Frame Daily, Tangerang — Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2026 tidak hanya menjadi panggung peluncuran mobil baru. Pameran yang berlangsung di ICE BSD City, Tangerang, pada 30 Juli hingga 9 Agustus 2026 itu juga memperlihatkan persaingan terbuka antarberbagai teknologi elektrifikasi.
Pasar tidak lagi hanya terbagi antara kendaraan bermesin bensin dan mobil listrik murni. Konsumen kini dihadapkan pada pilihan Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), hingga Range-Extended Electric Vehicle (REEV).
Masing-masing menawarkan pendekatan berbeda. BEV sepenuhnya bergantung pada baterai, hybrid mengombinasikan mesin bensin dan motor listrik tanpa pengisian eksternal, PHEV dapat diisi melalui sumber listrik, sedangkan REEV menggunakan mesin bensin sebagai generator untuk memasok energi ke motor listrik.
Baca juga: Apa Bedanya BEV, Hybrid, PHEV, dan REEV? Ini Penjelasannya.
Pabrikan Menempuh Jalur Berbeda
Beragamnya teknologi yang tampil di GIIAS 2026 menunjukkan bahwa pabrikan belum bertaruh pada satu sistem penggerak.
Sebagian produsen mendorong mobil listrik murni sebagai tujuan utama elektrifikasi. Namun, pabrikan lain masih melihat hybrid, PHEV, dan REEV sebagai pilihan yang lebih realistis untuk menghadapi perbedaan infrastruktur, pola perjalanan, dan daya beli konsumen Indonesia.
Persaingan pun tidak lagi hanya mengenai tenaga, kapasitas baterai, atau jarak tempuh. Pabrikan harus meyakinkan konsumen bahwa teknologi yang ditawarkan mudah digunakan, ekonomis, memiliki jaringan bengkel, serta tetap bernilai saat dijual kembali.
Hybrid Menawarkan Kemudahan Adaptasi
Mitsubishi menjadi salah satu pabrikan yang memperkuat pilihan hybrid melalui New Mitsubishi Xforce HEV.
Teknologi hybrid relatif mudah diterima karena pengguna tidak perlu mengubah kebiasaan secara drastis. Kendaraan tetap diisi bahan bakar di SPBU, sedangkan motor listrik dan baterai membantu meningkatkan efisiensi dalam kondisi tertentu.
Karakter tersebut dapat menarik konsumen yang ingin mengurangi konsumsi bahan bakar tetapi belum memiliki akses rutin ke fasilitas pengisian kendaraan listrik.
Hybrid juga menawarkan fleksibilitas lebih tinggi untuk perjalanan antarkota karena tidak bergantung pada ketersediaan SPKLU.
Baca juga: Hybrid atau Mobil Listrik, Mana Lebih Cocok untuk Perjalanan Jauh?
PHEV Menggabungkan Listrik dan Bensin
Teknologi PHEV menawarkan pendekatan berbeda. Kendaraan dapat menggunakan energi baterai untuk perjalanan harian, tetapi tetap memiliki mesin bensin ketika daya menurun atau perjalanan lebih panjang diperlukan.
Salah satu model yang menjadi perhatian adalah DFSK E5 Plus PHEV. Kehadirannya memperlihatkan bahwa teknologi plug-in hybrid mulai ditawarkan pada segmen SUV keluarga, bukan hanya kendaraan premium.
Keunggulan PHEV sangat bergantung pada pola penggunaan. Apabila pemilik rutin mengisi baterai, perjalanan harian dapat lebih banyak menggunakan tenaga listrik. Namun, apabila baterai jarang diisi, kendaraan akan lebih sering mengandalkan mesin bensin sehingga manfaat elektrifikasinya berkurang.
REEV Mencoba Menjawab Kekhawatiran Jarak Tempuh
REEV menjadi salah satu teknologi yang mulai mencuri perhatian, terutama melalui produk dari pabrikan China seperti Deepal S05.
Pada sistem REEV, motor listrik tetap menjadi penggerak roda. Mesin bensin tidak menyalurkan tenaga langsung ke roda, tetapi berfungsi sebagai generator untuk menghasilkan listrik ketika kapasitas baterai menurun.
Teknologi ini menawarkan pengalaman berkendara elektrik tanpa membuat pengguna sepenuhnya bergantung pada jaringan pengisian daya.
Bagi konsumen yang rutin melakukan perjalanan jauh, pendekatan tersebut dapat mengurangi kekhawatiran kehabisan daya sebelum menemukan SPKLU.
Baca juga: Mengapa Pabrikan China Mulai Membawa REEV ke Indonesia?
BEV Tetap Unggul dalam Efisiensi
Di tengah munculnya berbagai teknologi perantara, BEV tetap memiliki keunggulan utama berupa sistem penggerak yang lebih sederhana dan tidak menghasilkan emisi knalpot saat digunakan.
Biaya energi mobil listrik juga dapat lebih rendah, terutama bagi pemilik yang dapat melakukan pengisian baterai di rumah. Penggunaan di perkotaan dengan jarak perjalanan terukur menjadi kondisi ideal bagi BEV.
Namun, kendaraan listrik murni masih menghadapi tantangan berupa harga pembelian, persebaran SPKLU, waktu pengisian, garansi baterai, dan kekhawatiran mengenai nilai jual kembali.
Kondisi tersebut membuat BEV belum otomatis menjadi pilihan terbaik bagi seluruh konsumen.
Harga dan Infrastruktur Menjadi Penentu
Teknologi paling canggih belum tentu menjadi teknologi yang paling cepat diterima pasar.
Di Indonesia, harga kendaraan tetap menjadi pertimbangan utama. Konsumen akan membandingkan selisih harga dengan potensi penghematan energi, biaya perawatan, garansi, serta layanan purna jual.
Infrastruktur juga menentukan. Pengguna dengan akses pengisian di rumah memiliki posisi lebih ideal untuk memakai BEV atau PHEV. Sebaliknya, konsumen yang tinggal di apartemen, tidak memiliki tempat parkir tetap, atau sering bepergian ke wilayah dengan fasilitas pengisian terbatas mungkin lebih memilih hybrid atau REEV.
Selain itu, keberhasilan setiap teknologi sangat bergantung pada kesiapan bengkel, ketersediaan suku cadang, teknisi tersertifikasi, dan kejelasan biaya penggantian baterai setelah masa garansi berakhir.
Belum Ada Pemenang Tunggal
GIIAS 2026 memperlihatkan bahwa transisi kendaraan elektrifikasi di Indonesia kemungkinan berlangsung melalui beberapa jalur sekaligus.
BEV berpotensi tumbuh kuat di kota besar. Hybrid tetap relevan bagi konsumen yang mengutamakan kemudahan. PHEV menawarkan fleksibilitas antara listrik dan bensin, sedangkan REEV mencoba menggabungkan karakter berkendara elektrik dengan jangkauan yang lebih panjang.
Baca juga: Apakah REEV Bisa Menjadi Jalan Tengah Transisi Kendaraan Listrik?
Pemenang persaingan ini tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Harga, kemudahan penggunaan, infrastruktur, biaya kepemilikan, serta kepercayaan terhadap layanan purna jual akan menentukan pilihan konsumen Indonesia.
Komentar