Kemenkes : DBD saat Musim Kemarau, Masyarakat Diminta Waspada

Musim kemarau bukan berarti bebas DBD. Cuaca panas membuat nyamuk lebih aktif menggigit. Kenali gejala dan cegah dengan 3M Plus.

Kemenkes : DBD saat Musim Kemarau, Masyarakat Diminta Waspada
Kementerian Kesehatan RI mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di musim kemarau (Kemenkes)

Frame Daily, JAKARTA – Musim kemarau sering dikaitkan dengan berkurangnya risiko penyakit yang ditularkan nyamuk. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD) karena cuaca panas justru dapat membuat nyamuk penyebar virus dengue lebih aktif menggigit.

Waspada Nyamuk DBD di musim kemarau (Tim Grafis Frame Daily)

BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026 dan mengimbau masyarakat mengantisipasi berbagai dampak kesehatan selama periode tersebut.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, menjelaskan peningkatan suhu udara memengaruhi frekuensi gigitan nyamuk Aedes aegypti. Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan nyamuk menjadi lebih sering menggigit ketika suhu meningkat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan penularan virus dengue pada periode musim kemarau, terutama Juli dan Agustus.

Gejala DBD yang Patut Diwaspadai

DBD merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia dan berisiko menimbulkan komplikasi apabila terlambat ditangani. Gejala yang paling sering muncul meliputi demam tinggi secara mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri di belakang mata, mual, muntah, serta ruam kemerahan pada kulit. Pada kondisi yang lebih berat dapat terjadi perdarahan.

Masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi selama dua hingga tiga hari disertai gejala tersebut. Penanganan sejak dini dapat mengurangi risiko terjadinya komplikasi.

Kasus DBD Masih Tinggi

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Data sebaran kasus DBD di Indonesia tahun 2024 (Tim Grafis Frame Daily)

Hingga pekan ke-17 tahun 2024 tercatat 88.593 kasus DBD dengan 621 kematian. Kasus tersebar di 456 kabupaten/kota pada 34 provinsi, sedangkan kematian terjadi di 174 kabupaten/kota di 28 provinsi. Data tersebut menunjukkan penularan dengue masih terjadi di berbagai wilayah sehingga kewaspadaan perlu dijaga sepanjang tahun.

Terapkan 3M Plus Secara Konsisten Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menjalankan gerakan 3M Plus sebagai langkah utama mencegah DBD.

Langkah pertama adalah menguras tempat penampungan air secara rutin. Kedua, menutup rapat seluruh wadah penyimpanan air. Ketiga, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan air.

Langkah "Plus" meliputi penggunaan losion antinyamuk, pemasangan kawat kasa atau kelambu, tidak menggantung pakaian terlalu lama, serta melakukan pemeriksaan jentik nyamuk secara berkala di lingkungan rumah.

Selain itu, vaksin dengue telah memperoleh persetujuan BPOM sebagai salah satu upaya perlindungan tambahan. Masyarakat dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui apakah vaksinasi sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pengendalian DBD Jadi Prioritas Nasional

Pemerintah bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyusun Strategi Nasional Pengendalian Dengue 2021–2025 sebagai upaya menekan beban penyakit di Indonesia. Strategi tersebut mencakup penguatan pengendalian vektor, peningkatan kualitas pelayanan pasien, penguatan sistem surveilans, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan inovasi dan riset berbasis bukti.

Musim kemarau bukan alasan untuk lengah terhadap DBD. Cuaca yang lebih panas tetap memungkinkan nyamuk berkembang dan meningkatkan risiko penularan. Menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan 3M Plus, serta mengenali gejala sejak dini menjadi langkah sederhana yang dapat melindungi diri dan keluarga dari ancaman demam berdarah.

Ditulis oleh Junaidi Saifuddin

Komentar