Manggarai Tetapkan Tanggap Darurat 90 Hari Pascagempa M7,7

Pemkab Manggarai menetapkan tanggap darurat 90 hari pascagempa M7,7. Sebanyak 2.078 warga mengungsi dan 23 orang meninggal dunia.

Manggarai Tetapkan Tanggap Darurat 90 Hari Pascagempa M7,7
Manggarai Tetapkan Tanggap Darurat 90 Hari (Ilustrasi AI)

Frame Daily, Jakarta - ​Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari menyusul gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

Berdasarkan siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), status tanggap darurat berlaku mulai 15 Agustus hingga 13 November 2026.

Penetapan tersebut dilakukan melalui Keputusan Bupati Manggarai Nomor 319 Tahun 2026. Pemerintah kabupaten juga membentuk pos komando penanganan darurat melalui Keputusan Bupati Nomor 320 Tahun 2026.

Status kedaruratan ditetapkan di tengah besarnya dampak gempa di wilayah Manggarai. BNPB mencatat Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal dunia terbanyak, yakni 23 orang.

Selain korban meninggal, sebanyak 101 warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat gempa di sejumlah wilayah terdampak NTT.

Ribuan Warga Mengungsi

Kabupaten Manggarai juga menjadi salah satu daerah dengan jumlah pengungsi terbesar.

Hingga pemutakhiran data BNPB per Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, tercatat 2.078 warga Manggarai mengungsi.

Para penyintas membutuhkan berbagai bantuan mendesak untuk memenuhi kebutuhan dasar selama berada di lokasi pengungsian.

BNPB menyebut kebutuhan di Manggarai antara lain puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, tandon air bersih, serta genset.

Rumah Sakit Lapangan Beroperasi

Untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, rumah sakit lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

Tim gabungan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga masih melakukan penyisiran lokasi, pendataan, dan verifikasi lanjutan terhadap dampak gempa.

Sementara itu, aktivitas gempa susulan masih berlangsung. BNPB mencatat sebanyak 341 aktivitas gempa susulan telah terjadi setelah gempa utama.

Akses Darat Masih Menjadi Tantangan

Penanganan darurat juga menghadapi persoalan akses. Jalur lintas darat Larantuka-Maumere telah terhubung dan dapat dilalui.

Namun, akses jalan darat yang menghubungkan Ende-Nagekeo masih terputus akibat gempa. Tim penanganan masih mencari jalur alternatif untuk mendukung mobilitas evakuasi dan distribusi bantuan.

Secara keseluruhan, gempa NTT menyebabkan 47 orang meninggal dunia dan lebih dari 5.000 warga mengungsi.

BNPB juga mencatat 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan turut terjadi pada 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah.

Ditulis oleh Bayu

Komentar