Tradisi Zikir dan Doa Kebangsaan HUT RI

Sejarah Zikir dan Doa Kebangsaan HUT RI sejak 2017 hingga 2026. Tradisi lintas pemerintahan yang menjadi pembuka rangkaian HUT RI.

Tradisi Zikir dan Doa Kebangsaan HUT RI
100 Ribu Jemaah hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan Jelang HUT RI ke-81 di Kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Sabtu (1/8/2026)

Frame Daily, JAKARTA - Zikir dan Doa Kebangsaan telah menjadi salah satu agenda pembuka dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Tradisi ini pertama kali digelar pada 2017 di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan terus dipertahankan hingga memasuki peringatan HUT ke-81 RI pada 2026.

Selama hampir satu dekade, kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi ulama, tokoh agama, santri, dan masyarakat untuk memanjatkan doa bagi bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan dan pendiri negara.

Berawal dari HUT ke-72 RI pada 2017

Pemerintah untuk pertama kalinya menggelar Zikir Akbar Kebangsaan pada 1 Agustus 2017 di Halaman Istana Merdeka, Jakarta. Acara mengusung tema Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan dan menjadi pembuka rangkaian peringatan HUT ke-72 RI.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden ke-12 RI Jusuf Kalla menghadiri Zikir Kebangsaan bertajuk “Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan” yang digelar di Halaman Istana Merdeka, Selasa (1/8/2017).

Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa ulama yang hadir berasal dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua.

Jokowi mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat persatuan, kerukunan, toleransi, serta kerja sama antara ulama dan umara. Menurutnya, zikir merupakan bagian dari ikhtiar karena setiap usaha tetap harus disertai doa kepada Allah SWT.

Menjadi Agenda Tahunan

Tradisi tersebut berlanjut pada 2018 dalam rangka HUT ke-73 RI. Saat itu Presiden Jokowi mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan menjelang pesta demokrasi.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden ke-12 RI Jusuf Kalla hadir pada Zikir Kebangsaan dalam rangka HUT ke-73 RI, Rabu (1/8/2018)

Ia mengajak masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan pilihan politik sebagai penyebab perpecahan. Zikir Kebangsaan kala itu dihadiri ratusan ulama dan ribuan santri dari berbagai daerah, termasuk KH Ma'ruf Amin, KH Said Aqil Siradj, KH Maimun Zubair, serta sejumlah tokoh pesantren.

Pada 2019, format kegiatan berubah menjadi Doa Kebangsaan 74 Tahun Indonesia Merdeka yang tetap berlangsung di halaman Istana Merdeka sebagai pembuka rangkaian HUT RI.

Presiden ke-7 RI dan Wakil Presiden ke-12 RI Jusuf Kalla menghadiri Doa Kebangsaan 74 tahun Indonesia Merdeka di halaman Istana Merdeka, Kamis (1/8/2019)

Pandemi Mengubah Pelaksanaan

Pandemi COVID-19 membuat pelaksanaan kegiatan mengalami penyesuaian. Pada 2020, pemerintah tidak menyelenggarakan Zikir dan Doa Kebangsaan karena pembatasan aktivitas masyarakat.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin menghadiri Zikir dan Doa Kebangsaan 76 tahun Indonesia Merdeka secara virtual, Minggu (1/8/2021).

Setahun kemudian, pada 2021, kegiatan dilaksanakan secara virtual seiring masih berlangsungnya pandemi.

Memasuki 2022 saat kondisi mulai membaik, kegiatan kembali digelar. Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi mengingatkan tantangan global akibat pandemi dan perang Ukraina yang berdampak pada ekonomi dunia. Ia juga menyinggung besarnya subsidi energi yang masih ditanggung pemerintah sebagai bentuk perlindungan kepada masyarakat.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden ke-13 Ma'ruf Amin menghadiri Zikir dan Doa Kebangsaan, Senin (1/8/2022)

Mensyukuri Pemulihan Pascapandemi

Pada peringatan HUT ke-78 RI tahun 2023, Presiden Jokowi mengajak masyarakat mensyukuri keberhasilan Indonesia keluar dari pandemi COVID-19.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo tengah menyampaikan kata sambutan di sela acara Zikir dan Doa Kebangsaan HUT ke-78 RI di halaman Istana Merdeka Jakarta, Selasa (1/8/2023)

Ia mengenang situasi mencekam ketika pandemi melanda serta menilai Indonesia mampu memulihkan kondisi ekonomi lebih cepat dibanding banyak negara lain yang masih menghadapi tekanan ekonomi global.

Setahun berikutnya, pada HUT ke-79 RI tahun 2024, Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) kembali dipercaya menjadi panitia pelaksana.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin hadir pada Zikir dan Doa Kebangsaan jelang HUT ke-79 RI, Kamis (1/8/2024)

Momentum tersebut menjadi salah satu acara terakhir Presiden Jokowi dalam rangkaian peringatan HUT RI sebagai kepala negara. Dalam sambutannya, Jokowi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas berbagai kekurangan selama memimpin Indonesia.

Era Pemerintahan Baru

Pada HUT ke-80 RI tahun 2025, lokasi kegiatan berpindah ke Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Acara mengusung semangat persatuan bangsa, perdamaian dunia, dan keberkahan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri Zikir dan Doa Kebangsaan HUT ke-80 RI di Tugu Proklamasi Jakarta, Jumat (1/8/2025)

Pelaksanaannya melibatkan Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon.

Memasuki HUT ke-81 RI pada 2026, Zikir dan Doa Kebangsaan kembali digelar, kali ini di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Presiden Prabowo Subianto tidak menghadiri kegiatan tersebut. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan salam Presiden kepada seluruh peserta dan menjelaskan bahwa Prabowo berhalangan hadir karena menjalankan tugas kenegaraan.

Dalam pidatonya, Nasaruddin mengatakan Presiden sebenarnya memiliki keinginan untuk hadir bersama para ulama, tokoh agama, dan masyarakat yang mengikuti doa kebangsaan.

Zikir dan Doa Kebangsaan Jelang HUT ke-81 RI dihadiri Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf beserta tokoh lintas agama di kawasan Monumen Nasional Jakarta, Sabtu (1/8/2026)

Sejak tradisi ini dimulai pada 2017, Zikir dan Doa Kebangsaan telah melewati berbagai fase, mulai dari kondisi normal, pandemi COVID-19, hingga pergantian pemerintahan. Kegiatan ini tetap dipertahankan sebagai pembuka rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan menjadi simbol ikhtiar spiritual sekaligus penguat persatuan nasional.

Ditulis oleh Junaidi Saifuddin

Komentar