Frame Daily, Jakarta – Persaingan kecerdasan artifisial di Indonesia mulai bergerak ke lapisan yang lebih fundamental. Bukan lagi hanya permasalahan aplikasi atau model AI, tetapi tentang siapa yang menguasai pusat data, GPU, jaringan, dan pasokan listrik yang dibutuhkan untuk menjalankan komputasi berskala besar.
Sinyal itu terlihat dari keputusan perusahaan AI cloud asal Amerika Serikat, CoreWeave, yang memilih Indonesia sebagai lokasi ekspansi pusat data pertamanya di kawasan Asia-Pasifik. Perusahaan berencana membangun tiga fasilitas baru dengan total contracted IT power mencapai 360 megawatt (MW), yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Masuknya CoreWeave tentu bukan investasi pusat data biasa. Perusahaan tersebut membangun infrastrukturnya secara khusus untuk kebutuhan AI, mulai dari pelatihan model hingga inference. CoreWeave sendiri telah berkembang pesat seiring lonjakan permintaan komputasi AI global.
Baca juga: Startup Indonesia Ingin Naik Kelas, Ini Strategi Pemerintah
Pada kuartal I 2026, CoreWeave mencatat pendapatan US$2,08 miliar dan revenue backlog sebesar US$99,4 miliar. Perusahaan juga telah memiliki lebih dari 1 GW active power dan lebih dari 3,5 GW contracted power, yang menunjukkan skala kebutuhan komputasi yang sangat besar.
Indonesia Mulai Dilirik sebagai Basis AI Compute
CoreWeave masuk ke Indonesia tentu memperkuat indikasi bahwa posisi Indonesia dalam ekosistem AI mulai berubah. Selama ini, Indonesia lebih sering dilihat sebagai pasar pengguna teknologi digital. Kini, pemerintah justru mendorong pembangunan kapasitas komputasi agar Indonesia dapat mengambil bagian dalam rantai pasok AI global.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada Januari lalu menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat computing infrastructure, edge computing, dan cloud computing di dalam negeri sebagai modal untuk masuk ke pasar AI global.
Pemerintah kembali menekankan hal serupa pada Juli 2026. Nezar menyebut compute cluster sebagai salah satu kunci daya saing AI Indonesia, bersama penguatan talenta digital.
Arah kebijakan tersebut membuat ekspansi CoreWeave menjadi relevan. Dengan hadirnya penyedia AI cloud khusus, perusahaan dan pengembang lokal berpotensi memiliki akses yang lebih dekat terhadap infrastruktur komputasi berperforma tinggi tanpa sepenuhnya bergantung pada fasilitas di luar negeri.
Namun, peluang itu juga membawa tantangan baru. Data center AI membutuhkan pasokan listrik besar, sistem pendinginan yang kompleks, konektivitas berkecepatan tinggi, serta kepastian regulasi. Karena itu, kompetisi AI tidak bisa lagi dibaca hanya dari jumlah startup atau aplikasi yang tersedia.
Kementerian Komunikasi dan Digital bahkan menyebut persaingan AI global kini telah bergeser dari aplikasi menuju penguasaan infrastruktur seperti energi, pusat data, chip, komputasi, dan talenta.

Baca selengkapnya
Perang AI Berikutnya Ada di GPU dan Listrik
Besarnya kapasitas yang direncanakan CoreWeave menunjukkan satu hal: AI membutuhkan energi dalam skala yang semakin besar.
Data center tradisional memang membutuhkan listrik tinggi, tetapi beban kerja AI terutama pelatihan dan inference model besar yang memerlukan kepadatan komputasi yang jauh lebih tinggi. Semakin banyak GPU yang dioperasikan, semakin besar pula kebutuhan daya dan pendinginan. Di sinilah nilai strategis investasi infrastruktur AI muncul.
Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak data center, tetapi juga ekosistem yang mencakup pasokan energi, jaringan fiber, perangkat komputasi, sistem pendinginan, hingga talenta teknis yang mampu mengoperasikan infrastruktur tersebut.
Pemerintah sebelumnya juga telah memfasilitasi rencana investasi pusat data AI dan kuantum bernilai sekitar US$400 juta atau Rp6 triliun, yang ditujukan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat komputasi mutakhir di Asia.
Namun, pemerintah menegaskan investasi teknologi asing tidak boleh berhenti pada pembangunan fasilitas fisik. Komdigi meminta setiap investasi AI juga membawa transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem inovasi nasional.
Baca juga: Indonesia Bidik Pasar BRICS, Seberapa Besar Peluang Ekspor yang Bisa Direbut?
Bagi CoreWeave, Indonesia menawarkan pasar digital yang terus berkembang. Pemerintah memproyeksikan ekonomi digital nasional dapat melampaui US$100 miliar pada 2026 dan mencapai US$220–360 miliar pada 2030.
Dengan skala pasar tersebut, kebutuhan komputasi diperkirakan terus meningkat seiring semakin banyak perusahaan mengadopsi AI untuk otomasi, analitik, layanan pelanggan, manufaktur, hingga pengembangan produk.
Masuknya CoreWeave dengan tiga fasilitas baru sekaligus memperlihatkan bahwa perlombaan AI di Indonesia mulai naik kelas. Persaingan tidak lagi hanya terjadi pada siapa yang memiliki aplikasi terbaik, tetapi juga pada siapa yang memiliki kapasitas komputasi paling besar dan paling efisien.

Komentar