Produk UMKM Kerajinan Badui Go Digital, Omzet Naik Drastis

UMKM Badui di Lebak memasarkan produk kerajinan secara digital untuk memperluas pasar, meningkatkan omzet, dan menjangkau pembeli mancanegara.

Produk UMKM Kerajinan Badui Go Digital, Omzet Naik Drastis
Ilustrasi. Pengrajin UMKM Badui memasarkan produknya ke konsumen. (ANTARA)

Frame Daily, Lebak – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, memperluas pemasaran produk kerajinan melalui platform digital. Strategi tersebut dilakukan untuk membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan omzet ekonomi masyarakat adat.

Pemasaran UMKM, produk kerajinan, digital menjadi perhatian pemerintah daerah karena sebagian perajin Badui telah mulai menjual hasil produksi secara daring. Produk yang sebelumnya banyak dipasarkan kepada wisatawan atau pembeli yang datang langsung ke kawasan Badui kini dapat dijangkau konsumen dari berbagai daerah.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Imam Suangsa mengatakan pemerintah daerah mendukung pengembangan UMKM masyarakat Badui melalui bantuan produksi, promosi, pemasaran, serta pelatihan digital. Dukungan itu diarahkan agar pelaku usaha mampu memanfaatkan perubahan pola belanja masyarakat.

“Kami berharap produk UMKM masyarakat Badui dapat memasarkan melalui digital, sehingga bisa meningkatkan omzet pendapatan,” kata Imam di Lebak, Rabu, 24 Juni 2026, dikutip dari ANTARA.

Pengembangan UMKM, produk kerajinan, digital dinilai penting karena kerajinan masyarakat Badui memiliki ciri khas yang kuat. Kain tenun, tas koja, selendang adat, dan berbagai produk berbasis tradisi menjadi komoditas yang diminati karena nilai budaya serta harga yang relatif terjangkau.

Pemerintah Kabupaten Lebak menilai pemasaran digital dapat menjadi jembatan antara perajin di kawasan adat dengan konsumen di luar daerah. Langkah tersebut juga diharapkan tidak menghilangkan nilai tradisi yang melekat pada setiap produk kerajinan masyarakat Badui.

Potensi Dua Ribu UMKM di Kawasan Badui

Tetua Adat Badui sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menyebut sebagian pelaku UMKM masyarakat Badui telah menggunakan teknologi digitalisasi untuk menjual produk. Aktivitas usaha masyarakat adat berkembang di 68 perkampungan yang berada di kawasan Badui.

Ia memperkirakan terdapat sekitar 2.000 unit UMKM yang menghasilkan aneka produk kerajinan dan kebutuhan sehari-hari. Jumlah tersebut menunjukkan peran ekonomi kreatif berbasis budaya dalam menopang penghidupan warga di wilayah pedalaman Lebak.

Produk UMKM, produk kerajinan, digital dari masyarakat Badui mencakup kain tenun, batik, selendang adat, ikat lomar, tas koja, batik chanting Badui, cendera mata, baju, madu, hingga celana kampret. Setiap jenis barang memiliki karakter bahan, proses pembuatan, dan nilai jual yang berbeda.

Harga produk kerajinan Badui berkisar Rp20.000 hingga Rp1,5 juta. Rentang harga tersebut bergantung pada jenis, ukuran, bahan baku, tingkat kerumitan pengerjaan, serta kualitas produk yang ditawarkan kepada konsumen.

Jaro Oom mengatakan pemasaran digital telah digunakan oleh sebagian pelaku usaha, meski belum seluruh perajin memanfaatkan kanal daring. Ia berharap penggunaan teknologi dapat diperluas tanpa mengabaikan ketentuan adat yang berlaku di wilayah Badui.

“Karena itu, pihaknya ke depan semua produk masyarakat Badui bisa dipasarkan melalui digital,” kata Jaro Oom.

Akses Pasar Domestik hingga Mancanegara

Pemasaran UMKM, produk kerajinan, digital dipandang mampu memperluas jaringan penjualan hingga pasar domestik dan mancanegara. Kanal daring memungkinkan pembeli melihat katalog produk, menanyakan harga, serta melakukan pemesanan tanpa harus datang ke Kabupaten Lebak.

Jaro Oom menyebut sejumlah platform yang diharapkan dapat dimanfaatkan pelaku UMKM Badui, antara lain Tokopedia, Shopee, Facebook Marketplace, Lazada, Instagram, YouTube, dan X. Pemanfaatan berbagai saluran tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan pelaku usaha serta pendampingan yang tersedia.

