Syahrini Ungkap Duka Dua Kali Keguguran Sebelum Kehadiran Baby R

Sebelum dikaruniai "Baby R" setelah penantian enam tahun, Syahrini sempat mengalami dua kali keguguran—salah satunya kehilangan janin kembar saat berada di Amerika Serikat. Momen penderitaan tersebut semakin berat lantaran bertepatan dengan pandemi COVID-19.

Syahrini Ungkap Duka Dua Kali Keguguran Sebelum Kehadiran Baby R
Penyanyi Syahrini akhirnya buka suara mengenai perjuangan beratnya mendapatkan buah hati di awal pernikahan bersama Reino Barack (Dok. Instagram @princessyahrini)

Frame Daily, Jakarta - Di balik gemerlap kehidupan selebritas dan kebahagiaan yang kerap ditampilkan di media sosial, penyanyi Syahrini menyimpan kisah pilu yang mendalam. Istri dari pengusaha Reino Barack ini untuk pertama kalinya secara terbuka membagikan perjuangan emosional serta fisiknya dalam upaya mendapatkan anak, sebuah perjalanan panjang yang diwarnai duka akibat dua kali keguguran.

Pengakuan jujur tersebut disampaikan Syahrini melalui tayangan di kanal YouTube miliknya, The Princess Syahrini. Penyanyi yang dikenal dengan gaya panggungnya yang khas ini menceritakan bahwa di masa-masa awal pernikahannya, impian untuk segera menimang buah hati harus berhadapan dengan kenyataan pahit.

Pengalaman keguguran pertama dialami Syahrini ketika usia kandungannya baru memasuki tiga bulan. Kehilangan calon anak pertama tentu memberikan pukulan emosional yang tidak ringan bagi pasangan yang menikah pada awal 2019 tersebut. Namun, cobaan yang jauh lebih berat menghantam pada kehamilan keduanya.

Saat sedang berlibur di Aspen, Colorado, Amerika Serikat, Syahrini kembali mendapati dirinya hamil. Sayangnya, kehamilan tersebut tidak berjalan mulus. Ia kembali mengalami pendarahan dan harus merelakan janin yang dikandungnya. Yang membuat hatinya makin hancur adalah fakta yang baru terungkap saat menjalani tindakan medis penanganan keguguran.

"Ternyata pas dikuret anakku kembar. Itu sedih banget. Rasanya melebihi putus cinta, melebihi kehilangan apa pun," ungkap Syahrini saat mengenang momen memilukan tersebut.

Kehilangan dua calon bayi sekaligus dalam satu waktu menjadi titik terendah dalam perjalanan mentalnya. Dampak medis dari dua kali keguguran berturut-turut itu juga memaksa tim dokter memberikan instruksi tegas. Syahrini diwajibkan untuk menunda program kehamilan dan tidak boleh hamil terlebih dahulu selama minimal satu tahun demi memulihkan kondisi rahim serta kesehatan fisiknya secara menyeluruh.

Situasi pilu yang dihadapi Syahrini terasa kian menghimpit karena dinamika global saat itu. Dunia tengah dihantam wabah pandemi COVID-19 yang memberlakukan pembatasan aktivitas secara ketat di mana-mana.

Usai kejadian di Amerika Serikat, Syahrini harus menjalani prosedur pemulihan medis dan fisik di Singapura. Pada saat bersamaan, Pemerintah Singapura menerapkan kebijakan pembatasan ketat (lockdown). Isolasi mandiri dan keterbatasan ruang gerak di negara tetangga tersebut memperberat beban psikologis yang sedang ia tanggung.

Di tengah situasi serba terbatas dan jauh dari kerabat dekat, ketahanan mental Syahrini diuji habis-habisan. Rasa duka akibat kehilangan calon buah hati bercampur dengan kecemasan akan kondisi kesehatan global saat itu. Dukungan moral dari sang suami, Reino Barack, menjadi salah satu pilar utama yang membuatnya mampu bertahan melewati masa-masa kelam tersebut.

Setelah melewati masa pemulihan fisik yang memakan waktu lama serta penantian sabar selama enam tahun, kebahagiaan yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Pasangan Syahrini dan Reino Barack akhirnya dikaruniai seorang bayi perempuan yang disapa dengan sebutan "Baby R".

Kehadiran Baby R tidak hanya mengakhiri penantian panjang mereka, tetapi juga menjadi penawar duka atas trauma masa lalu. Bagi Syahrini, setiap proses pahit yang dilaluinya memiliki makna spiritual tersendiri. Meski pernah kehilangan tiga calon anak (satu pada kehamilan pertama dan janin kembar pada kehamilan kedua), ia memilih untuk memandangnya dari sudut pandang keimanan dan kepasrahan.

Syahrini percaya bahwa tiga calon buah hatinya yang telah tiada kini berada di tempat terbaik dan menunggunya kelak. Keputusannya untuk akhirnya membagikan kisah personal ini diharapkan dapat menjadi penguat bagi sesama perempuan atau pasangan suami istri yang saat ini sedang berjuang menghadapi ujian serupa dalam menantikan buah hati.

Ditulis oleh Defi

Komentar