Sering Haus Bukan Satu-satunya Tanda, Kenali Gejala Tubuh Kekurangan Cairan

Dehidrasi tidak hanya ditandai rasa haus. Simak tanda-tanda tubuh kekurangan cairan, penyebab, serta langkah pencegahannya menurut WHO dan Kementerian Kesehatan.

Sering Haus Bukan Satu-satunya Tanda, Kenali Gejala Tubuh Kekurangan Cairan
Minum air putih secara rutin membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mengurangi risiko dehidrasi. (Foto Ilustrasi/AI/framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta – Air merupakan komponen utama penyusun tubuh manusia dan berperan penting dalam menjaga suhu tubuh, melancarkan sirkulasi darah, membantu proses pencernaan, hingga mengangkut nutrisi ke seluruh organ. Ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang dikonsumsi, kondisi tersebut dikenal sebagai dehidrasi atau kekurangan cairan.

Menurut World Health Organization (WHO), dehidrasi dapat terjadi akibat kurang minum, cuaca panas, aktivitas fisik berat, diare, muntah, maupun demam. Jika tidak segera ditangani, dehidrasi dapat mengganggu fungsi organ dan meningkatkan risiko komplikasi, terutama pada bayi, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Mengapa Tubuh Membutuhkan Cairan?

Sekitar 50–70 persen tubuh manusia terdiri atas air yang berfungsi menjaga keseimbangan elektrolit, mengatur suhu tubuh melalui keringat, melumasi sendi, serta membantu ginjal membuang zat sisa metabolisme. Ketika cairan tubuh berkurang, berbagai fungsi tersebut ikut terganggu sehingga memunculkan gejala yang sering kali diabaikan.

Tanda-Tanda Tubuh Kekurangan Cairan

Dehidrasi tidak selalu diawali rasa haus. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Rasa haus berlebihan.
  • Mulut, bibir, dan tenggorokan terasa kering.
  • Urine berwarna kuning pekat atau jumlahnya berkurang.
  • Tubuh mudah lelah dan lemas.
  • Pusing, terutama saat berdiri.
  • Sakit kepala.
  • Kulit terasa kering dan kurang elastis.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Jantung berdebar lebih cepat.

Pada kondisi yang lebih berat, dehidrasi dapat menyebabkan tekanan darah menurun, kebingungan, penurunan kesadaran, hingga syok sehingga memerlukan penanganan medis segera.

Siapa yang Paling Berisiko?

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami dehidrasi, yaitu:

  • Bayi dan anak-anak.
  • Lansia.
  • Ibu hamil dan menyusui.
  • Pekerja luar ruangan.
  • Atlet.
  • Orang yang mengalami diare, muntah, atau demam.
  • Penderita penyakit ginjal dan diabetes.

Kelompok tersebut memerlukan perhatian lebih terhadap asupan cairan, terutama saat cuaca panas atau ketika sedang sakit.

Penyebab Dehidrasi yang Sering Terjadi

Selain kurang minum, dehidrasi dapat dipicu oleh:

  • Aktivitas fisik berat tanpa mengganti cairan yang hilang.
  • Paparan cuaca panas dalam waktu lama.
  • Diare dan muntah.
  • Demam tinggi.
  • Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Penggunaan obat tertentu, seperti diuretik, sesuai anjuran dokter.
0:00
/0:10

Baca juga : Air Mineral vs Air Alkali, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Cara Mencegah Kekurangan Cairan

Menjaga kecukupan cairan merupakan langkah paling efektif untuk mencegah dehidrasi. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

  • Minum air putih secara rutin tanpa menunggu rasa haus.
  • Tingkatkan konsumsi cairan saat cuaca panas atau setelah berolahraga.
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayuran yang mengandung banyak air, seperti semangka, melon, jeruk, dan mentimun.
  • Batasi konsumsi minuman tinggi gula dan alkohol.
  • Gunakan pakaian yang nyaman saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Segera mengganti cairan yang hilang ketika mengalami diare atau muntah sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera mencari pertolongan medis apabila dehidrasi disertai:

  • Tidak dapat minum karena muntah terus-menerus.
  • Penurunan kesadaran.
  • Kejang.
  • Tidak buang air kecil dalam waktu lama.
  • Diare berat yang berlangsung lebih dari satu hari pada orang dewasa atau beberapa jam pada anak.

Penanganan yang cepat dapat mencegah komplikasi serius akibat kekurangan cairan.

Kesimpulan

Dehidrasi merupakan kondisi yang dapat dialami siapa saja dan tidak boleh dianggap sepele. Mengenali tanda-tanda awal seperti haus berlebihan, urine berwarna pekat, tubuh lemas, hingga pusing dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius. Menjaga kebiasaan minum air putih yang cukup, terutama saat cuaca panas atau ketika tubuh kehilangan banyak cairan, menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan.

Referensi

  1. World Health Organization (WHO) – Informasi mengenai hidrasi dan dampak dehidrasi.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Edukasi pencegahan dehidrasi dan pentingnya konsumsi air putih.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) – Panduan mengenali dan mencegah dehidrasi.
Ditulis oleh Shidarta

Komentar