Frame Daily, Malinau, Kalimantan Utara, – Bank Indonesia (BI) mencatat sekitar 65 persen layanan publik di Kalimantan Utara (Kaltara) telah menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran nontunai.
Perkembangan tersebut menunjukkan percepatan digitalisasi transaksi di sektor publik sekaligus meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap layanan pembayaran berbasis teknologi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik, mengatakan perubahan pola pembayaran terjadi cukup signifikan dibandingkan sebelumnya ketika sebagian besar transaksi layanan publik masih dilakukan secara tunai.
"Berdasarkan data yang kami peroleh se-Kaltara, di sektor-sektor publik yang tadinya 100 persen secara tunai pembayarannya, sekarang 65 persen sudah menggunakan transaksi QRIS," ujar Agus Taufik saat menghadiri peluncuran Pelabuhan Speedboat Malinau Siap QRIS di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Selasa (21/7/2026).
Elektronifikasi Layanan Pemerintah Daerah Meningkat
Agus menyebut meningkatnya penggunaan QRIS menjadi indikator bahwa akseptasi pembayaran digital di Kaltara terus berkembang. Digitalisasi tersebut tidak hanya terjadi pada masyarakat, tetapi juga mulai diterapkan dalam layanan publik pemerintah daerah.
Menurut dia, perkembangan itu tercermin dari Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (IETPD) Kabupaten Malinau yang telah mencapai kategori level digital.
Capaian tersebut menunjukkan kesiapan pemerintah daerah dalam mengembangkan sistem pembayaran elektronik untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Transaksi Non-Tunai Tidak Hanya Melalui QRIS
Meski penggunaan QRIS meningkat, sebagian masyarakat masih menggunakan metode pembayaran digital lainnya.
Agus menjelaskan sekitar 35 persen transaksi lainnya telah menggunakan kanal nontunai seperti layanan perbankan melalui teller maupun Anjungan Tunai Mandiri (ATM).
Kelompok masyarakat yang lebih senior masih memiliki kecenderungan menggunakan layanan perbankan konvensional karena faktor kebiasaan dan kenyamanan.
"Beberapa kelompok masyarakat, khususnya generasi muda, lebih banyak menggunakan telepon pintar yang memiliki berbagai aplikasi dalam satu genggaman sehingga familier dengan QRIS," kata Agus.
Digitalisasi Pelabuhan Dorong Efisiensi Pembayaran
Penerapan QRIS di Pelabuhan Speedboat Malinau menjadi salah satu langkah memperluas penggunaan pembayaran digital pada sektor transportasi.
Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat melakukan pembayaran tiket secara nontunai sehingga proses transaksi menjadi lebih cepat, praktis, dan efisien.
Bupati Malinau Wempi W. Mawa mengatakan penerapan QRIS membantu meningkatkan pelayanan transportasi sungai bagi masyarakat.
"Dengan adanya kemudahan dari Bank Indonesia dengan QRIS ini, pelayanan pembelian tiket speedboat bisa dilakukan secara mudah, cepat dan efisien, sehingga tidak perlu melakukan transaksi melalui tunai," ujar Wempi saat peluncuran layanan QRIS di Pelabuhan Speedboat Malinau, Selasa (21/7/2026). Dikutip dari ANTARA
QRIS Jadi Bagian Transformasi Ekonomi Digital
Perluasan QRIS menjadi bagian dari strategi Bank Indonesia dalam mempercepat transformasi sistem pembayaran nasional.
Digitalisasi pembayaran dinilai dapat memberikan manfaat berupa efisiensi transaksi, kemudahan akses layanan, serta peningkatan inklusi keuangan masyarakat.
Perkembangan penggunaan QRIS di daerah juga menjadi indikator bahwa transformasi ekonomi digital tidak hanya berlangsung di kota besar, tetapi mulai menjangkau wilayah regional melalui kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, dan Bank Indonesia.
Analisis Frame Daily
Capaian 65 persen penggunaan QRIS pada layanan publik Kaltara menunjukkan perubahan perilaku transaksi masyarakat menuju sistem pembayaran digital.
Tantangan berikutnya adalah memperluas edukasi kepada kelompok masyarakat yang masih menggunakan metode pembayaran konvensional serta memastikan infrastruktur digital tersedia secara merata.
Percepatan digitalisasi pembayaran akan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang lebih efisien, transparan, dan inklusif.
Komentar