Frame Daily, Jakarta – PT Indika Energy Tbk (INDY) semakin mempertegas arah transformasi bisnisnya. Meski batubara masih menjadi penyumbang utama pendapatan perusahaan, hampir seluruh belanja modal pada Semester I-2026 justru diarahkan untuk memperkuat portofolio bisnis non-batubara.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Jumat (31/7/2026), Indika Energy mengalokasikan 99,1 persen dari total belanja modal sebesar US$83,1 juta untuk pengembangan bisnis non-batubara. Porsi terbesar investasi tersebut digunakan untuk mempercepat pembangunan Proyek Awak Mas, tambang emas yang diproyeksikan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru perusahaan.
Baca juga: Indika Energy Bukukan Laba US$10,2 Juta, Fokus Tinggalkan Batubara.
Awak Mas Jadi Fokus Investasi
Dari total belanja modal tersebut, sekitar US$71,4 juta dialokasikan untuk pengembangan Proyek Awak Mas di Sulawesi Selatan.
Hingga 30 Juni 2026, progres konstruksi proyek telah mencapai 60,63 persen menuju tahap Commissioning 2 (C2), dengan total investasi yang telah digelontorkan mencapai US$340 juta.
Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand mengatakan arah investasi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun portofolio usaha yang lebih beragam.
"Kinerja Semester I-2026 menunjukkan penguatan operasional di berbagai lini bisnis, tercermin dari pertumbuhan pendapatan, laba kotor, dan adjusted EBITDA. Pada saat yang sama, alokasi lebih dari 99 persen belanja modal ke bisnis non-batubara, terutama pengembangan proyek Awak Mas, menegaskan disiplin kami dalam membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi, resilien, dan berkelanjutan," ujar Azis Armand dalam keterangan resmi Indika Energy, Jumat (31/7/2026).
Batubara Masih Menjadi Penopang
Meski fokus investasi mulai bergeser, bisnis batubara tetap menjadi mesin utama pendapatan Perseroan.
Pada Semester I-2026, Kideco Jaya Agung membukukan pendapatan US$855,1 juta, naik 10,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut ditopang kenaikan harga jual rata-rata menjadi US$54,7 per ton dan volume penjualan mencapai 14,8 juta ton.
Secara keseluruhan, Indika Energy mencatat pendapatan konsolidasian sebesar US$1,146,9 miliar, tumbuh 19,9 persen dibanding Semester I-2025. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat menjadi US$10,2 juta, dari sebelumnya US$2,2 juta.
Di luar batubara, beberapa unit usaha juga menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan Tripatra naik 41,3 persen menjadi US$167,4 juta, sementara Interport Mandiri Utama meningkat 57,9 persen menjadi US$86,7 juta. Pendapatan Indika Indonesia Resources bahkan melonjak 79,4 persen menjadi US$42,7 juta, didorong peningkatan perdagangan batubara berkalori tinggi dan mulai mencatat penjualan komoditas non-batubara seperti bauksit.
Diversifikasi Jadi Strategi Jangka Panjang
Perubahan arah investasi menunjukkan bahwa Indika Energy tidak lagi hanya mengandalkan batubara sebagai sumber pertumbuhan.
Selain mengembangkan proyek emas Awak Mas, perusahaan juga terus memperluas portofolio ke sektor energi baru, logistik, mineral, serta berbagai bisnis yang dinilai memiliki prospek jangka panjang.
Strategi ini dilakukan di tengah perubahan lanskap industri energi global yang semakin menuntut perusahaan memiliki portofolio usaha yang lebih beragam dan tidak bergantung pada satu komoditas.
Dengan mempertahankan arus kas dari bisnis batubara sekaligus memperbesar investasi di sektor lain, Indika Energy berupaya membangun fondasi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: GIIAS 2026 Menjadi Arena Perang Teknologi Elektrifikasi.
Transformasi Masih Berlangsung
Meskipun investasi non-batubara mendominasi belanja modal, kontribusi pendapatan terbesar perusahaan saat ini masih berasal dari batubara.
Artinya, transformasi yang dijalankan Indika Energy masih berada dalam tahap pembangunan aset dan pengembangan bisnis baru. Keberhasilan strategi tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menyelesaikan proyek-proyek strategis sesuai target serta meningkatkan kontribusi pendapatan dari sektor non-batubara dalam beberapa tahun mendatang.
Komentar