“Kami berharap produk Badui itu ada di aplikasi Tokopedia, Shopee, Marketplace, Facebook, Lazada, Instagram, YouTube dan Twitter,” ujarnya.

Kehadiran produk kerajinan di ruang digital berpotensi mempertemukan perajin dengan pembeli yang mencari barang bernilai budaya. Bagi konsumen, akses daring juga memudahkan pencarian informasi mengenai jenis produk, harga, dan pihak yang menjualnya.

Pemerintah daerah menempatkan pelatihan digital sebagai bagian penting dari penguatan kapasitas pelaku UMKM. Materi pendampingan dapat mencakup pengelolaan katalog, fotografi produk, komunikasi dengan pelanggan, pencatatan pesanan, hingga pemahaman keamanan transaksi.

Kebutuhan peningkatan literasi digital tetap menjadi tantangan bagi pelaku usaha di kawasan pedalaman. Ketersediaan jaringan internet, perangkat pendukung, kemampuan pengoperasian aplikasi, serta pengelolaan distribusi menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan penjualan daring.

Pemasaran Daring Membantu Permintaan Pasar

Salah seorang pelaku UMKM masyarakat Badui, Amir, mengatakan dirinya telah memasarkan produk kerajinan melalui media sosial. Ia menilai penggunaan teknologi digital membantu memperluas jangkauan promosi dan mendorong kenaikan permintaan dari pembeli di berbagai daerah.

Menurut Amir, pengenalan pemasaran digital bagi pelaku usaha Badui telah dilakukan sejak PT Telkom Indonesia meluncurkan program “Kampung UKM Digital” pada 2016. Program tersebut membuka kesempatan bagi produk kerajinan Badui untuk diperkenalkan melalui jaringan internet.

“Produk UKM kerajinan Badui dapat dibuka dalam jaringan secara online sehingga bisa diakses oleh masyarakat luas hingga mancanegara,” kata Amir.

Ia mengatakan pemasaran UMKM, produk kerajinan, digital memberi dampak pada peningkatan pesanan. Penjualan tidak lagi hanya bergantung pada kunjungan wisatawan atau pembeli yang datang ke kawasan Badui secara langsung.

“Kami sangat terbantu melalui pemasaran digital karena permintaan pasar cenderung meningkat dan bisa menghasilkan pendapatan relatif lumayan,” ujar Amir.

Digitalisasi juga dapat membantu pelaku usaha menjaga hubungan dengan pelanggan yang pernah membeli produk. Konsumen dapat kembali melakukan pemesanan melalui pesan singkat atau akun media sosial, sehingga peluang transaksi berulang terbuka lebih besar.

Meski demikian, pertumbuhan penjualan daring perlu diikuti penguatan kualitas produk dan pelayanan. Pelaku usaha perlu menjaga keaslian produk, ketepatan informasi, proses pengemasan, serta pengiriman agar kepercayaan pembeli tetap terpelihara.

Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Pasar

Produk kerajinan Badui tidak hanya memiliki fungsi ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan identitas budaya masyarakat adat. Kain tenun, pakaian, dan aksesoris tertentu mengandung corak serta proses pengerjaan yang menjadi bagian dari pengetahuan lokal.

Karena itu, pengembangan UMKM perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap aturan adat. Pemasaran digital dapat memperluas pasar, sedangkan nilai budaya dan ketentuan komunitas tetap menjadi dasar dalam menentukan produk yang dapat diperjualbelikan.

Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak menyatakan akan terus membantu promosi serta pengembangan kapasitas pelaku usaha masyarakat Badui. Pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat produksi dan pemasaran tanpa mengubah karakter khas produk kerajinan lokal.

Penguatan UMKM berbasis budaya juga berpotensi memberi dampak ekonomi bagi keluarga perajin di 68 perkampungan Badui. Ketika akses pasar bertambah, peluang pendapatan dari hasil tenun, tas, cendera mata, madu, dan produk lain dapat semakin terbuka.

Pemerintah daerah dan komunitas adat masih mendorong pemanfaatan kanal digital secara bertahap. Langkah lanjutan yang telah disampaikan adalah memperluas pelatihan digital serta promosi produk kerajinan Badui agar lebih banyak pelaku UMKM dapat menjangkau pasar nasional hingga internasional.**

Ditulis oleh IR

Komentar