Hujan Lebat Mendadak, Penyakit Apa yang Perlu Diwaspadai?

Hujan lebat yang datang mendadak bukan hanya meningkatkan risiko banjir dan genangan. Perubahan kondisi lingkungan juga dapat memicu berbagai risiko kesehatan, mulai dari DBD hingga penyakit akibat air tercemar.

Hujan Lebat Mendadak, Penyakit Apa yang Perlu Diwaspadai?
Ilustrasi Warga beraktivitas di tengah hujan lebat dan genangan air. Setelah hujan ekstrem, masyarakat perlu mewaspadai risiko kesehatan yang berkaitan dengan genangan, kualitas air, nyamuk, dan kondisi sanitasi lingkungan.( foto/AI/framedaily.id)

FrameDaily, Jakarta -Hujan lebat yang turun secara mendadak dapat mengubah kondisi lingkungan dalam waktu singkat. Genangan muncul, saluran air meluap, kelembapan meningkat, sementara kualitas air dan kebersihan lingkungan dapat terganggu.

Kondisi tersebut bukan hanya persoalan banjir. Setelah hujan lebat, sejumlah risiko kesehatan juga perlu diperhatikan masyarakat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara berkala mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, petir, dan angin kencang. Dinamika atmosfer dapat membuat kondisi cuaca berubah cepat di sejumlah wilayah Indonesia.

Dari sisi kesehatan, perubahan lingkungan setelah hujan lebat dapat menciptakan kondisi yang mendukung penularan sejumlah penyakit.

1. Demam Berdarah Dengue

Genangan air menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah hujan.

Air yang tertampung di berbagai wadah dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, vektor utama virus dengue.

Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa musim hujan dan kondisi banjir dapat meningkatkan risiko DBD karena banyaknya genangan yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Masyarakat perlu mewaspadai gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, serta munculnya tanda perdarahan.

Namun, gejala demam tidak boleh langsung dianggap sebagai DBD. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

2. Diare Akibat Air atau Makanan Terkontaminasi

Hujan lebat dan banjir dapat mengganggu sumber air bersih.

Air yang tercemar limbah atau kotoran dapat membawa mikroorganisme penyebab penyakit. Risiko juga meningkat ketika makanan atau peralatan makan terkena air kotor.

WHO menjelaskan bahwa air minum yang terkontaminasi dan sanitasi yang buruk berkaitan dengan penularan berbagai penyakit, termasuk diare, disentri, kolera, hepatitis A, dan tifoid.

Karena itu, masyarakat sebaiknya memastikan air minum berasal dari sumber yang aman dan menjaga makanan tetap tertutup serta terlindung dari kontaminasi.

3. Leptospirosis Setelah Banjir

Salah satu penyakit yang perlu diperhatikan terutama setelah banjir adalah leptospirosis.

Penyakit ini disebabkan bakteri Leptospira yang dapat menyebar melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus.

WHO memasukkan leptospirosis sebagai salah satu risiko penyakit yang dapat muncul dalam kondisi banjir dan keadaan darurat ketika air serta sanitasi mengalami gangguan.

Risiko dapat meningkat ketika seseorang memiliki luka terbuka dan kontak langsung dengan air banjir yang terkontaminasi.

Karena itu, masyarakat sebaiknya menggunakan alas kaki dan pelindung yang sesuai ketika harus melewati atau membersihkan area yang terkena banjir.

4. ISPA dan Gangguan Pernapasan

Hujan dan perubahan suhu juga dapat memengaruhi kondisi saluran pernapasan, terutama pada orang yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Kementerian Kesehatan memasukkan ISPA sebagai salah satu penyakit yang dapat muncul pada periode perubahan musim atau pancaroba. Selain perubahan suhu, debu dan kondisi lingkungan juga dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Risiko juga perlu diperhatikan ketika masyarakat harus tinggal sementara di tempat pengungsian yang padat.

WHO mencatat bahwa kondisi lingkungan yang terlalu padat dalam situasi darurat dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap penyakit pernapasan dan sejumlah penyakit menular lainnya.

5. Penyakit Kulit

Kontak dengan air kotor, kelembapan tinggi dan pakaian yang terus-menerus basah dapat menyebabkan masalah pada kulit.

