Bendung Katulampa Bogor Mengering, Tinggi Muka Air Capai Nol Sentimeter

Musim kemarau menyebabkan debit Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Kota Bogor, terus menyusut. Tinggi muka air nol sentimeter selama dua hari terakhir. Kondisi ini dipicu minimnya curah hujan dan menjadi perhatian karena Bendung Katulampa merupakan salah satu titik pemantauan banjir Jakarta.

Bendung Katulampa Bogor Mengering, Tinggi Muka Air Capai Nol Sentimeter
Photo Frame Daily

Frame Daily, Bogor – Debit Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Kota Bogor, menyusut drastis seiring berkurangnya curah hujan selama musim kemarau. Kondisi tersebut membuat tinggi muka air (TMA) di Bendung Katulampa mencapai nol sentimeter sejak dua hari terakhir.

Fenomena ini menjadi pemandangan yang jarang terjadi. Aliran Sungai Ciliwung yang biasanya melintas di bawah Bendung Katulampa kini tampak sangat kecil. Di sejumlah titik bahkan dasar sungai mulai terlihat akibat minimnya debit air.

Petugas Bendung Katulampa menyebutkan penurunan debit air dipengaruhi minimnya hujan di kawasan hulu Ciliwung dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat pasokan air yang mengalir ke bendung terus berkurang.

Meski TMA berada di angka nol sentimeter, petugas tetap melakukan pemantauan secara berkala untuk mengantisipasi perubahan kondisi cuaca yang dapat meningkatkan debit sungai dalam waktu singkat.

Dampak Kemarau Terhadap Sungai Ciliwung

Musim kemarau tahun ini memberikan dampak signifikan terhadap aliran Sungai Ciliwung. Selain debit air yang menyusut, kondisi tersebut juga memengaruhi pasokan air di sejumlah wilayah yang bergantung pada aliran sungai.

Bendung Katulampa selama ini dikenal sebagai salah satu titik pemantauan penting untuk mendeteksi potensi banjir kiriman menuju Jakarta. Saat musim hujan, kenaikan tinggi muka air di bendung menjadi indikator awal yang terus dipantau oleh pemerintah dan masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Memasuki puncak musim kemarau, kondisi justru berbalik. Debit air terus menurun hingga mencapai titik terendah dalam beberapa waktu terakhir.

BMKG Prediksi Puncak Kemarau Berlangsung Juli–September

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga September 2026. Curah hujan yang rendah di sejumlah daerah menyebabkan potensi kekeringan meteorologis meningkat, terutama di wilayah Jawa. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak musim kemarau.

Sejumlah media nasional pada Juli 2026 juga menaruh perhatian terhadap penurunan debit sungai di berbagai daerah akibat berkurangnya intensitas hujan selama musim kemarau. Fenomena ini dinilai menjadi salah satu indikator dampak perubahan pola cuaca yang terjadi pada tahun ini.

Pemantauan Terus Dilakukan

Petugas Bendung Katulampa memastikan pemantauan tinggi muka air tetap dilakukan selama 24 jam. Langkah tersebut penting mengingat perubahan cuaca di kawasan hulu dapat memengaruhi debit Sungai Ciliwung dalam waktu relatif singkat.

Masyarakat diimbau tidak lengah meski kondisi sungai sedang surut. Memasuki masa peralihan musim, hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi secara lokal dan berpotensi meningkatkan debit sungai secara tiba-tiba.

Di sisi lain, kondisi Bendung Katulampa yang mengering menjadi pengingat bahwa musim kemarau memberikan dampak nyata terhadap ketersediaan sumber daya air. Pengelolaan air yang efisien dan konservasi daerah resapan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air sekaligus mengurangi risiko kekeringan pada musim kemarau berikutnya.

Ditulis oleh T.S

Komentar