Frame Daily, Jakarta – Investasi pada subsektor logam dasar, barang logam, mesin, dan peralatan tercatat mencapai US$8,44 miliar sepanjang semester I 2026.
Nilai tersebut setara dengan 14,9 persen dari total investasi nasional pada periode yang sama, berdasarkan data investasi yang dicantumkan dalam materi penyelenggaraan GIFA dan METEC Indonesia 2026.
Besarnya investasi tersebut berlangsung di tengah penguatan agenda hilirisasi mineral dan pembangunan kapasitas manufaktur di Indonesia.
Managing Director Messe Düsseldorf Asia Lars Wismer mengatakan Indonesia tengah bergerak dari pola ekspor sumber daya menuju industri yang lebih terintegrasi.
“Indonesia sedang bergerak dari model ekspor sumber daya menuju model industri yang lebih terintegrasi,” kata Wismer dalam keterangan resmi.
Menurut dia, transformasi tersebut dilakukan dengan mengolah sumber daya mineral domestik menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi sekaligus memperkuat basis manufaktur nasional.
Hilirisasi Dorong Investasi Industri Logam
Perkembangan investasi industri logam juga terlihat dari aliran modal ke proyek-proyek hilirisasi mineral.
Pada kuartal II 2026, investasi hilirisasi bauksit tercatat mencapai US$2,25 miliar. Nilainya lebih tinggi dibandingkan investasi hilirisasi nikel sebesar US$1,65 miliar pada periode tersebut.
Investasi hilirisasi bauksit bahkan disebut melonjak 193 persen.
Peningkatan investasi menunjukkan pembangunan industri berbasis mineral tidak hanya berpusat pada nikel. Bauksit dan rantai industri aluminium juga mulai mendapatkan investasi dalam jumlah besar.
Perkembangan tersebut turut mendorong kebutuhan teknologi pada industri pengolahan logam, mulai dari peleburan dan pengecoran hingga proses produksi barang logam dan manufaktur.
Country General Manager Pamerindo Indonesia Lia Indriasari mengatakan industrialisasi hilir Indonesia menciptakan kebutuhan baru terhadap teknologi, keahlian rekayasa, pengembangan keterampilan, dan kemitraan.
Menurut Lia, kebutuhan tersebut membuka ruang bagi industri domestik untuk terhubung dengan pemasok teknologi dan solusi manufaktur dari berbagai negara.
Industri Logam Butuh Teknologi dan Keahlian
Besarnya investasi tidak serta-merta membuat pengembangan industri logam berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan.
Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) Dadang Asikin mengatakan perkembangan kapasitas manufaktur domestik harus diikuti akses terhadap teknologi pemrosesan yang lebih maju.
“Industri pengerjaan logam dan permesinan Indonesia membutuhkan akses terhadap teknologi pemrosesan canggih, keahlian teknis, serta kemitraan internasional,” ujar Dadang.
Menurut dia, kebutuhan tersebut semakin penting seiring berkembangnya kapasitas manufaktur di dalam negeri.
Perkembangan hilirisasi juga membuka kebutuhan terhadap proses lanjutan setelah mineral diolah menjadi logam.
Dalam industri aluminium, misalnya, rantai hilir dapat mencakup produksi lembaran, pelat, foil, ekstrusi, kawat, produk cor hingga komponen manufaktur.
Pengembangan industri lanjutan menjadi penting agar peningkatan kapasitas pengolahan mineral dapat diikuti dengan produksi barang bernilai tambah lebih tinggi di dalam negeri.
Momentum pertumbuhan investasi tersebut menjadi salah satu latar belakang penyelenggaraan GIFA dan METEC Indonesia 2026 di JIExpo Jakarta pada 9–12 September 2026.
Pameran industri pengecoran dan metalurgi tersebut dijadwalkan menghadirkan sekitar 260 perusahaan peserta dan 6.000 pengunjung profesional, dengan teknologi yang mencakup pengecoran, metalurgi, besi dan baja, otomasi hingga manufaktur berkelanjutan.
Komentar