Frame Daily, SARAWAK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menebarkan asap melampaui batas negara.
Langit Sarawak, Malaysia, mulai diselimuti kabut asap. Kualitas udara memburuk, sekolah diliburkan dan aktivitas masyarakat terganggu.
Kini pertanyaan bergeser dari sekadar seberapa luas api membakar Kalimantan, menjadi bagaimana respons Negeri Jiran menghadapi asap yang kembali melintasi perbatasan.
Apakah Malaysia akan melayangkan nota keberatan kepada Indonesia? Atau persoalan ini kembali ditempuh melalui jalur kerja sama ASEAN?
Pertanyaan itu mengemuka setelah Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan bahwa Indonesia sudah beberapa kali menerima nota protes negara tetangga akibat dampak karhutla.
Sebab, kabut asap pekat karhutla itu menyebabkan ratusan sekolah di Malaysia diliburkan. Singapura juga telah meminta warganya mewaspadai dampak karhutla Indonesia.
Langit Sarawak Kembali Kelabu
Kabut asap dari kebakaran di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah disebut ikut bergerak menuju Sarawak.
Pada Jumat (21/8/2026), Indeks Pencemaran Udara (IPU) di Serian mencapai 227 atau masuk kategori sangat tidak sehat. Sembilan wilayah lain di Sarawak juga mencatat tingkat tidak sehat. Data tersebut dikutip Bernama dari Jabatan Alam Sekitar Malaysia.
Sehari kemudian, kualitas udara masih buruk. Free Malaysia Today melaporkan Serian mencatat indeks 196 pada Sabtu (22/8/2026), sementara 10 kawasan lain berada dalam kategori tidak sehat. Pusat Pemantauan Kabut Asap ASEAN juga memperingatkan meningkatnya kemungkinan kabut asap lintas batas.
Dampaknya terasa hingga ruang-ruang pendidikan
The Star melaporkan 197.323 siswa di 10 distrik Sarawak terdampak penutupan sementara sekolah akibat memburuknya kualitas udara.
Bagi Malaysia, kabut asap bukan sekadar persoalan langit yang berubah kelabu. Ia menyentuh kesehatan warga, pendidikan, transportasi hingga kegiatan ekonomi.
Aktivitas Penerbangan di Kalimantan Lumpuh
Kabut asap juga menjadi ancaman bagi penerbangan. Di Indonesia, jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan dilaporkan turun drastis sehingga mengganggu aktivitas penerbangan.
Associated Press melaporkan kebakaran di Kalimantan telah menurunkan jarak pandang hingga sekitar satu meter di sejumlah lokasi dan menyebabkan kemacetan serta keterlambatan penerbangan.
Kondisi serupa menjadi perhatian di Malaysia karena Sarawak berada tepat di seberang wilayah Kalimantan yang mengalami kebakaran.
Hingga Sabtu siang, aktivitas di Bandara Singkawang masih lumpuh. Belum ada kepastian kapan penerbangan akan kembali normal karena operasional tetap bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang di sekitar bandara.
Memburuknya jarak pandang dan kualitas udara menjadi risiko bagi operasional penerbangan apabila kondisi terus bertahan.
Akankah Malaysia Kembali Layangkan Nota Protes?
Di sinilah persoalan karhutla memasuki wilayah diplomasi. Ketua DPR Puan Maharani mengatakan Indonesia sudah beberapa kali menerima nota keberatan dari negara tetangga akibat dampak karhutla.
“Beberapa kali kita pernah mendapat nota protes dari negara tetangga akibat dampak karhutla. Jangan menunggu sampai negara sahabat kembali melayangkan keberatannya karena karhutla tidak cepat diselesaikan,” ujar Puan, dalam siaran pers, Jumat (21/8/2026).
Puan meminta pemerintah tidak menunggu sampai negara sahabat kembali menyampaikan keberatan. Menurut dia, karhutla harus dihentikan sebelum asap semakin jauh menyeberang dan menimbulkan persoalan antarnegara.