Kondisi tersebut dapat menjadi lebih bermasalah apabila kebersihan tubuh dan lingkungan sulit dijaga.

Karena itu, setelah terkena hujan atau banjir, masyarakat sebaiknya segera membersihkan tubuh menggunakan air bersih dan mengganti pakaian yang basah.

Luka pada kulit juga perlu dibersihkan dan dijaga agar tidak terkontaminasi.

Tips Menjaga Kesehatan Tubuh Saat Cuaca Panas Frame Daily
Tips menjaga kesehatan tubuh di tengah cuaca panas penting untuk mencegah dehidrasi dan heatstroke. Simak cara menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Mengapa Setelah Hujan Risiko Penyakit Bisa Berubah?

Hujan itu sendiri bukan penyebab langsung seluruh penyakit tersebut.

Yang berubah adalah lingkungan setelah hujan.

Genangan dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Air banjir dapat membawa kontaminan. Saluran pembuangan dapat meluap. Sampah dapat berpindah dan menumpuk. Sementara kelembapan dan kepadatan manusia dapat menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran penyakit tertentu.

WHO menyebut banjir berpotensi meningkatkan penularan penyakit yang ditularkan melalui air maupun vektor. Kontaminasi sumber air minum dan genangan yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk merupakan dua risiko penting setelah banjir.

Jangan Tunggu Sampai Sakit

Pencegahan dapat dilakukan sejak sebelum maupun setelah hujan lebat.

Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana:

  • Menguras dan menutup tempat penampungan air.
  • Menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air hujan.
  • Menggunakan obat atau perlindungan terhadap gigitan nyamuk bila diperlukan.
  • Memastikan air minum aman.
  • Menjaga makanan tetap tertutup.
  • Mencuci tangan dengan sabun.
  • Menggunakan alas kaki ketika berada di area yang tergenang.
  • Membersihkan rumah dan lingkungan setelah banjir surut.
  • Segera mengganti pakaian yang basah.

Langkah pemberantasan sarang nyamuk menjadi penting karena genangan air setelah hujan dapat menyediakan tempat bagi Aedes aegypti berkembang biak. Kemenkes juga menekankan pentingnya pencegahan DBD melalui pengendalian tempat perkembangbiakan nyamuk.

Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?

Masyarakat sebaiknya tidak menunggu kondisi memburuk apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan setelah hujan atau banjir.

Demam tinggi, diare berulang, muntah terus-menerus, tubuh sangat lemas, sesak napas, penurunan kesadaran, perdarahan, atau keluhan lain yang berat membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.

Khusus setelah kontak dengan air banjir, demam yang disertai keluhan lain juga perlu diperhatikan karena beberapa penyakit memiliki gejala awal yang mirip.

Pemeriksaan diperlukan agar penyebab penyakit dapat diketahui dan penanganan diberikan sesuai kondisi pasien.

Cuaca Berubah, Kewaspadaan Kesehatan Juga Harus Berubah

Indonesia merupakan negara tropis dengan dinamika cuaca yang dapat berubah cepat.

BMKG mencatat kondisi atmosfer tertentu dapat memicu hujan lebat, petir dan angin kencang di sejumlah wilayah. Karena itu, masyarakat tidak hanya perlu memperhatikan informasi cuaca ketika hendak bepergian, tetapi juga memahami dampak kesehatan setelah hujan ekstrem terjadi.

Dari perspektif kesehatan, kewaspadaan tidak berhenti ketika hujan reda.

Genangan harus segera dikendalikan, sumber air harus dijaga, lingkungan perlu dibersihkan, dan gejala penyakit perlu dikenali sejak dini.

Hujan lebat tidak otomatis membuat seseorang sakit. Namun, perubahan lingkungan yang menyertainya dapat meningkatkan risiko penyakit tertentu. Karena itu, menjaga kebersihan, keamanan air dan makanan, serta menghindari kontak dengan air tercemar menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan keluarga.


Sumber: BMKG, Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization (WHO).

Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan informasi kesehatan berbasis sumber resmi dan bukan pengganti diagnosis medis. Risiko penyakit dapat berbeda menurut kondisi wilayah, lingkungan, dan individu. Jika mengalami gejala berat atau kondisi memburuk, segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar