Mengapa Pabrikan China Mulai Membawa REEV ke Indonesia?

Teknologi Range Extended Electric Vehicle (REEV) mulai diperkenalkan sejumlah pabrikan China di Indonesia. Apa alasan di balik strategi tersebut?

Mengapa Pabrikan China Mulai Membawa REEV ke Indonesia?
Changan Deepal S05 dipamerkan pada GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang. SUV ini hadir dalam varian Battery Electric Vehicle (BEV) dan Range Extended Electric Vehicle (REEV), menandai semakin beragamnya pilihan teknologi elektrifikasi di Indonesia. (Foto: Dok. Changan)

Frame Daily, Tangerang — Persaingan kendaraan elektrifikasi di Indonesia memasuki babak baru. Jika sebelumnya mayoritas pabrikan berlomba menghadirkan Battery Electric Vehicle (BEV) atau mobil listrik murni, kini sejumlah produsen otomotif asal China mulai memperkenalkan Range Extended Electric Vehicle (REEV) sebagai alternatif bagi konsumen.

Salah satu yang mencuri perhatian di GIIAS 2026 adalah Changan Deepal S05 yang hadir dalam dua pilihan teknologi, yakni BEV dan REEV. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pabrikan tidak lagi menawarkan satu pendekatan elektrifikasi, melainkan memberikan pilihan sesuai kebutuhan pasar.

Baca juga: EV, Hybrid, PHEV, atau REEV: Teknologi Mana Paling Cocok?

Apa Itu REEV?

Range Extended Electric Vehicle (REEV) merupakan kendaraan yang tetap digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik. Perbedaannya dengan mobil listrik murni adalah adanya mesin bensin yang berfungsi sebagai generator untuk mengisi baterai ketika kapasitas daya mulai berkurang.

Dengan sistem tersebut, mesin bensin tidak menggerakkan roda secara langsung, melainkan hanya menghasilkan listrik agar kendaraan dapat menempuh jarak lebih jauh.

Baca juga: Apa Bedanya BEV, Hybrid, PHEV, dan REEV? Ini Penjelasannya.

Menjawab Kekhawatiran Soal Jarak Tempuh

Salah satu tantangan utama adopsi mobil listrik di Indonesia masih berkaitan dengan range anxiety, yaitu kekhawatiran pengemudi kehabisan daya baterai sebelum menemukan fasilitas pengisian.

Meski jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terus bertambah, penyebarannya belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam kondisi tersebut, REEV menawarkan solusi transisi. Pengemudi tetap merasakan karakter berkendara mobil listrik, tetapi memiliki cadangan tenaga melalui generator berbahan bakar bensin ketika baterai membutuhkan tambahan daya.

Strategi Pabrikan China

Pabrikan otomotif China dikenal agresif dalam mengembangkan berbagai teknologi elektrifikasi sesuai karakter pasar di setiap negara.

Alih-alih hanya membawa mobil listrik murni, mereka mulai menghadirkan pilihan yang lebih beragam, mulai dari BEV, PHEV, hingga REEV.

Pendekatan ini memberi fleksibilitas kepada konsumen untuk memilih teknologi yang paling sesuai dengan kondisi penggunaan dan kesiapan infrastruktur di masing-masing negara.

Dalam presentasi produk Deepal di GIIAS 2026, perusahaan menempatkan REEV sebagai salah satu solusi bagi pengguna yang menginginkan pengalaman berkendara mobil listrik tanpa terlalu bergantung pada jaringan pengisian daya.

Indonesia Dinilai Pasar yang Tepat

Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar potensial bagi teknologi REEV karena karakter geografis dan pola mobilitas masyarakat yang beragam.

Perjalanan antarkota masih menjadi kebutuhan banyak pengguna kendaraan pribadi, sementara akses terhadap fasilitas pengisian daya belum sepenuhnya merata.

Dalam situasi tersebut, REEV dinilai dapat menjadi alternatif sebelum adopsi mobil listrik murni berkembang lebih luas seiring peningkatan infrastruktur.

Persaingan Elektrifikasi Semakin Beragam

Hadirnya REEV menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan rendah emisi tidak berlangsung dalam satu jalur.

Selain mobil listrik murni, konsumen kini dihadapkan pada pilihan Hybrid, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), hingga REEV, yang masing-masing menawarkan karakter berbeda sesuai kebutuhan pengguna.

Baca juga: Hybrid atau Mobil Listrik, Mana Lebih Cocok untuk Perjalanan Jauh?


Frame Daily Insight

Masuknya teknologi REEV ke Indonesia menunjukkan bahwa pabrikan China tidak hanya bersaing melalui harga atau fitur, tetapi juga melalui strategi teknologi. Di tengah infrastruktur pengisian daya yang masih berkembang, REEV menawarkan pendekatan transisi dengan menggabungkan pengalaman berkendara mobil listrik dan fleksibilitas tambahan melalui generator berbahan bakar bensin. Keberhasilan teknologi ini nantinya akan sangat ditentukan oleh penerimaan konsumen, kesiapan layanan purna jual, serta kebijakan elektrifikasi nasional.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar