Frame Daily, Pontianak - Sebanyak 1.286 telur penyu diamankan Balai Karantina Kalimantan Barat bersama Satgas Pamtas TNI AD Gabma Temajuk dari dua lokasi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Telur-telur tersebut ditemukan dalam dua kasus berbeda dan diduga hendak diselundupkan. Selanjutnya, telur diserahkan kepada Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak untuk mendapatkan penanganan konservasi.
Kepala Balai PK Pontianak Syarif Iwan Taruna Alkadrie mengatakan penanganan dilakukan setelah pihaknya menerima penyerahan telur dari Balai Karantina Kalbar dan Satgas Pamtas TNI AD Gabma Temajuk.
“Kami dari Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak menerima penyerahan telur tersebut dari Balai Karantina Kalbar dan Satgas Pamtas TNI AD Gabma Temajuk untuk penanganan konservasi lebih lanjut,” kata Iwan di Pontianak, Sabtu (8/8/2026). Dikutip dari ANTARA.
96 Telur Ditemukan di Kawasan Perbatasan
Temuan pertama terjadi pada 4 Agustus 2026 malam di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh.
Personel Satgas Pamtas TNI AD Gabma Temajuk menemukan 96 butir telur di dalam kardus yang ditinggalkan di semak-semak kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.
Temuan tersebut menjadi salah satu upaya pencegahan peredaran telur penyu secara ilegal di wilayah perbatasan.
1.190 Telur Ditemukan di Kapal
Temuan kedua terjadi sehari setelahnya, yakni 5 Agustus 2026.
Balai Karantina Kalbar menemukan 1.190 butir telur di sebuah kapal yang berada di Pelabuhan Penumpang Sintete, Kecamatan Pemangkat.
Telur tersebut diduga berasal dari Kepulauan Riau dan ditinggalkan oleh pemiliknya ketika pemeriksaan berlangsung.
Jika digabungkan, kedua temuan tersebut mencapai 1.286 telur penyu.
Telur Diperiksa dengan Metode Candling
Setelah diserahkan untuk penanganan konservasi, telur diperiksa oleh dokter hewan Yayasan Sealife Indonesia.
Pemeriksaan dilakukan melalui identifikasi ukuran dan berat serta metode candling. Metode tersebut digunakan untuk melihat kondisi telur sekaligus mengetahui perkembangan embrio.
Dokter hewan dan Marine Megafauna Specialist Yayasan Sealife Indonesia Dwi Suprapti mengatakan telur dari Temajuk memiliki ukuran diameter sekitar 3,53 hingga 4,16 centimeter dengan berat 3,62 hingga 3,87 gram.
Berdasarkan karakteristik tersebut, telur dari Temajuk cenderung merupakan telur penyu hijau (Chelonia mydas).
Sementara telur yang diduga berasal dari Kepulauan Riau memiliki dua kelompok ukuran.
Kelompok dengan ukuran 4,06 hingga 4,16 centimeter cenderung merupakan telur penyu hijau. Adapun kelompok berukuran 3,20 hingga 3,47 centimeter cenderung merupakan telur penyu lekang (Lepidochelys olivacea).
Sebagian Telur Masih Berpeluang Menetas
Hasil pemeriksaan menggunakan metode candling menunjukkan sebagian telur asal Temajuk memiliki tanda fertilitas.
Telur tersebut masih memiliki peluang untuk menetas sehingga direkomendasikan untuk diinkubasi menggunakan pasir pantai dengan kedalaman sekitar 50 hingga 70 centimeter dan suhu 28 hingga 30 derajat Celsius.
Berbeda dengan telur asal Kepulauan Riau.
Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan tanda fertilitas dan kondisi telur telah menurun. Karena itu, telur tersebut tidak direkomendasikan untuk ditetaskan dan penanganannya akan mengikuti prosedur konservasi yang berlaku.
Pemerintah Ingatkan Larangan Perdagangan Penyu
Iwan mengatakan penanganan temuan telur penyu merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam melindungi jenis ikan yang dilindungi sekaligus mencegah penyelundupan satwa di wilayah perbatasan.
“Setiap temuan harus ditangani secara hati-hati, baik dari aspek konservasi, teknis, administrasi, maupun penegakan hukum. Kami terus membangun koordinasi dengan seluruh instansi terkait,” ujar Iwan.
Ia juga mengajak masyarakat tidak mengambil, memperjualbelikan, mengangkut, ataupun memanfaatkan penyu dan telurnya secara ilegal.
Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan keberadaan penyu maupun telurnya kepada petugas.
“Penyu dilindungi penuh berdasarkan ketentuan konservasi nasional dan tercantum dalam daftar perlindungan internasional,” kata Iwan.
Penanganan terhadap 1.286 telur tersebut selanjutnya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing telur, termasuk peluang menetas dan prosedur konservasi yang berlaku.
Frame Daily | Lingkungan
Komentar