Frame Daily, BANGUI — Harapan menemukan korban selamat dari reruntuhan tambang emas di Republik Afrika Tengah semakin menipis. Lebih dari 100 orang tewas dalam insiden yang terjadi di sebuah lokasi tambang emas tradisional di Desa Zamboye, dekat perbatasan dengan Kamerun.
Tim penyelamat hingga Kamis (20/8) masih mengevakuasi jenazah dari lokasi kejadian. Namun, para pekerja tambang setempat mengatakan upaya penyelamatan terkendala minimnya peralatan dan tenaga ahli untuk menangani bencana dalam skala besar.
“Upaya penyelamatan sedang dilakukan, tetapi belum memadai untuk menangani kondisi ini,” kata Jérémie Ngbiri, seorang penambang yang kehilangan saudara dan rekannya dalam insiden tersebut.
Korban Diperkirakan Terus Bertambah
Ngbiri mengatakan dirinya melihat sejumlah korban meninggal akibat kehabisan udara ketika warga berupaya menyelamatkan mereka dari dalam reruntuhan.
Palang Merah setempat turut membantu proses pencarian. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti berapa banyak orang yang masih tertimbun material tambang.
“Kami masih terus menemukan jenazah,” kata relawan Palang Merah, Gervais Ganagoro. Ia menyebut lebih dari 10 jenazah ditemukan pada Kamis pagi.
“Setiap jam, jenazah terus ditemukan sehingga jumlah korban terus bertambah,” ujarnya.
Pejabat setempat dan Palang Merah pada Rabu (19/8) menyatakan lebih dari 100 orang telah meninggal dunia akibat runtuhnya tambang tersebut. Mereka memperkirakan jumlah korban masih dapat meningkat.
Sejumlah Terowongan Tambang Runtuh
Pengadilan Subprefektur Baboua menyatakan sejumlah terowongan bawah tanah tempat para penambang bekerja runtuh dan memicu longsoran material.
Penyelidikan telah dibuka untuk mengetahui penyebab runtuhnya terowongan, mengidentifikasi para korban, serta menentukan pihak yang bertanggung jawab atas pengoperasian lokasi tambang tersebut. Penyelidikan juga akan menentukan ada atau tidaknya unsur pidana dalam kejadian itu.

Menteri Pertambangan Republik Afrika Tengah Rufin Benam Beltoungou menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia juga mengingatkan para penambang mengenai bahaya praktik pertambangan yang tidak memenuhi standar keselamatan.
Pertambangan Tradisional Minim Keselamatan
Kecelakaan di lokasi tambang tradisional kerap terjadi di Republik Afrika Tengah. Ribuan orang bekerja di sektor pertambangan skala kecil dengan perlindungan keselamatan yang sangat terbatas.
Lubang-lubang tambang umumnya digali secara manual dan dapat mencapai kedalaman beberapa meter.
“Keselamatan di lokasi-lokasi tambang tersebut belum terjamin,” kata Chekoua Justin Landry, manajer program Forests and Rural Development, organisasi nirlaba asal Kamerun yang bergerak di bidang tata kelola sumber daya alam dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.
Menurut Landry, dinding lubang tambang umumnya tidak diperkuat sehingga rentan longsor, terutama saat musim hujan.
Abdon Adamou, Wali Kota Garoua-Boulai, Kamerun, yang wilayahnya berada dekat lokasi tambang, mengatakan hujan deras diduga telah melemahkan struktur tanah di kawasan tersebut. (AP)
Komentar