Frame Daily, Jakarta - Kemampuan berbahasa asing semakin relevan di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat. Perusahaan tidak hanya mencari kandidat dengan ijazah, tetapi juga kompetensi yang dapat langsung digunakan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Mei 2026 menyebut kemampuan bahasa asing menjadi bekal penting bagi lulusan SMK untuk memasuki dunia kerja global. Pemerintah bahkan memperluas program sertifikasi bahasa asing untuk membuka peluang kerja, magang, dan studi ke luar negeri.
Kebutuhan tersebut juga terlihat dari pasar kerja internasional. Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia mencatat lebih dari 314 ribu peluang kerja di 10 negara penempatan utama per 25 Mei 2026. Dari jumlah itu, baru sekitar 24 persen yang terisi atau dilamar.
Menteri P2MI Mukhtarudin menyebut kebutuhan tenaga kerja dari luar negeri masih tinggi, dengan kompetensi dan penguasaan bahasa menjadi salah satu persyaratan penting.
Pertanyaannya, bahasa apa yang paling layak dipelajari?
Bahasa Inggris Tetap Menjadi Fondasi Utama
Jika harus memilih satu bahasa asing untuk dunia kerja, Bahasa Inggris masih menjadi pilihan paling strategis.
Bahasa ini digunakan secara luas dalam komunikasi bisnis internasional, teknologi, pendidikan, pariwisata, penerbangan, hingga industri kreatif.
Menariknya, perkembangan kecerdasan buatan (AI) justru tidak membuat kemampuan Bahasa Inggris kehilangan relevansi.
Laporan TOEIC Global English Skills Report yang diberitakan detikEdu pada Maret 2026 menunjukkan kemampuan Bahasa Inggris semakin digunakan dalam proses rekrutmen, pelatihan, hingga promosi karier. Sebanyak 78 persen responden menyebut asesmen Bahasa Inggris digunakan dalam rekrutmen.
Bahasa Inggris juga semakin berkaitan dengan teknologi. Kemampuan memahami antarmuka AI, membuat instruksi yang efektif, serta mengevaluasi hasil AI menjadi alasan lain mengapa kemampuan bahasa tetap diperlukan.
Mandarin Membuka Peluang di Dunia Bisnis
Bahasa Mandarin menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin berkarier di sektor perdagangan, manufaktur, teknologi, perbankan, hingga hubungan bisnis dengan perusahaan asal China.
Lembaga Bahasa Internasional FIB Universitas Indonesia menyebut Mandarin sebagai salah satu bahasa yang memiliki nilai penting dalam dunia kerja global. Kemampuan tersebut dapat mendukung peluang di sektor ekspor-impor, perbankan, dan teknologi.
Media Indonesia juga mencatat pada April 2026 bahwa Bahasa Inggris dan Mandarin semakin banyak dipelajari generasi muda karena terbukanya peluang kerja lintas negara dan pekerjaan jarak jauh.
Bagi pencari kerja yang menargetkan perusahaan China atau sektor yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan China, Mandarin dapat menjadi keunggulan kompetitif.
Bahasa Arab Punya Pasar Tersendiri
Bahasa Arab memiliki peluang yang berbeda. Penguasaannya relevan untuk sektor pariwisata, perdagangan, pendidikan, penerjemahan, layanan pelanggan, hingga peluang kerja di kawasan Timur Tengah.
Kemendikdasmen memasukkan Bahasa Arab dalam program sertifikasi bahasa asing non-Inggris untuk siswa SMK pada 2026. Selain Arab, program tersebut mencakup Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, dan Prancis.
Artinya, pilihan bahasa tidak selalu harus berdasarkan jumlah penutur. Kesesuaian dengan tujuan karier justru menjadi faktor penting.
Jepang, Korea, Jerman, dan Prancis Juga Menjanjikan
Bahasa Jepang dapat menjadi pilihan bagi mereka yang mengincar industri otomotif, manufaktur, pariwisata, atau perusahaan Jepang.
Bahasa Korea memiliki peluang di sektor perdagangan, pariwisata, industri kreatif, dan perusahaan Korea yang beroperasi di Indonesia.
Sementara itu, Bahasa Jerman dan Prancis dapat menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki target karier di perusahaan, pendidikan, pariwisata, atau institusi yang memiliki hubungan dengan negara-negara Eropa.
Kemendikdasmen sendiri memasukkan berbagai bahasa tersebut dalam program sertifikasi bahasa asing 2026.
Jangan Hanya Mengejar Bahasa, Kuasai Kompetensinya
Bahasa asing akan semakin bernilai jika digabungkan dengan keahlian tertentu.
Seorang pekerja yang menguasai Bahasa Inggris sekaligus memiliki kemampuan digital, misalnya, akan memiliki kombinasi kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor pada Juni 2026 menegaskan dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi nyata, adaptif, dan siap menghadapi transformasi digital serta AI.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bahasa asing bukan pengganti keahlian utama, melainkan penguat kompetensi.
Jadi, Bahasa Mana yang Harus Dipilih?
Jawabannya bergantung pada tujuan karier.
Bahasa Inggris cocok sebagai fondasi karena penggunaannya paling luas.
Bahasa Mandarin menarik untuk bisnis, perdagangan, manufaktur, dan teknologi.
Bahasa Arab relevan bagi sektor yang berkaitan dengan Timur Tengah, pendidikan, perdagangan, dan layanan.
Bahasa Jepang dan Korea dapat dipertimbangkan untuk industri serta perusahaan dari kedua negara tersebut.
Bahasa Jerman dan Prancis dapat menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki target pendidikan atau karier tertentu di Eropa.
Pada akhirnya, menguasai satu bahasa asing dengan baik dan memiliki kompetensi profesional yang kuat bisa lebih bernilai daripada mempelajari banyak bahasa tanpa kemampuan yang memadai.
Di tengah persaingan kerja yang semakin global, bahasa asing bukan sekadar kemampuan berkomunikasi. Ia dapat menjadi jembatan menuju pasar kerja, jaringan profesional, dan peluang karier yang lebih luas.
Komentar