Frame Daily, Jakarta – Ledakan kecerdasan artifisial mulai menciptakan industri baru di Indonesia yang nilainya berpotensi mencapai miliaran dolar AS. Bukan aplikasi AI atau chatbot, melainkan infrastruktur fisik yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja: data center.
Pemerintah mencatat kapasitas pusat data yang telah beroperasi di Indonesia sekitar 580 megawatt (MW). Namun, proyek yang masuk dalam pipeline investasi mencapai sekitar 1,3 gigawatt (GW).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan tambahan investasi yang terkait dengan proyek tersebut dapat mencapai US$15 miliar hingga US$20 miliar.
Gelombang investasi itu semakin terlihat setelah perusahaan AI cloud asal Amerika Serikat, CoreWeave, mengumumkan ekspansi pertamanya ke Asia-Pasifik melalui Indonesia. Perusahaan akan membangun tiga fasilitas dengan total contracted IT power 360 MW yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Namun, pembangunan pusat data AI tidak hanya menghasilkan bisnis bagi perusahaan seperti CoreWeave.
Di belakang setiap fasilitas terdapat rantai ekonomi yang panjang: listrik, konstruksi, lahan industri, fiber optik, sistem pendinginan, keamanan, hingga tenaga ahli. Pertanyaannya kemudian bergeser: siapa yang paling diuntungkan jika Indonesia benar-benar mengalami ledakan pembangunan data center AI?
Listrik, Konstruksi hingga Fiber Optik Ikut Menikmati
Pemenang yang paling mudah terlihat adalah sektor energi. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan harus beroperasi hampir tanpa henti. Kebutuhan tersebut semakin besar untuk fasilitas AI karena ribuan GPU bekerja secara bersamaan untuk melatih maupun menjalankan model kecerdasan artifisial.
Skalanya sudah mulai terlihat di Indonesia. Pada April 2026, PLN melalui PLN Batam menandatangani perjanjian penyediaan listrik hingga 511 MVA untuk proyek data center global DayOne di Batam. PLN menyebut kontrak tersebut sebagai perjanjian jual beli tenaga listrik terbesar untuk data center di Indonesia saat diumumkan.
Artinya, pertumbuhan data center sekaligus menciptakan kelompok pelanggan industri baru bagi perusahaan listrik. Namun peluangnya tidak berhenti di sana. Data center membutuhkan gedung khusus, gardu listrik, generator cadangan, baterai, uninterruptible power supply (UPS), sistem pendinginan, sistem pemadam kebakaran, keamanan, hingga berbagai perangkat mekanikal dan elektrikal.
Semakin banyak kapasitas yang dibangun, semakin besar pula potensi pekerjaan bagi perusahaan engineering, procurement and construction (EPC) serta pemasok peralatan pendukung.
Dalam hal ini jaringan telekomunikasi juga menjadi bagian penting. Data dalam jumlah sangat besar harus bergerak antara data center, pengguna, perusahaan cloud, dan jaringan internasional dengan latensi serendah mungkin. Karena itu, ekspansi pusat data dapat meningkatkan kebutuhan terhadap fiber optik, kabel bawah laut, internet exchange, dan jaringan telekomunikasi berkapasitas tinggi.
Pemerintah bahkan menempatkan pengembangan data center bersama AI, semikonduktor, dan talenta digital sebagai bagian penting dari penguatan ekosistem digital nasional.
Baca juga: CoreWeave Masuk Indonesia, Pasar Infrastruktur AI Makin Panas
Bisnis Baru Muncul di Sekitar Data Center
Ada lapisan bisnis lain yang lebih menarik: ekosistem di sekitar pusat data. Operator membutuhkan layanan pemeliharaan, keamanan siber, manajemen energi, perangkat jaringan, penyimpanan data, cloud, hingga tenaga teknis yang mampu mengoperasikan infrastruktur komputasi berperforma tinggi.
Dengan AI, kebutuhan tersebut akan semakin kompleks. Data center konvensional banyak digunakan untuk menyimpan dan memproses data perusahaan. AI data center harus menangani klaster GPU dengan kepadatan komputasi dan kebutuhan energi yang jauh lebih tinggi.
Itulah sebabnya peluang tidak hanya terbuka bagi perusahaan properti atau konstruksi, tetapi juga perusahaan teknologi yang menyediakan GPU, server, jaringan, sistem pendinginan cair, perangkat lunak pengelolaan data center hingga keamanan siber.
Indonesia sendiri memiliki pasar yang mendukung pertumbuhan tersebut. Pemerintah memproyeksikan nilai ekonomi digital nasional melampaui US$100 miliar pada 2026 dan berpotensi mencapai US$220–360 miliar pada 2030.
Semakin banyak perusahaan menggunakan AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap kapasitas komputasi. Hubungannya kemudian membentuk siklus: adopsi AI meningkatkan kebutuhan compute, kebutuhan compute mendorong pembangunan data center, sementara bertambahnya kapasitas data center membuat layanan AI semakin mudah tersedia.
Tetapi ada satu sektor yang tidak otomatis memperoleh manfaat: tenaga kerja Indonesia. Pemerintah telah mengingatkan bahwa investasi AI asing tidak boleh berhenti pada pembangunan fasilitas fisik. Investasi harus menghasilkan transfer teknologi, peningkatan kemampuan sumber daya manusia, dan penguatan ekosistem inovasi nasional.
Ini penting karena data center merupakan industri padat modal dan teknologi. Nilai investasinya bisa sangat besar, tetapi manfaat jangka panjang bagi ekonomi nasional akan berbeda jika sebagian besar perangkat, teknologi, dan tenaga ahli tetap berasal dari luar negeri.
Karena itu, ukuran keberhasilan ledakan data center Indonesia tidak cukup dihitung dari berapa gigawatt kapasitas yang berhasil dibangun. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa besar rantai pasok domestik yang ikut tumbuh bersamanya.
Komentar