Frame Daily, SARAWAK – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, mulai berdampak ke Sarawak, Malaysia. Kualitas udara di sejumlah wilayah di negara bagian tersebut berada pada kategori tidak sehat.
Data Sistem Pengurusan Indeks Pencemaran Udara Malaysia (APIMS) yang diperbarui Sabtu (22/8/2026) pagi mencatat 11 kawasan berada pada kategori tidak sehat.
Berdasarkan laporan Bernama, Indeks Pencemaran Udara (IPU) di Ibu Pejabat Daerah (IPD) Serian mencapai 190 pada pukul 09.00 waktu setempat.
Angka itu turun dibandingkan 227 pada sore sebelumnya. Penurunan tersebut membuat kualitas udara di Serian berubah dari kategori sangat tidak sehat menjadi tidak sehat.
Kuching hingga Miri Terdampak

Serian menjadi wilayah dengan angka IPU tertinggi dalam pembaruan APIMS tersebut. Selain Serian, sejumlah kawasan lain di Sarawak juga mencatat kualitas udara tidak sehat.
APIMS mencatat IPU Kuching sebesar 182, Samarahan 177, Sarikei dan Sri Aman masing-masing 173, serta Sibu 161. Selanjutnya, Bintulu mencatat IPU 157. Samalaju dan Mukah masing-masing berada pada angka 156.
Miri mencatat IPU 151. Angka serupa juga tercatat di Bukit Rambai, Melaka. Dengan demikian, terdapat 11 kawasan di Malaysia yang masuk kategori kualitas udara tidak sehat.
Harian Metro dalam laporan Sabtu pagi mencatat angka IPU Serian 191 pada pukul 07.30 waktu setempat. Saat itu, Kuching berada di angka 181, Samarahan 178, Sri Aman 174, dan Sarikei 171.
Perbedaan angka terjadi karena data kualitas udara diperbarui secara berkala.
Asap dari Kalimantan Barat Bergerak ke Sarawak
Jabatan Alam Sekitar Malaysia menyatakan asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga padat terpantau di Kalimantan Barat.
Asap tersebut bergerak ke arah utara dan memasuki wilayah barat Sarawak.
Peta Jerebu Serantau yang dikeluarkan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) menunjukkan kondisi cuaca kering masih berlangsung di sebagian besar wilayah ASEAN bagian selatan.

Titik panas terdeteksi secara luas di Kalimantan, sementara sejumlah titik panas lainnya muncul secara terpencil di wilayah ASEAN selatan.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko memburuknya kualitas udara di kawasan yang berdekatan dengan wilayah kebakaran.
Lebih dari 900 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Pemerintah Indonesia meningkatkan penanganan karhutla di Kalimantan setelah terjadi peningkatan titik panas.
Reuters melaporkan data pemantauan kebakaran melalui Sipongi Kementerian Kehutanan mencatat 1.250 titik panas sepanjang pekan ini. Jumlah tersebut meningkat dari 1.187 titik panas pada pekan sebelumnya.
Lebih dari 900 titik panas terdeteksi di wilayah Kalimantan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter untuk patroli, operasi pembenihan awan, dan pengeboman air di enam wilayah prioritas.
Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Hampir 13.000 personel juga dikerahkan di tiga wilayah Kalimantan untuk melakukan patroli dan pemadaman kebakaran di darat.
Luas Lahan Terbakar Capai 202 Ribu Hektare

Kementerian Kehutanan Indonesia mencatat 202.004 hektare lahan terdampak kebakaran hutan sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Jumlah tersebut meningkat dari 107.465 hektare pada periode Januari hingga Juni 2026.
Sepanjang Agustus 2026, tercatat 3.736 titik panas. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan 758 titik panas yang tercatat sepanjang Juli.
Kementerian Kehutanan menyatakan penurunan jumlah titik panas dalam beberapa hari terakhir menjadi perkembangan positif. Meski begitu, kondisi tersebut belum berarti seluruh kebakaran telah padam atau risiko karhutla telah berakhir.
Fenomena El Nino juga diperkirakan berlanjut hingga awal 2027. Periode Agustus hingga September diperkirakan menjadi masa kritis bagi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Ratusan Sekolah di Sarawak Ditutup

Maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan hingga berdampak buruk bagi kalangan warga di Malaysia.
Dampak kabut asap juga dirasakan masyarakat Sarawak. Sebanyak 591 sekolah di bawah 10 Pejabat Pendidikan Daerah (PPD) di Sarawak ditutup pada Jumat (21/8/2026).
Penutupan dilakukan sebagai langkah perlindungan terhadap siswa menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap lintas batas.
Sekolah yang terdampak berada di bawah PPD Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.
Jabatan Alam Sekitar Malaysia juga meningkatkan pengawasan dan patroli terhadap kawasan yang berpotensi terjadi pembakaran terbuka.
Pemerintah Malaysia mengaktifkan Pelan Tindakan Pembakaran Terbuka Kebangsaan dan Pelan Tindakan Jerebu Kebangsaan untuk mengoordinasikan penanganan kebakaran serta dampak kabut asap.
Komentar