Frame Daily, Jakarta - UMKM negara tetangga di kawasan ASEAN mempercepat digitalisasi, akses pasar, dan perdagangan lintas batas untuk memperkuat posisi di tengah persaingan regional. Perkembangan tersebut membuka peluang kemitraan bagi pelaku usaha Indonesia, sekaligus menuntut peningkatan daya saing produk lokal di pasar Asia Tenggara.
Dinamika UMKM negara tetangga menjadi penting bagi Indonesia karena negara-negara ASEAN semakin mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah masuk ke rantai pasok regional serta pasar global. Marketplace, pembayaran digital, promosi melalui media sosial, dan perbaikan logistik menjadi bagian dari strategi yang digunakan untuk memperluas jangkauan konsumen.
UMKM negara tetangga di Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, dan Myanmar memiliki karakter pasar yang beragam. Kondisi itu memberi ruang bagi pelaku usaha Indonesia untuk menjalin kerja sama perdagangan, distribusi, produksi, hingga promosi produk lintas negara.
Kementerian Perdagangan mendorong UMKM Indonesia agar memanfaatkan pasar ASEAN sebagai pintu masuk ekspor. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai pelaku usaha perlu mengenali kebutuhan konsumen di kawasan agar produk Indonesia dapat bersaing secara lebih terarah.
“Kami harap para pelaku UMKM dapat lebih mengenal pasar negara ASEAN. Kita juga perlu mengoptimalkan momentum AOSD 2025 untuk membawa UMKM Indonesia agar lebih dikenal di pasar global,” kata Budi Santoso beberapa waktu lalu.
Perkembangan UMKM negara tetangga juga terkait agenda integrasi ekonomi ASEAN. Kawasan ini tidak hanya diposisikan sebagai pasar besar, melainkan sebagai basis produksi yang dapat menghubungkan pelaku usaha kecil dengan jaringan perdagangan internasional.
Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Filipina sekaligus pejabat Kementerian Perdagangan dan Industri atau DTI, Allan Gepty, menyebut ASEAN perlu menjaga kelancaran perdagangan agar pelaku usaha lokal dapat memperluas akses ke pasar global.
“ASEAN adalah komunitas ekonomi yang diposisikan bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pusat produksi,” kata Allan Gepty, seperti dikutip dari siaran ASEAN Filipina 2026 yang diberitakan ANTARA.
Digitalisasi Mengubah Cara UMKM ASEAN Berjualan
Digitalisasi menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan UMKM di negara-negara ASEAN. Pelaku usaha kecil kini dapat menjual barang kepada konsumen lintas kota bahkan lintas negara tanpa harus membuka toko fisik di setiap wilayah pemasaran.
Teknologi digital digunakan untuk membuat katalog produk, menerima pesanan, memproses pembayaran, mengelola stok, dan membangun komunikasi dengan pelanggan. Perubahan tersebut membuat biaya promosi lebih fleksibel, terutama bagi usaha yang baru memulai penjualan di pasar regional.
ASEAN bersama Japan-ASEAN Integration Fund atau JAIF juga memperkenalkan Digital Readiness Assessment Tool untuk membantu UMKM menilai kesiapan transformasi digital. Alat ini ditujukan untuk membantu pelaku usaha mengidentifikasi kesenjangan pada aspek teknologi, sumber daya manusia, produk, dan proses bisnis.
Program tersebut menjadi relevan karena tidak semua UMKM negara tetangga memiliki tingkat kesiapan digital yang sama. Ketersediaan jaringan internet, kemampuan penggunaan teknologi, keamanan transaksi, serta biaya perangkat masih menjadi persoalan bagi usaha kecil di sejumlah wilayah.
Data Asian Development Bank dalam Asia Small and Medium-Sized Enterprise Monitor 2025 menunjukkan UMKM di 26 negara Asia dan Pasifik mencakup rata-rata 99,8 persen dari seluruh perusahaan. Kelompok usaha tersebut menyerap rata-rata 67,6 persen tenaga kerja dan menyumbang sekitar 38,7 persen terhadap keluaran ekonomi nasional di negara-negara yang datanya tersedia.
Angka itu memperlihatkan UMKM memiliki posisi sentral dalam ekonomi kawasan. Penguatan kapasitas digital menjadi salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas keterlibatan pelaku usaha kecil dalam perdagangan lintas negara.
Pasar ASEAN Jadi Peluang Ekspor Indonesia
Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan pertumbuhan UMKM negara tetangga melalui kemitraan bisnis dan perluasan ekspor. Produk kuliner, kopi, rempah, fesyen muslim, kerajinan, furnitur, kosmetik, serta produk halal dapat dipasarkan dengan menyesuaikan kebutuhan di tiap negara tujuan.
