Pemerintah Pelajari Pengalaman Toyota untuk Perkuat Industri Otomotif Indonesia

“Pemerintah mempelajari pengalaman Toyota dalam teknologi, pengembangan SDM, dan rantai pasok untuk memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia.”

Pemerintah Pelajari Pengalaman Toyota untuk Perkuat Industri Otomotif Indonesia
Pemerintah mempelajari pengalaman Toyota dalam membangun kapabilitas industri melalui inovasi, penguasaan teknologi, pengembangan SDM dan penguatan rantai pasok sebagai masukan bagi penguatan industri otomotif nasional. Ilustrasi AI : Framedaily.id

Frame Daily, Jakarta - Pemerintah mempelajari pengalaman Toyota dalam membangun industri berdaya saing global sebagai salah satu referensi untuk memperkuat industri manufaktur dan otomotif Indonesia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Nagoya, Jepang, yang dilanjutkan dengan pertemuan bersama pelaku industri otomotif nasional dan mitra Jepang pada Sabtu (19/9/2026). Pemerintah melihat ada tiga fondasi yang saling berkaitan dalam meningkatkan daya saing industri, yakni penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan penguatan ekosistem rantai pasok.

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso sebelumnya mengunjungi Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology (TCMIT) di Nagoya pada Jumat (18/9). Kunjungan tersebut digunakan untuk mempelajari perjalanan Toyota membangun kapabilitas industri melalui inovasi, teknologi dan budaya manufaktur.

Menurut Susiwijono, pengalaman Toyota relevan dengan upaya Indonesia meningkatkan daya saing manufaktur sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global.

Teknologi, SDM dan Rantai Pasok Jadi Perhatian

Pemerintah tidak sekadar melihat perkembangan produk Toyota. Fokusnya adalah bagaimana sebuah industri membangun kemampuan produksi dan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dalam jangka panjang.

Kemenko Perekonomian menilai industri otomotif strategis karena memiliki rantai nilai panjang yang terhubung dengan industri komponen, logistik, jasa dan berbagai sektor pendukung lainnya.

Hubungan Toyota dengan industri Indonesia sendiri telah berlangsung lebih dari lima dekade. Berdasarkan data yang disampaikan Kemenko Perekonomian, Toyota Indonesia telah memproduksi 10 juta unit kendaraan, dengan lebih dari 3 juta unit di antaranya diekspor ke lebih dari 100 negara.

Investasi Toyota Group di Indonesia disebut telah mencapai sekitar Rp100 triliun, sementara ekosistemnya melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja.

Kemenko Perekonomian juga mencatat tingkat kandungan lokal dalam ekosistem produksi Toyota di Indonesia telah melampaui 80 persen. Rantai produksinya didukung lebih dari 240 pemasok Tier-1 serta sekitar 520 pemasok Tier-2 dan Tier-3.

Data tersebut menunjukkan posisi Indonesia dalam ekosistem Toyota tidak hanya sebagai pasar kendaraan, tetapi juga sebagai basis produksi dan ekspor.

Elektrifikasi Buka Rantai Industri Baru

Perubahan menuju kendaraan elektrifikasi menjadi bagian lain yang diperhatikan pemerintah. Transformasi tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas rantai nilai industri, mulai dari baterai dan komponen hingga daur ulang serta pengembangan tenaga kerja dengan keterampilan teknologi baru.

Dalam konteks ini, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) pada April 2026 mengumumkan kemitraan strategis dengan CATL untuk pengembangan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Menurut Kemenko Perekonomian, nilai investasi kemitraan tersebut mencapai Rp1,3 triliun, mencakup pengembangan sel dan modul baterai. Indonesia diproyeksikan menjadi basis ekspor baterai Toyota ke pasar global mulai semester II 2026.

Pemerintah melihat pengembangan ekosistem elektrifikasi bukan hanya persoalan memproduksi kendaraan listrik. Tantangannya juga mencakup seberapa besar industri komponen domestik, tenaga kerja dan rantai pasok Indonesia dapat mengambil bagian dalam perubahan teknologi tersebut.

Pemerintah Dengarkan Masukan Industri

Rangkaian kunjungan di Nagoya kemudian ditutup dengan Business Discussion Lunch pada Sabtu (19/9), yang mempertemukan delegasi Kemenko Perekonomian dengan pelaku industri otomotif nasional dan mitra Jepang. Pertemuan itu dihadiri jajaran TMMIN serta pimpinan dunia usaha dari Denso, Aisin dan Advics.

Dalam pertemuan tersebut, pelaku usaha menyampaikan sejumlah persoalan terkait iklim investasi di Indonesia, termasuk perizinan, akses pembiayaan bagi industri kecil dan menengah pendukung otomotif, serta sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam masa transisi menuju kendaraan listrik. Pemerintah menyatakan masukan tersebut akan menjadi bagian dari penyempurnaan kebijakan dan penanganan hambatan investasi.

Ekspor Jadi Bagian Strategi

Penguatan industri juga diarahkan untuk memperbesar akses produk Indonesia ke pasar internasional. Pemerintah menyebut Indonesia telah menandatangani 25 perjanjian perdagangan internasional, baik dalam bentuk Free Trade Agreement (FTA) maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Perjanjian tersebut diposisikan sebagai salah satu instrumen untuk memperluas akses pasar bagi produk Indonesia.

Bagi industri otomotif, perluasan pasar menjadi penting karena Indonesia telah menjadi basis produksi untuk ekspor ke lebih dari 100 negara.

Meski demikian pengalaman Toyota yang dipelajari pemerintah tidak berarti seluruh strategi perusahaan tersebut akan diterapkan begitu saja sebagai kebijakan nasional. Fokus pemerintah adalah mengambil pelajaran mengenai pembangunan kapabilitas teknologi, kualitas SDM, kekuatan industri komponen dan rantai pasok, serta orientasi ekspor yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri Indonesia.

Tahap berikutnya akan bergantung pada bagaimana hasil dialog pemerintah dengan pelaku industri diterjemahkan menjadi kebijakan konkret, terutama dalam mengatasi hambatan investasi, memperkuat industri komponen lokal dan mempersiapkan transformasi menuju kendaraan elektrifikasi.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar