Frame Daily, Jakarta – Bergabungnya Indonesia dalam kerja sama BRICS membuka peluang baru bagi perluasan pasar ekspor nasional. Blok ekonomi yang kini beranggotakan sejumlah negara berkembang besar tersebut mewakili pangsa ekonomi dan populasi dunia yang sangat besar, sehingga dipandang sebagai salah satu pasar potensial bagi produk Indonesia.
Namun, peluang tersebut tidak otomatis menjamin lonjakan ekspor. Di tengah perlambatan perdagangan global dan persaingan yang semakin ketat, kemampuan Indonesia memanfaatkan pasar BRICS akan sangat bergantung pada daya saing produk, efisiensi logistik, hingga kemampuan pelaku usaha memenuhi standar di masing-masing negara tujuan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar, naik 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus neraca perdagangan selama periode tersebut tercatat US$4,03 miliar, yang terutama ditopang ekspor nonmigas.
Kinerja tersebut menunjukkan ekspor Indonesia masih tumbuh, meski menghadapi tekanan dari perlambatan permintaan di sejumlah pasar utama dunia. Dalam kondisi seperti ini, diversifikasi pasar menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga momentum perdagangan.
BRICS Menawarkan Pasar Besar, tetapi Tidak Mudah Dimasuki
BRICS berkembang menjadi salah satu blok ekonomi dengan pengaruh besar dalam perdagangan internasional. Negara-negara anggotanya memiliki kebutuhan impor yang beragam, mulai dari komoditas energi, produk pertanian, makanan olahan, mineral, hingga produk manufaktur.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut membuka peluang untuk memperluas ekspor berbagai komoditas unggulan seperti minyak sawit, karet, batu bara, produk perikanan, kopi, kakao, hingga produk hilir berbasis nikel. Di sisi lain, pemerintah juga ingin meningkatkan porsi ekspor produk manufaktur yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Keuntungan lain dari penguatan hubungan dengan BRICS adalah terbukanya ruang kerja sama investasi, pengembangan industri, serta integrasi rantai pasok. Sejumlah forum BRICS dalam beberapa tahun terakhir juga semakin banyak membahas kolaborasi di bidang industri, transformasi digital, energi bersih, hingga pengembangan usaha kecil dan menengah.
Namun, pasar besar tidak berarti mudah dimasuki. Setiap negara anggota BRICS memiliki karakteristik ekonomi, regulasi, serta kebutuhan pasar yang berbeda. China dan India, misalnya, merupakan pasar raksasa, tetapi juga memiliki industri domestik yang sangat kompetitif. Brasil dan Afrika Selatan memiliki keunggulan pada sejumlah komoditas pertanian dan sumber daya alam yang bersaing langsung dengan produk Indonesia.
Di sisi lain, perluasan anggota BRICS juga membuat persaingan semakin terbuka karena negara-negara anggota baru turut menawarkan produk unggulan masing-masing. Kondisi ini menuntut pelaku usaha Indonesia tidak hanya mengandalkan harga, tetapi juga kualitas, kontinuitas pasokan, serta kemampuan memenuhi standar teknis dan keberlanjutan yang berlaku di negara tujuan.
Peluang Ekspor Harus Diikuti Peningkatan Daya Saing
Penguatan hubungan dagang melalui BRICS akan memberikan manfaat apabila mampu diikuti peningkatan daya saing nasional. Infrastruktur logistik, efisiensi pelabuhan, biaya distribusi, kemudahan ekspor, hingga kemampuan industri menghasilkan produk bernilai tambah menjadi faktor yang menentukan.
Data perdagangan Indonesia menunjukkan ekspor masih didominasi komoditas berbasis sumber daya alam. Di saat yang sama, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar nilai tambah dapat dinikmati di dalam negeri sebelum produk dikirim ke pasar internasional.
Diversifikasi pasar juga menjadi penting mengingat permintaan dari beberapa mitra dagang tradisional mengalami perlambatan. Reuters melaporkan bahwa pelemahan permintaan dari China menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja perdagangan Indonesia pada tahun ini, meskipun ekspor komoditas seperti produk nikel dan minyak sawit masih memberikan dukungan terhadap nilai ekspor nasional.
Artinya, BRICS dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperluas pasar, tetapi bukan satu-satunya solusi. Keberhasilan Indonesia akan lebih ditentukan oleh kemampuan memperkuat industri nasional, memperbesar porsi ekspor manufaktur, serta meningkatkan daya saing produk agar mampu bersaing dengan produsen dari negara anggota BRICS lainnya.
Selain itu, peluang investasi yang lahir dari kerja sama BRICS juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas produksi di dalam negeri. Investasi pada sektor manufaktur, pengolahan mineral, industri pangan, hingga teknologi berpotensi meningkatkan kualitas ekspor Indonesia dalam jangka panjang.
Bagi pelaku usaha, perluasan pasar melalui BRICS sebaiknya dipandang sebagai momentum untuk membangun strategi ekspor yang lebih beragam. Ketergantungan pada satu atau dua negara tujuan dapat dikurangi apabila perusahaan mampu memasuki pasar baru dengan produk yang sesuai kebutuhan konsumen setempat.
Komentar