Iran Kunci Selat Hormuz, AS Hadapi Tujuh Syarat

Iran menolak membuka Selat Hormuz sebelum AS menerima tujuh syarat perdamaian. Ketegangan ini mengancam pasokan minyak dan gas dunia.

Iran Kunci Selat Hormuz, AS Hadapi Tujuh Syarat
Ilustrasi. Selat Hormuz. (FDN/AI)

Frame Daily, JAKARTA – Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat (AS) menerima tujuh syarat yang diajukan Teheran untuk menyelesaikan konflik kedua negara. Sikap tersebut memperpanjang ketidakpastian di jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Mengutip laporan ANTARA dari Teheran, Senin, 12 Oktober 2026, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan televisi Iran Press TV pada Minggu, 11 Oktober 2026.

“Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat Iran dipenuhi,” kata Rezaei. Ia mengungkapkan bahwa Washington berupaya berkomunikasi dengan Teheran melalui tiga negara, yakni Irak, Pakistan, dan Qatar.

Menurut Rezaei, AS telah menanggapi sejumlah persyaratan Iran dan menerima sebagian di antaranya. Akan tetapi, tanggapan Washington terhadap beberapa syarat lainnya dinilai masih belum jelas.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik belum menghasilkan kesepakatan menyeluruh. Selat Hormuz pun tetap menjadi titik krusial dalam tarik-menarik kepentingan kedua negara.

Tujuh Syarat Jadi Penghambat Negosiasi

Rezaei menyebut proposal tujuh poin Iran untuk penyelesaian damai telah disampaikan melalui Qatar pada September 2026. Teheran menjadikan penerimaan atas proposal tersebut sebagai prasyarat pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.

Meski mengklaim Washington menerima sebagian persyaratan, Rezaei tidak merinci dalam pernyataan yang dikutip ANTARA poin-poin yang telah disetujui maupun syarat yang masih diperdebatkan. Belum terdapat rincian lengkap mengenai isi tujuh poin tersebut dalam laporan sumber.

Rezaei juga menuding AS berulang kali melancarkan serangan setiap kali Iran kembali ke meja perundingan. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap proses diplomasi.

Tuduhan itu mencerminkan rendahnya kepercayaan antara Teheran dan Washington. Untuk memastikan peluang tercapainya kesepakatan, kedua pihak masih perlu menjelaskan posisi masing-masing dan memberikan kepastian mengenai komitmen penghentian permusuhan.

Konflik Ancam Pasokan Energi Global

Konflik Iran-AS memanas setelah AS dan Israel mulai menyerang sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026. Teheran kemudian membalas melalui serangan terhadap pihak yang dianggap sebagai lawannya.

Pada Maret 2026, AS dan Israel juga menyerang sasaran di ladang gas South Pars serta kawasan industri Assaluyeh di Iran selatan. Serangan terhadap fasilitas energi tersebut menambah dimensi ekonomi dalam konflik yang berlangsung.

Pada pertengahan Juni, Iran dan AS menandatangani memorandum untuk menghentikan permusuhan. Kesepakatan itu tidak bertahan lama karena kedua pihak kembali melancarkan serangan setelahnya.

Hingga 12 Oktober 2026, konflik belum terselesaikan. Ketegangan tersebut hampir menghentikan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak mentah, produk minyak, dan gas alam cair ke berbagai negara.

Harga Bahan Bakar Terancam Naik

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz berpotensi menekan pasokan energi internasional. Ketika kapal pengangkut minyak dan gas menghadapi hambatan, biaya transportasi dan risiko pengiriman dapat meningkat, sehingga memengaruhi harga energi di pasar global.

ANTARA melaporkan bahwa gangguan di jalur strategis tersebut turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara. Dampaknya dapat meluas ke biaya transportasi, produksi industri, serta harga barang yang bergantung pada energi.

Perkembangan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh hasil komunikasi diplomatik antara Iran dan AS melalui negara-negara perantara. Selama tuntutan Teheran belum menemukan titik temu dengan Washington, pembukaan kembali Selat Hormuz masih dibayangi ketidakpastian.

Ditulis oleh Nurmalita Aninditya

Komentar