Frame Daily, Jakarta — Keputusan mengejutkan datang dari pimpinan Duo Maia, Maia Estianty. Musisi ternama tanah air tersebut kedapatan mengubah status akun Threads pribadinya, @maiaestiantyreal, dari mode publik menjadi privat (private) pada Minggu, 11 Oktober 2026. Tindakan ini menyusul gelombang kritik dan kecaman dari warganet yang membanjiri kolom komunikasinya akibat sebuah ungkapan yang dinilai tidak memiliki empati terhadap situasi ekonomi publik saat ini.
Berdasarkan pantauan Frame Daily, kontroversi ini bermula ketika Maia mengunggah sebuah utas (thread) berlabel self reminder di platform Threads. Dalam tulisan tersebut, ia analogikan rezeki manusia dengan burung liar yang mencari makan. Ia menuliskan bahwa meskipun rezeki semua makhluk ditanggung oleh Sang Pencipta, seekor burung tidak akan mendapatkan makanan jika malas terbang.
"Melihat burung liar makan, berpikir bahwa semua mahluk hidup rejeki nya ditanggung Allah itu benar, tapi burung juga kalau males terbang juga gak bakal dapet makanan... artinya kalau kita hidupnya kurang banyak uang, artinya kudu lebih ikhtiar lagi bekerja seperti burung yang terbang sana sini mencari makanan... kita males, ya rejeki kita seret, akan seret lagi kalo gak pernah bersedekah (dengan uang atau tenaga)," tulis Maia dalam unggahannya yang viral tersebut.
Pernyataan yang bermaksud menjadi pengingat diri itu rupanya ditanggapi berbeda oleh publik luas. Banyak warganet menilai bahwa narasi yang menyederhanakan kemiskinan atau kesulitan ekonomi sebagai akibat dari 'kurang ikhtiar' dan 'males' sangat melukai perasaan masyarakat. Di tengah tantangan sosial-ekonomi yang serba sulit, daya beli yang menurun, serta minimnya lapangan pekerjaan, argumen semacam itu dianggap memperlihatkan kepicikan perspektif atau fenomena tone deaf dari kalangan elit.
Bagi sebagian besar publik, persoalan ekonomi yang dihadapi kelas pekerja saat ini bukanlah masalah malas atau rajin, melainkan masalah sistemik dan kondisi riil di lapangan. Banyak pekerja yang telah memeras keringat dari pagi hingga malam, namun tetap kesulitan memenuhi kebutuhan mendasar. Menyamakan keterbatasan finansial semata-mata dengan kurangnya usaha dianggap mengabaikan realitas keras yang dialami rakyat kecil.
Kritik tajam dari netizen tak terelakkan. Kolom komentar dan kutipan atas unggahan tersebut langsung dipenuhi tanggapan pedas. Tidak sedikit yang menyayangkan sikap figur publik sekelas Maia yang terkesan kurang berempati dan terputus dari realitas sosial.
Tekanan yang kian masif di ruang digital akhirnya memicu tindakan defensif. Pada 11 Oktober 2026, akun Threads Maia yang memiliki lebih dari 1,6 juta pengikut tersebut resmi digembok. Pengunjung yang belum menjadi pengikut kini hanya disambut dengan tulisan 'This profile is private'. Selain itu, keterangan profil akunnya juga mencantumkan peringatan tegas: "Yang nggak sopan, gw block ya".
Fenomena 'sentilan' publik terhadap figur publik yang dinilai tone deaf bukanlah kali pertama terjadi. Sebelum insiden yang menimpa Maia Estianty, nama-nama selebritas lain seperti Maudy Ayunda juga sempat disorot publik karena dianggap kurang memanfaatkan platform besar mereka untuk menyuarakan isu-isu sosial dan kepentingan masyarakat luas di saat kondisi ekonomi sedang prihatin.
Isu sensitivitas figur publik di media sosial memang menjadi topik yang terus berulang. Di era di mana batas antara kehidupan publik dan pribadi makin kabur, publik menuntut agar tokoh-tokoh berpengaruh tidak hanya membagikan wejangan bernada 'pencerahan', tetapi juga memiliki kepekaan rasa dan pemahaman terhadap realitas hidup orang banyak.
Unggahan yang berniat sebagai pengingat moral, jika disampaikan tanpa menyaring konteks sosial pendengarnya, justru berisiko menjadi senjata boomerang yang merusak citra sang publik figur itu sendiri. Kasus digemboknya akun Threads Maia Estianty ini menjadi pelajaran berharga bagi para pembuat konten dan jurnalisme media sosial: bahwa empati adalah kunci utama dalam menjalin komunikasi publik yang sehat.
Komentar