Frame Daily, Jakarta - Jakarta akan menjadi titik pertemuan imam-imam besar dari berbagai negara pada 25-28 September 2026. Sedikitnya delegasi dari 39 negara dijadwalkan hadir dalam konferensi internasional tersebut.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan peserta yang diundang berasal dari berbagai kawasan dunia. Sejumlah imam besar dari Timur Tengah, Eropa, Asia hingga Amerika Serikat dijadwalkan mengikuti forum.
Dari Timur Tengah, imam besar dari Mesir dan Arab Saudi termasuk yang akan hadir. Delegasi dari Korea Selatan dan Jepang juga masuk dalam daftar peserta yang diundang.
"Sudah 39 negara besar akan ikut hadir dengan 45 negara asing," kata Nasaruddin.
Jumlah peserta masih berpotensi bertambah. Panitia menargetkan sekitar 500 peserta karena ketertarikan dari negara-negara Asia Tenggara dan peserta lokal disebut cukup tinggi.
Dengan komposisi peserta lintas negara tersebut, konferensi ini dirancang menjadi ruang pertemuan para pemimpin agama dari latar belakang budaya dan kawasan yang berbeda.
Diplomasi Agama Jadi Bahasan Utama
Pertemuan tersebut tidak hanya membahas persoalan keagamaan. Salah satu tema utama yang diangkat adalah diplomasi agama.
Nasaruddin menjelaskan diplomasi agama diarahkan untuk menggunakan bahasa agama dan spiritual dalam merajut perbedaan, termasuk menghadapi konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Pendekatan ini bertolak dari keyakinan bahwa nilai kemanusiaan dapat menjadi titik temu di tengah perbedaan identitas.
Menurut Nasaruddin, agama dapat mendorong kesadaran untuk menjalankan diplomasi dengan mempertimbangkan aspek nurani dan kemanusiaan.
"Kita sangat yakin bahwa dengan menggunakan bahasa agama ini ada kesadaran perlindungan hidup, ada kesadaran untuk berdiplomasi secara nurani," ujarnya.
Melalui forum tersebut, para imam diharapkan dapat membicarakan peran agama sebagai bahasa perdamaian.
Perbedaan warna kulit, etnis, bahasa, maupun asal negara dinilai tidak menghapus kesamaan manusia sebagai makhluk yang memiliki hati nurani.
Masjid Didorong Jadi Pusat Peradaban
Selain diplomasi agama, konferensi akan mengangkat gagasan mengenai masjid sebagai pusat peradaban dan penguatan umat.
Masjid tidak hanya ditempatkan sebagai ruang ibadah. Perannya juga akan dibahas dalam konteks kehidupan sosial dan upaya menciptakan harmoni di tengah masyarakat.
Gagasan tersebut akan diarahkan pada penyusunan rekomendasi bersama yang dapat menjadi hasil konferensi.
Nasaruddin mengatakan forum itu nantinya akan menghasilkan deklarasi yang disebut Jakarta Understanding.
Deklarasi tersebut akan berisi rekomendasi kepada para imam dari berbagai belahan dunia mengenai bagaimana masjid dapat berkontribusi terhadap terciptanya harmoni dalam kehidupan bersama.
Dengan agenda ini, pembahasan mengenai masjid ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni kontribusinya terhadap kehidupan umat dan masyarakat.
Imam Besar Palestina Dijadwalkan Hadir
Isu konflik Palestina juga akan mendapat ruang dalam konferensi.
Nasaruddin memastikan Imam Besar Palestina akan hadir dalam pertemuan tersebut.
Kehadiran tokoh agama dari Palestina menjadi bagian dari pertemuan para imam besar dari berbagai negara.
Nasaruddin mengatakan Imam Besar Palestina merupakan sahabatnya dan selama ini kerap menyampaikan pesan yang menurutnya mencerahkan.
Ia juga menyebut para peserta konferensi telah mulai berdatangan menjelang acara berlangsung.
Sebagian peserta bahkan disebut sudah berada di Indonesia sebelum konferensi dimulai.
Selama empat hari, para pemimpin agama dari berbagai kawasan akan berkumpul di Jakarta untuk membahas diplomasi agama, peran masjid, serta kontribusi nilai-nilai keagamaan dalam membangun perdamaian.
Hasil pembahasan tersebut kemudian akan diarahkan ke Jakarta Understanding, yang menjadi rekomendasi bersama bagi para imam dari berbagai negara.
Komentar