Mengenal Sorgum, Solusi Pangan Alternatif Tahan Segala Cuaca

Sorgum hadir sebagai alternatif karbohidrat pengganti nasi yang bebas gluten, tahan kekeringan, dan kaya serat. Simak sejarah hingga cara mengolahnya.

Mengenal Sorgum, Solusi Pangan Alternatif Tahan Segala Cuaca
Ilustrasi/FrameDaily

Frame Daily, Surabaya — Isu krisis iklim global dan ancaman ketahanan pangan kian mendorong pencarian bahan pangan alternatif yang tangguh di berbagai belahan dunia. Salah satu tanaman pangan yang kini kembali diminati masyarakat adalah sorgum. Biji-bijian ini hadir sebagai alternatif karbohidrat pengganti beras yang ramah lingkungan, berdaya tahan tinggi terhadap perubahan cuaca, serta sangat mudah dibudidayakan.

Sorgum dengan nama ilmiah Sorghum bicolor bukanlah tanaman baru dalam sejarah panjang peradaban manusia. Berdasarkan kajian jurnal ilmiah Sorghum in the Economy of Old World Agriculture karya J.R. Harlan, tanaman ini pertama kali didomestikasi di kawasan Afrika timur utara, tepatnya di wilayah Ethiopia dan Sudan, sekitar 3.000 hingga 5.000 tahun yang lalu.

Dari benua Afrika, budidaya sorgum menyebar pesat ke kawasan Asia, Amerika, hingga akhirnya masuk ke wilayah Nusantara. Di Indonesia sendiri, sorgum telah lama menjadi salah satu pilar pangan lokal penting, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah beriklim kering seperti Nusa Tenggara Timur.

Tanaman Tangguh yang Tahan Cuaca Ekstrem

Secara teknis budidaya, sorgum dikenal sangat tangguh karena memiliki sistem perakaran yang dalam serta efisien dalam penggunaan air. Karakteristik biologis ini membuat sorgum memiliki daya tahan tinggi saat menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu.

Menurut laporan teknis yang dipublikasikan pada situs resmi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), sorgum mampu bertahan hidup di lahan marjinal yang kurang subur. Tanaman ini juga sangat toleran terhadap suhu panas tinggi serta tahan terhadap kondisi kekeringan ekstrem yang umumnya membuat tanaman padi atau jagung gagal panen.

Selain keunggulannya yang tahan terhadap cuaca buruk, masa tanam hingga panen sorgum terbilang relatif singkat. Para petani hanya membutuhkan waktu sekitar 90 hingga 110 hari, atau sekitar 3 hingga 4 bulan sejak masa tanam untuk memanen bulir sorgum secara optimal, tergantung pada jenis varietas yang digunakan serta kondisi cuaca di lokasi penanaman.

Kaya Nutrisi dan Mudah Diolah untuk Konsumsi Harian

Bukan hanya unggul di sektor pertanian, sorgum juga menawarkan nilai gizi tinggi bagi kesehatan tubuh. Biji-bijian ini kaya akan serat pangan, memiliki indeks glikemik yang relatif rendah, serta secara alami bebas dari gluten. Hal tersebut menjadikan sorgum sangat cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes maupun warga yang sedang menerapkan pola hidup sehat.

Pengolahan sorgum untuk disajikan sebagai makanan harian terbilang cukup praktis dan tidak memerlukan peralatan khusus. Langkah pertama diawali dengan proses penyososan, yaitu mengolah atau mengupas kulit luar biji sorgum yang keras untuk memisahkan bagian biji bersih yang siap masak.

Langkah kedua adalah perendaman. Biji sorgum bersih direndam dalam air bersih selama 4 hingga 6 jam agar teksturnya menjadi lebih lunak dan cepat matang saat dimasak. Tahap terakhir adalah pemasakan, di mana biji direbus atau dikukus menggunakan rasio air mirip seperti memasak beras merah, yakni sekitar 1 banding 2,5 hingga 1 banding 3.

Cocok Disandingkan dengan Lauk Nusantara

Setelah matang sempurna, tekstur biji sorgum terasa sedikit kenyal (chewy) saat dikunyah, disertai aroma renyah gurih (nutty) yang khas. Karakter rasa netral yang dimiliki oleh sorgum membuatnya sangat fleksibel untuk dipadukan dengan berbagai hidangan kuliner Nusantara.

Nasi sorgum sangat cocok disandingkan dengan aneka lauk pauk khas Indonesia sehari-hari, mulai dari kuah gurih sayur lodeh, tumis kangkung pedas, hingga olahan tempe dan tahu goreng hangat. Cita rasanya yang unik mampu menyerap bumbu dari lauk pendamping dengan sempurna tanpa menghilangkan kelezatan masakan.

Dengan berbagai keunggulan dari segi ketahanan tanaman, kemudahan budidaya, hingga kandungan nutrisi yang melimpah, sorgum berpotensi besar menjadi pilar utama diversifikasi pangan nasional. Pemanfaatan sorgum secara luas diharapkan dapat memperkuat kemandirian pangan masyarakat di tengah tantangan iklim global.

Ditulis oleh Fariz

Komentar