James Talarico: “Tuhan Bukan Kristen”, Kecam Nasionalisme Kristen

Kandidat Senat dari Partai Demokrat, James Talarico, mengatakan bahwa Tuhan bukanlah seorang Kristen dan tidak dapat dikategorikan dalam kelompok atau batasan tertentu. Sebelumnya, ia juga pernah menyebut Sang Pencipta sebagai sosok nonbiner.

James Talarico: “Tuhan Bukan Kristen”, Kecam Nasionalisme Kristen
Anggota DPR Negara Bagian Texas, James Talarico (D-Austin), berbicara dalam aksi unjuk rasa terkait pemetaan ulang daerah pemilihan di Delco Activity Center, Austin (25/072025) [THE TEXAS TRIBUNE] Ronaldo Bolaños/The Texas Tribune

Frame Daily, WASHINGTON — James Talarico, kandidat Senat AS dari Partai Demokrat yang mencalonkan diri di Texas, pernah menyampaikan khotbah berjudul “Tuhan Bukan Kristen”. Dalam khotbah tersebut, ia mengecam kelompok konservatif yang menurutnya berusaha mengubah Amerika Serikat menjadi negara teokrasi.

Talarico, yang merupakan anggota parlemen negara bagian Texas sekaligus mahasiswa seminari Presbyterian, mengakui dalam khotbahnya pada 2023 bahwa ia terkadang enggan berbicara mengenai keyakinannya. Namun, ia memperingatkan adanya masalah serius dalam agama Kristen.

“Ada kanker dalam agama kita,” kata Talarico saat berbicara di hadapan jemaat St. Andrews’ Presbyterian Church.

Ia kemudian menjelaskan pandangannya tentang Tuhan.

“Tuhan jauh lebih besar daripada kategori yang kita buat sebagai manusia. Tuhan bukan Presbyterian. Tuhan bukan Kristen. Tuhan bahkan bukan kata benda. Tuhan adalah kata kerja. Tuhan bukan sekadar suatu makhluk. Tuhan adalah keberadaan itu sendiri. Tuhan adalah kasih.”
James Talarico [NYPOST]

Menurut Talarico, Yesus menentang segala sesuatu yang menghalangi manusia untuk saling mengasihi, termasuk aturan-aturan keagamaan.

“Itulah mengapa Yesus selalu melanggar aturan agama,” ujarnya. “Itulah mengapa dia mengatakan para pendosa akan masuk ke dalam Kerajaan Surga lebih dahulu daripada orang-orang yang mengaku religius.”

Sepanjang karier politiknya yang berkembang pesat, Talarico memang kerap menggunakan tema-tema keagamaan dalam pidatonya. Gaya tersebut mengingatkan pada mantan Menteri Transportasi AS Pete Buttigieg, yang juga dikenal memiliki kemampuan berpidato dan kerap mengkritik sejumlah pandangan konservatif dalam agama.

Mantan Menteri Transportasi AS, Pete Buttigieg dalam sidang konfirmasi Senat AS [Dok.VOA]

Pernah Menyebut Tuhan sebagai Nonbiner

Dalam sebuah siniar pada 2021, Talarico juga pernah mengatakan bahwa ia memandang dirinya sebagai seorang Kristen yang memiliki sikap kritis terhadap agama Kristen.

“Saya selalu menganggap diri saya sebagai seorang Kristen yang membenci agama Kristen,” katanya. Namun, ia menambahkan bahwa meskipun terkadang memiliki keraguan, dirinya selalu kembali kepada keyakinannya.

Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Roberto Henderson-Espinoza, seorang aktivis dan teolog yang menggambarkan dirinya sebagai “TransQueer, Latinx”. Talarico menyebut Henderson-Espinoza sebagai salah satu sosok yang menjadi panutan dalam perjalanan keagamaannya.

James Talarico mengecam nasionalisme Kristen sebagai "kanker dalam agama kita" dalam khotbahnya pada 2023 [Getty Images]

Juru bicara Talarico, JT Ennis, mengatakan kepada The Post bahwa Talarico adalah seorang seminarian Kristen yang mendedikasikan hidupnya pada ajaran Yesus Kristus.

Menurut Ennis, Talarico menentang korupsi karena “tidak ada yang mencerminkan ajaran Kristus” dari tindakan orang-orang berkuasa yang menggunakan ayat-ayat kitab suci untuk membenarkan kebencian, keserakahan, dan kepentingan politik.

Kecam Christian Nationalism

Dalam khotbahnya pada 2023, Talarico juga secara khusus menyerang gerakan Christian nationalism atau nasionalisme Kristen.

Ia menyebut gerakan tersebut sebagai gerakan sektarian yang dibangun atas dasar kebencian dan menuduh kelompok itu telah menyalahgunakan ajaran Yesus.

“Christian nationalism adalah gerakan sektarian yang didasarkan pada kebencian terhadap kelompok lain,” kata Talarico.

“Jesus datang untuk mengubah dunia. Christian nationalism justru hadir untuk mempertahankan status quo. Mereka telah mengambil alih sosok Anak Tuhan.”

Talarico bahkan menggambarkan sosok Yesus yang menurutnya telah dibentuk oleh kelompok tersebut sebagai “seorang rabi yang rendah hati” yang diubah menjadi sosok yang mendukung senjata, membenci kaum gay, menyangkal ilmu pengetahuan, mencintai uang, menyebarkan ketakutan, dan bersikap fasis.

“Adalah kewajiban semua orang Kristen untuk menghadapi dan mengecamnya. Christian nationalism sedang meningkat,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat semakin dekat dengan kondisi yang disebutnya sebagai teokrasi Kristen.

Menurut Talarico, sejumlah contoh yang menunjukkan pengaruh Christian nationalism antara lain keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan Roe v. Wade, dorongan untuk mengganti sekolah negeri di Texas dengan sekolah Kristen swasta, serta penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.

Performa kuat James Talarico dalam jajak pendapat di Texas membuat kubu Partai Republik resah [Getty Images]

Tolak Anggapan AS Negara Kristen

Talarico juga menolak pandangan bahwa Amerika Serikat merupakan negara Kristen. Ia mengkritik mereka yang tidak terbuka terhadap pemeluk agama lain.

“Jika ini benar-benar negara Kristen, kita akan memastikan setiap anak di negara bagian ini dan di seluruh negeri memiliki tempat tinggal, makanan, pakaian, pendidikan, dan jaminan kesehatan,” katanya.

Ia melanjutkan, jika Amerika benar-benar negara Kristen, maka negara tersebut justru tidak akan berusaha menjadikannya sebagai negara Kristen.

“Karena kita tahu bahwa meja persekutuan terbuka untuk semua orang, termasuk tetangga kita yang beragama Buddha, Hindu, Yahudi, Muslim, Sikh, maupun mereka yang tidak percaya kepada Tuhan.”

Ditulis oleh Junaidi Saifuddin

Komentar