Pernyataan Puan muncul ketika asap Kalimantan sudah nyata dirasakan masyarakat Sarawak.
Kementerian Luar Negeri Malaysia disebut akan menggunakan saluran diplomatik ASEAN untuk menangani persoalan kabut asap lintas batas.
Puan Minta Pemerintah Tak Menunggu Negara Tetangga

Bagi Puan, persoalan utama bukan hanya bagaimana Indonesia menjawab keluhan Malaysia, melainkan bagaimana pemerintah menghentikan sumber masalahnya.
Ia menilai karhutla kerap menjadi besar bukan karena titik api tidak terdeteksi, melainkan adanya jeda antara informasi, keputusan dan tindakan.
“Karhutla sering menjadi besar bukan karena tidak terdeteksi, tetapi karena terdapat jeda antara informasi, keputusan, dan tindakan,” ujar Puan.
Puan meminta pemerintah mempercepat respons sejak titik panas pertama ditemukan. Daerah dengan risiko tinggi harus mendapat tambahan personel, pompa, kendaraan tangki, sumber air dan dukungan udara.
Pemerintah pusat juga diminta mengambil alih dukungan apabila kemampuan daerah tidak memadai. Perlindungan warga tidak boleh tertinggal dari operasi pemadaman.
Puan meminta kualitas udara dipantau secara berkala, masker disediakan, layanan kesehatan diperkuat dan langkah evakuasi disiapkan jika kondisi memburuk.
Anwar Ibrahim dan Luka Kabut Asap 2019

Persoalan ini membawa kembali ingatan pada sikap Anwar Ibrahim enam tahun lalu.
Pada 2019, ketika belum menjadi Perdana Menteri Malaysia dan masih menjabat Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR), Anwar pernah berbicara keras mengenai karhutla Indonesia.
Saat itu, Anwar meminta perusahaan, termasuk perusahaan asal Malaysia, yang terbukti terlibat dalam kebakaran untuk bertanggung jawab dan diproses secara hukum.
Ia juga mendorong Indonesia, Malaysia dan Singapura memperkuat kerja sama menghadapi kabut asap yang telah mengganggu kehidupan jutaan orang.
Kini, Anwar berada di posisi yang berbeda. Ia memimpin pemerintahan Malaysia ketika Sarawak kembali menghadapi kabut asap lintas batas.
Menariknya, persoalan haze memang masuk dalam agenda pembicaraan Anwar dengan Sultan Brunei dalam konsultasi tahunan Malaysia-Brunei. Pejabat tinggi Malaysia menyebut Sarawak sebagai wilayah yang paling terdampak kabut asap.
Karhutla Kalimantan dan Jejak Bencana Lama
Kalimantan memiliki sejarah panjang dengan kebakaran hutan dan lahan.
Periode 1997-1998 menjadi salah satu episode paling kelam. Kebakaran berskala besar melanda Indonesia dan asapnya menyebar ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam hingga wilayah Asia Tenggara lainnya.
Kebakaran kembali menjadi bencana besar pada 2015. Luas area terbakar secara nasional mencapai sekitar 2,6 juta hektare dan menyebabkan gangguan kesehatan, pendidikan, transportasi serta aktivitas ekonomi.
Empat tahun kemudian, karhutla 2019 kembali membentuk kabut asap pekat yang menyeberang ke negara tetangga.
Kini, sejarah itu seperti kembali mengetuk pintu.
Api mungkin menyala di daratan Kalimantan, tetapi asapnya tak mengenal garis batas negara. Ia bergerak mengikuti angin, menutup langit Sarawak dan membawa dampak hingga ke ruang-ruang kehidupan warga Malaysia. Di tengah kabut yang kian tebal, perhatian kini beralih ke Putrajaya: bagaimana Negeri Jiran merespons persoalan lintas batas yang kembali berulang?
.
Komentar