dengan saya,” ucapnya.

Dorong Pemerataan Bioskop

Pengembangan Sinewara tidak terlepas dari persoalan pemerataan akses bioskop di Indonesia. Berdasarkan data PFN yang disampaikan dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI pada Februari 2026, Indonesia memiliki sekitar 505 bioskop dengan total 2.401 layar.

Distribusi bioskop masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sekitar 70 persen bioskop berada di Jawa, 15 persen di Sumatera, dan 5 persen di Kalimantan.

PFN juga menyebut akses terhadap bioskop baru menjangkau sekitar 25–30 persen kabupaten/kota di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perusahaan mendorong pengembangan jaringan bioskop negara.

Melalui skema pengembangan bersama pemerintah daerah, PFN membuka peluang daerah menjadi pemegang saham dalam bisnis bioskop negara tersebut. Model ini diharapkan dapat memperluas jaringan Sinewara tanpa hanya bertumpu pada satu lokasi.

Jadi Ruang Tumbuh Film Nasional

Kehadiran Sinewara juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem perfilman nasional. PFN ingin jaringan bioskop negara dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati film sekaligus memperluas kesempatan bagi karya sineas Indonesia mendapatkan layar.

Sebelumnya, PFN menyampaikan bahwa keterbatasan jumlah dan persebaran layar menjadi salah satu persoalan dalam industri perfilman nasional. Dengan jumlah layar yang masih jauh dari kebutuhan ideal, pengembangan infrastruktur bioskop dinilai penting untuk menopang pertumbuhan produksi film Indonesia.

Sinewara karena itu tidak sekadar diproyeksikan sebagai jaringan bioskop milik BUMN. PFN menempatkannya sebagai salah satu instrumen untuk memperluas akses masyarakat terhadap sinema dan membuka ruang distribusi yang lebih luas bagi film nasional.

Jika target peluncuran pada 2027 terealisasi, Sinewara akan menjadi tonggak baru bagi PFN dalam memperluas perannya di industri perfilman, dari sisi produksi hingga ekosistem penayangan.

Untuk tahap awal, PFN masih berfokus mematangkan konsep dan menyiapkan proyek percontohan di Otista. Pengembangan ke daerah lain akan mengikuti kesiapan proyek serta komunikasi dengan pemerintah daerah yang telah menyatakan ketertarikannya.

Ditulis oleh Junaidi Saifuddin

Komentar