Musim Kemarau, Puluhan Hektar Sawah Kekeringan di Cianjur

Musim kemarau yang melanda Kabupaten Cianjur menyebabkan puluhan hektare sawah mengalami kekeringan. Lahan yang dikelola Kelompok Tani Sukamulya seluas 10 hektare, namun yang berhasil dipanen hanya 5 hektare dan hasilnya pun tidak maksimal akibat pasokan air irigasi terhenti.

Musim Kemarau, Puluhan Hektar Sawah Kekeringan di Cianjur
Frame Daily

Frame Daily, Cianjur – Musim kemarau yang semakin terasa di Kabupaten Cianjur membawa dampak serius bagi sektor pertanian. Puluhan hektare sawah milik petani di Kelompok Tani Sukamulya mengalami kekeringan akibat terhentinya pasokan air irigasi selama beberapa pekan.

Lahan pertanian yang sebelumnya dipenuhi tanaman padi hijau kini berubah mengering. Tanah mulai retak, sementara tanaman padi menguning sebelum memasuki masa panen. Kondisi tersebut membuat banyak petani dipastikan gagal panen dan harus menanggung kerugian yang tidak sedikit.

Ketua Kelompok Tani Sukamulya mengatakan kekurangan air mulai dirasakan sejak awal musim kemarau. Debit air di saluran irigasi terus menurun hingga akhirnya tidak mampu mengairi lahan pertanian.

"Sudah beberapa minggu sawah tidak mendapatkan aliran air. Lahan yang kami kelola sekitar 10 hektare, tapi yang berhasil dipanen hanya 5 hektare itu pun hasilnya tidak maksimal," ujarnya.

Puluhan Hektare Sawah Terdampak

Lahan pertanian yang terdampak tersebar di sejumlah petak sawah milik anggota Kelompok Tani Sukamulya. Sebagian petani memilih membiarkan lahannya mengering karena tidak memiliki sumber air alternatif.

Petani berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat untuk membantu penyediaan pasokan air. Bantuan pompa air maupun perbaikan jaringan irigasi dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar kerusakan tidak semakin meluas.

Selain kehilangan hasil panen, para petani juga harus menanggung biaya produksi yang telah dikeluarkan sejak masa tanam, mulai dari pembelian benih, pupuk hingga ongkos pengolahan lahan.

Ancaman Terhadap Produksi Pangan

Kondisi kekeringan dikhawatirkan berdampak pada produksi padi di wilayah Cianjur apabila berlangsung lebih lama. Berkurangnya hasil panen berpotensi memengaruhi pasokan beras sekaligus pendapatan petani.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan musim kemarau tahun 2026 berlangsung lebih kering dari kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September sehingga sektor pertanian diminta meningkatkan langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan.

Sejumlah media nasional pada Juli 2026 juga memberi perhatian terhadap meningkatnya risiko kekeringan di berbagai daerah seiring menguatnya pengaruh El Niño yang berpotensi mengurangi curah hujan selama musim kemarau.

Petani Berharap Solusi Cepat

Para petani berharap pemerintah bersama instansi terkait segera melakukan penanganan agar lahan yang masih dapat diselamatkan memperoleh pasokan air. Mereka juga menginginkan adanya bantuan bagi petani yang mengalami gagal panen sehingga dapat kembali menanam pada musim berikutnya.

Apabila kondisi ini terus berlangsung tanpa penanganan, kerugian petani diperkirakan semakin besar dan berpotensi memengaruhi ketahanan pangan di tingkat daerah. Upaya menjaga ketersediaan air irigasi menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian di Kabupaten Cianjur.

Ditulis oleh T.S

Komentar