Frame Daily, Jakarta - Kemampuan seorang juru bicara tidak hanya berkaitan dengan latar belakang profesional. Kompetensi, kemampuan artikulasi, kepercayaan diri, serta kemampuan membangun kepercayaan publik juga dinilai menjadi bagian penting dalam menjalankan fungsi komunikasi kepada masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari dalam pembahasan mengenai peran juru bicara dan komunikasi publik. Qodari juga menyebut Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia sebagai salah satu benchmark dalam konteks kemampuan menjalankan peran tersebut.
Kompetensi Juru Bicara Tidak Hanya Soal Latar Belakang
Menurut Qodari, latar belakang seseorang bukan menjadi satu-satunya ukuran dalam menjalankan tugas sebagai juru bicara. Kemampuan untuk memahami persoalan dan menyampaikan informasi menjadi bagian yang penting dalam komunikasi publik.
Artikulasi menjadi salah satu aspek yang turut ditekankan. Seorang juru bicara dituntut mampu menyampaikan informasi dengan bahasa yang jelas sehingga pesan yang diterima publik tetap sesuai dengan konteks yang dimaksud.
Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika juru bicara harus menjelaskan isu yang kompleks kepada masyarakat. Informasi mengenai kebijakan pemerintah, misalnya, perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami tanpa menghilangkan substansi.
Kepercayaan Menjadi Bagian dari Komunikasi Publik
Qodari juga memasukkan kepercayaan diri dan kepercayaan publik sebagai unsur yang berkaitan dengan kemampuan seorang juru bicara.
Kepercayaan diri diperlukan ketika juru bicara berhadapan dengan media maupun masyarakat, terutama saat harus menjawab pertanyaan mengenai isu yang berkembang. Pada saat yang sama, penyampaian informasi tetap perlu didukung data dan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Peran tersebut membuat juru bicara tidak hanya berfungsi sebagai penyampai pernyataan. Ia juga menjadi salah satu penghubung antara institusi yang diwakili dengan publik.
Dalam konteks komunikasi pemerintah, kebutuhan terhadap komunikasi yang jelas dan konsisten menjadi semakin penting karena masyarakat memperoleh informasi melalui berbagai kanal. Qodari sendiri dalam forum peluncuran buku tentang juru bicara pada September 2026 menekankan pentingnya konsistensi angka, istilah, fakta, dan narasi dalam komunikasi pemerintah.

Dwi Anggia Disebut sebagai Salah Satu Benchmark
Dalam pernyataannya dalam sebuah podcast Qodari menyebut Dwi Anggia sebagai salah satu benchmark ketika membahas kemampuan seorang juru bicara.
Dwi Anggia tercatat sebagai Juru Bicara Kementerian ESDM dan Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Media dan Komunikasi Publik. Data profesional yang tersedia juga mencatat pengalaman Anggia di bidang jurnalistik serta komunikasi publik.
Kehadiran Dwi Anggia dalam kegiatan komunikasi pemerintah bersama Qodari juga terdokumentasi dalam keterangan pers Bakom pada Juni 2026. Saat itu, Qodari dan Dwi Anggia memberikan keterangan mengenai program prioritas pemerintah terkait penguatan ketahanan energi dan pangan.
Penyebutan Dwi Anggia sebagai benchmark merupakan pandangan Qodari dalam pernyataan tersebut. Frame Daily tidak menempatkan penyebutan itu sebagai pemeringkatan atau penilaian independen terhadap kinerja juru bicara.
Tantangan Juru Bicara di Tengah Perubahan Informasi
Perkembangan ekosistem digital membuat komunikasi publik berlangsung melalui lebih banyak kanal. Kondisi tersebut membuat kemampuan juru bicara dalam memahami persoalan, memilih informasi yang relevan, dan menyampaikan pesan secara jelas menjadi bagian penting dari pekerjaan komunikasi.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital Fifi Aleyda Yahya sebelumnya menyatakan strategi komunikasi pemerintah di era digital tidak dapat hanya bergantung pada satu sosok juru bicara. Menurutnya, banyaknya kanal informasi membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda.
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital juga menekankan pentingnya kemampuan komunikasi berbasis data dan pemahaman terhadap dinamika media sosial dalam membangun kepercayaan publik.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi juru bicara mencakup lebih dari sekadar kemampuan berbicara di depan publik. Pemahaman terhadap substansi, ketepatan informasi, kemampuan menjelaskan, serta komunikasi yang konsisten menjadi bagian dari tantangan profesi tersebut.
Pernyataan Qodari mengenai kompetensi, artikulasi, kepercayaan diri, dan kepercayaan publik menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai perubahan peran juru bicara di tengah perkembangan komunikasi digital.
Komentar