Kedekatan geografis dan budaya menjadi modal bagi Indonesia untuk memasuki sejumlah pasar ASEAN. Malaysia dan Brunei Darussalam, misalnya, memiliki kedekatan dalam kebutuhan produk halal, sedangkan Singapura dapat menjadi pasar dengan daya beli tinggi dan standar produk yang ketat.
Kementerian Perdagangan mencatat program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor atau UMKM BISA Ekspor memfasilitasi 1.217 pelaku usaha sepanjang 2025. Nilai transaksi yang tercatat mencapai 134,87 juta dolar AS atau setara Rp2,27 triliun.
Budi Santoso mengatakan capaian tersebut menunjukkan produk UMKM Indonesia memiliki peluang diterima di pasar internasional. Transaksi program itu terdiri atas purchase order senilai 57,45 juta dolar AS dan potensi transaksi sebesar 77,42 juta dolar AS.
“Capaian ini membuktikan UMKM Indonesia punya kesempatan bersaing untuk diterima di pasar internasional,” ujar Budi dalam keterangan Kementerian Perdagangan yang dikutip ANTARA pada Februari 2026.
Pelaku usaha tetap perlu memperhatikan persyaratan di negara tujuan. Ketentuan bea cukai, label produk, keamanan pangan, sertifikasi halal, standar mutu, hak kekayaan intelektual, dan biaya logistik dapat menentukan kelancaran ekspor.
Kerja Sama BIMP-EAGA dan Rantai Pasok Regional
Kerja sama subregional Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Filipina East ASEAN Growth Area atau BIMP-EAGA menjadi salah satu ruang penguatan hubungan UMKM antarnegara tetangga. Forum ini berfokus pada peningkatan konektivitas, perdagangan, investasi, dan pembangunan wilayah.
Indonesia memegang keketuaan BIMP-EAGA untuk periode 2025–2028. Posisi tersebut memberi kesempatan bagi pemerintah untuk mendorong agenda penguatan usaha kecil, pengembangan produk lokal, serta perluasan jejaring bisnis di kawasan timur ASEAN.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman mengatakan UMKM memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Ia menilai pelaku usaha kecil telah menunjukkan kemampuan bertahan dan beradaptasi dalam berbagai situasi ekonomi.
“UMKM merupakan tulang punggung perekonomian di Indonesia. Mereka telah membuktikan daya saing melalui fleksibilitas, kreativitas, dan ketahanan di masa krisis,” kata Bagus Rachman di Badung, Bali, pada Agustus 2025.
Kerja sama dengan UMKM negara tetangga dapat diwujudkan melalui pameran dagang, business matching, distribusi bersama, kemitraan produksi, serta promosi lintas platform digital. Skema tersebut dapat membantu pelaku usaha mengurangi hambatan saat memasuki pasar baru.
Bagi pelaku usaha Indonesia, kerja sama tidak selalu berarti menjual produk langsung kepada konsumen akhir. Kemitraan dapat dilakukan dengan distributor lokal, importir, penyedia logistik, pelaku ritel, atau usaha lain yang membutuhkan bahan baku dan produk pendukung.
Pembiayaan dan Standar Masih Jadi Tantangan
Akses pembiayaan masih menjadi tantangan yang dihadapi UMKM di kawasan ASEAN. Modal diperlukan untuk meningkatkan produksi, membeli bahan baku, memperbaiki kemasan, memenuhi pesanan besar, dan menanggung biaya pengiriman lintas negara.
Pelaku usaha yang ingin masuk pasar ekspor juga perlu menjaga arus kas. Proses produksi dan pengiriman membutuhkan waktu, sedangkan pembayaran dari pembeli dapat mengikuti kesepakatan yang berbeda pada setiap transaksi.
Standar mutu menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Produk harus memiliki kualitas yang konsisten, informasi yang akurat, kemasan aman, dan mekanisme pengiriman yang dapat dipantau oleh pembeli.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Siti Azizah menyampaikan UMKM Indonesia perlu mampu berkompetisi di tingkat ASEAN dan global. Pernyataan itu disampaikan saat membacakan pidato Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam kegiatan ImpactPreneurs Summit 2025.
“Kemenangan sejati adalah tentang keberanian memulai, ketangguhan bertahan, serta menciptakan dampak nyata bagi masyarakat,” kata Siti Azizah.
Penguatan kapasitas pelaku usaha membutuhkan dukungan dari pemerintah, lembaga pembiayaan, asosiasi bisnis, perguruan tinggi, dan platform digital. Pendampingan ekspor, sertifikasi, akses pembiayaan, serta pelatihan pemasaran dapat membantu UMKM memenuhi tuntutan pasar regional.
ASEAN terus mendorong partisipasi UMKM lokal untuk menembus pasar global dan memperkuat daya saing ekonomi kawasan. Perkembangan terbaru yang telah dikonfirmasi mencakup dukungan ASEAN terhadap perluasan akses pasar bagi usaha kecil serta keberlanjutan kepemimpinan Indonesia dalam BIMP-EAGA periode 2025–2028.
Komentar