Frame Daily, Yerussalem – Ahmed al Madhoun tampak seperti seorang pemuda yang di tengah segala kesulitan, tetap mencintai kehidupan. Tubuhnya berisi, wajahnya ceria, dan senyumnya selalu merekah.
Dari rumahnya yang sebagian telah hancur di Gaza City, ibunya, Majdiya, menunjukkan sejumlah video Ahmed di ponselnya.
Dalam salah satu video, Ahmed terlihat memeluk seekor anak kucing. Ia menjulurkan lidah dan tertawa riang. Dalam video lainnya, ia menceburkan diri ke kolam renang sebelum muncul kembali dengan senyum lebar.
“Semua orang adalah temannya,” kata Majdiya kepada BBC. “Dia dicintai di mana pun berada dan selalu tersenyum.”
Ahmed, yang merupakan penyandang down syndrome, kini hilang. Pemuda berusia 21 tahun itu menghilang pada Mei 2025 setelah pergi sebentar ke toko di sekitar rumahnya.
Saat itu, perang antara Hamas dan Israel di Gaza masih berlangsung.
Pada hari Ahmed menghilang, serangan Israel terjadi di wilayah tersebut. Majdiya khawatir putranya telah tewas. Akan tetapi, hingga kini ia tidak mengetahui kepastian nasib Ahmed.
“Ya Tuhan, saya tidak tenang,” ujarnya. “Saya belum kehilangan harapan. Entah mereka menemukannya hidup atau meninggal, terkubur di bawah reruntuhan, baru saat itulah saya akan merasa tenang.”

Rasa sakit seperti yang dialami Majdiya dirasakan oleh banyak ibu di Gaza.
Lebih dari 73.000 orang telah tewas di Gaza sejak Israel melancarkan operasi militernya, termasuk sekitar 1.200 orang setelah gencatan senjata diumumkan pada Oktober tahun lalu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Angka tersebut dinilai dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Media Israel pada Januari lalu melaporkan seorang sumber senior keamanan Israel mengatakan militer menerima angka tersebut sebagai angka yang akurat.
Jumlah korban tewas warga Palestina sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Data Kementerian Kesehatan Gaza tidak mencakup orang-orang yang jasadnya masih tertimbun reruntuhan. Artinya, sebagian dari mereka yang hilang belum masuk dalam jumlah korban tewas.
Palang Merah mengatakan telah menerima lebih dari 5.000 permintaan untuk membantu melacak orang hilang yang kemungkinan tertimbun reruntuhan. Badan Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan jumlah orang hilang mencapai lebih dari 8.000 orang.
Jenazah masih ditemukan hampir setiap hari.
Awal bulan ini, pemakaman massal digelar di Gaza City untuk lebih dari 100 orang yang tewas dalam serangan Israel pada 2023. Jasad mereka baru ditemukan dan berhasil diidentifikasi sehingga akhirnya dapat dimakamkan.
Palang Merah mengatakan proses pencarian jenazah sangat sulit akibat luasnya kehancuran dan minimnya alat berat, termasuk buldoser.
Dalam banyak kasus, identifikasi jenazah juga menjadi persoalan. Kondisi jasad yang telah lama berada di bawah reruntuhan membuat proses identifikasi semakin sulit. Pemeriksaan DNA juga terbatas akibat pembatasan Israel terhadap barang-barang yang dapat masuk ke Gaza.
Keluarga Khawatir Ahmed Ditahan

Keluarga Ahmed mengetahui kemungkinan putranya telah tewas. Mereka juga memiliki kekhawatiran lain: Ahmed mungkin ditahan oleh pasukan keamanan Israel.
Selama hampir tiga tahun perang, pasukan Israel telah menahan sekitar 7.000 warga Palestina dari Gaza. Lebih dari 5.000 di antaranya kemudian dibebaskan tanpa pernah didakwa, menurut Public Committee Against Torture, organisasi yang berbasis di Israel.
Bulan ini, sekitar 1.300 warga Gaza dilaporkan masih ditahan di penjara Israel tanpa dakwaan atau persidangan, berdasarkan data kelompok hak asasi manusia Israel, HaMoked.
HaMoked menyebut angka tersebut tidak mencakup warga Gaza yang ditahan langsung oleh militer Israel.
Keluarga warga Palestina kerap tidak mendapatkan pemberitahuan dari Israel mengenai penangkapan atau keberadaan kerabat mereka. Kondisi tersebut membuat banyak keluarga bergantung pada lembaga swadaya masyarakat dan pengacara untuk melacak keberadaan anggota keluarga.
BBC telah meminta tanggapan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Israel Prison Service (IPS) mengenai dugaan kegagalan memberitahukan keluarga terkait penahanan tersebut.
Pihak berwenang Israel sebelumnya menyatakan penahanan berkepanjangan dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan selama masa perang dan membantah tuduhan bahwa penahanan dilakukan secara sewenang-wenang.
Mahmoud Diduga Terlihat dalam Foto
Kisah serupa dialami Aida al Drimli dari kawasan Sabra, Gaza City.

