Frame Daily, JAKARTA - Zikir dan Doa Kebangsaan telah menjadi salah satu agenda pembuka dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Tradisi ini pertama kali digelar pada 2017 di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan terus dipertahankan hingga memasuki peringatan HUT ke-81 RI pada 2026.
Selama hampir satu dekade, kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi ulama, tokoh agama, santri, dan masyarakat untuk memanjatkan doa bagi bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan dan pendiri negara.
Berawal dari HUT ke-72 RI pada 2017
Pemerintah untuk pertama kalinya menggelar Zikir Akbar Kebangsaan pada 1 Agustus 2017 di Halaman Istana Merdeka, Jakarta. Acara mengusung tema Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan dan menjadi pembuka rangkaian peringatan HUT ke-72 RI.

Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa ulama yang hadir berasal dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua.
Jokowi mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat persatuan, kerukunan, toleransi, serta kerja sama antara ulama dan umara. Menurutnya, zikir merupakan bagian dari ikhtiar karena setiap usaha tetap harus disertai doa kepada Allah SWT.
Menjadi Agenda Tahunan
Tradisi tersebut berlanjut pada 2018 dalam rangka HUT ke-73 RI. Saat itu Presiden Jokowi mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan menjelang pesta demokrasi.

Ia mengajak masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan pilihan politik sebagai penyebab perpecahan. Zikir Kebangsaan kala itu dihadiri ratusan ulama dan ribuan santri dari berbagai daerah, termasuk KH Ma'ruf Amin, KH Said Aqil Siradj, KH Maimun Zubair, serta sejumlah tokoh pesantren.
Pada 2019, format kegiatan berubah menjadi Doa Kebangsaan 74 Tahun Indonesia Merdeka yang tetap berlangsung di halaman Istana Merdeka sebagai pembuka rangkaian HUT RI.

Pandemi Mengubah Pelaksanaan
Pandemi COVID-19 membuat pelaksanaan kegiatan mengalami penyesuaian. Pada 2020, pemerintah tidak menyelenggarakan Zikir dan Doa Kebangsaan karena pembatasan aktivitas masyarakat.

Setahun kemudian, pada 2021, kegiatan dilaksanakan secara virtual seiring masih berlangsungnya pandemi.
Memasuki 2022 saat kondisi mulai membaik, kegiatan kembali digelar. Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi mengingatkan tantangan global akibat pandemi dan perang Ukraina yang berdampak pada ekonomi dunia. Ia juga menyinggung besarnya subsidi energi yang masih ditanggung pemerintah sebagai bentuk perlindungan kepada masyarakat.

Mensyukuri Pemulihan Pascapandemi
Pada peringatan HUT ke-78 RI tahun 2023, Presiden Jokowi mengajak masyarakat mensyukuri keberhasilan Indonesia keluar dari pandemi COVID-19.

Ia mengenang situasi mencekam ketika pandemi melanda serta menilai Indonesia mampu memulihkan kondisi ekonomi lebih cepat dibanding banyak negara lain yang masih menghadapi tekanan ekonomi global.
Setahun berikutnya, pada HUT ke-79 RI tahun 2024, Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) kembali dipercaya menjadi panitia pelaksana.

Momentum tersebut menjadi salah satu acara terakhir Presiden Jokowi dalam rangkaian peringatan HUT RI sebagai kepala negara. Dalam sambutannya, Jokowi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas berbagai kekurangan selama memimpin Indonesia.
Era Pemerintahan Baru
Pada HUT ke-80 RI tahun 2025, lokasi kegiatan berpindah ke Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Acara mengusung semangat persatuan bangsa, perdamaian dunia, dan keberkahan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pelaksanaannya melibatkan Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon.
Memasuki HUT ke-81 RI pada 2026, Zikir dan Doa Kebangsaan kembali digelar, kali ini di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta.
Presiden Prabowo Subianto tidak menghadiri kegiatan tersebut. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan salam Presiden kepada seluruh peserta dan menjelaskan bahwa Prabowo berhalangan hadir karena menjalankan tugas kenegaraan.
Dalam pidatonya, Nasaruddin mengatakan Presiden sebenarnya memiliki keinginan untuk hadir bersama para ulama, tokoh agama, dan masyarakat yang mengikuti doa kebangsaan.

Sejak tradisi ini dimulai pada 2017, Zikir dan Doa Kebangsaan telah melewati berbagai fase, mulai dari kondisi normal, pandemi COVID-19, hingga pergantian pemerintahan. Kegiatan ini tetap dipertahankan sebagai pembuka rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan menjadi simbol ikhtiar spiritual sekaligus penguat persatuan nasional.
Komentar