Aida menunjukkan foto putranya, Mahmoud, seorang pemuda berwajah cerah yang mengenakan syal Palestina.
“Dia adalah pemuda yang tenang dan berperilaku baik,” kata Aida. “Dia mencintai semua orang dan semua orang mencintainya.”
Mahmoud menghilang pada 2024. Keluarganya semula khawatir ia tewas dalam serangan Israel.
“Ayahnya pergi ke rumah sakit dan melihat jenazah-jenazah,” kata Aida. “Tapi saya tidak sanggup menghadapinya. Saya benar-benar terpukul.”
Musim panas ini, sebuah foto muncul di media sosial. Foto tersebut memperlihatkan dua tentara Israel berpose bersama seorang tahanan Palestina yang matanya ditutup dan tubuhnya dalam keadaan terikat.
Aida yakin pria dalam foto tersebut adalah Mahmoud.
“Dari ciri-cirinya, dari dahi, mulut, hidung, cara dia duduk, cara dia menutup mulut, tangannya, hingga bagian bawah kakinya. Semua cirinya persis seperti anak saya,” katanya.

Meski demikian, Aida menyadari satu foto saja belum cukup untuk memastikan identitas pria tersebut.
“Ketika suami saya duduk dan menunjukkan foto itu kepada saya, saya merasa lega,” ujarnya. “Tapi pada saat yang sama, saya sangat sedih dan hati saya hancur ketika melihat anak saya dalam kondisi seperti itu. Itu sangat memalukan.”
Keluarga al Drimli dan al Madhoun mengatakan mereka maupun anak-anak mereka tidak memiliki hubungan dengan Hamas atau kelompok bersenjata lainnya di Gaza.
BBC menanyakan keberadaan kedua pria tersebut kepada IPS. Pihak IPS mengatakan tidak memiliki catatan yang menunjukkan bahwa mereka pernah menahan keduanya.
Pertanyaan yang sama diajukan kepada militer Israel yang juga mengelola pusat-pusat penahanan dan penjara. Militer Israel tidak memberikan tanggapan.
Israel tidak mengizinkan wartawan internasional, termasuk BBC, untuk melakukan peliputan independen di Gaza.
Keluarga al Drimli telah meminta bantuan Palang Merah untuk mencari tahu apakah Mahmoud pernah ditahan. Akan tetapi, Israel tidak memberikan akses kepada Palang Merah terhadap catatan tahanan di penjara-penjara Israel.
Ketidakpastian Menjadi Luka yang Tak Kunjung Sembuh
Tal Steiner, pengacara Israel yang membantu mencari warga Palestina yang kemungkinan ditahan Israel, mengatakan kepada BBC bahwa situasi berubah drastis setelah serangan 7 Oktober 2023.
Larangan bagi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk mengunjungi penjara serta tidak adanya daftar tahanan yang dimiliki ICRC membuat pencarian harus dilakukan satu per satu berdasarkan permintaan keluarga.
Bagi keluarga, kata Steiner, ketidakpastian menjadi bagian paling menyakitkan.
“Ini seperti luka terbuka. Tidak sembuh. Mereka tidak memiliki ketenangan karena bahkan tidak tahu apakah kerabat mereka masih hidup atau sudah meninggal,” katanya.
Menurut Steiner, selama tiga tahun terakhir, Israel juga semakin mempersulit upaya melacak warga Palestina yang kemungkinan ditahan.
Bagi keluarga yang tidak mengetahui keberadaan orang yang mereka cintai, situasi tersebut menambah penderitaan. Ketidakpastian itu dapat menjadi beban psikologis yang berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Komentar