Publik Figur Ramai-Ramai Kecam Lonjakan Harga Masker Imbas Erupsi Anak Krakatau

Sederet publik figur, mulai dari Deva Mahenra, Nana Mirdad, hingga Anwar BAB, meluapkan kekesalan di media sosial menyoroti praktik "aji mumpung" penjual yang memanfaat kondisi darurat demi keuntungan sepihak.

Publik Figur Ramai-Ramai Kecam Lonjakan Harga Masker Imbas Erupsi Anak Krakatau
Ilustrasi masker (Dok. Pexels)

Frame Daily, Jakarta - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali memicu dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebaran abu vulkanik yang meluas hingga kawasan Jabodetabek membuat tingkat kebutuhan alat pelindung diri, khususnya masker medis dan respirator, melonjak tajam dalam hitungan jam. Sayangnya, lonjakan permintaan ini dimanfaatkan oleh oknum penjual nakal untuk menaikkan harga barang secara tidak wajar. Fenomena ini langsung memancing keprihatinan sekaligus amarah dari berbagai pihak, termasuk deretan figur publik Tanah Air yang ikut merasakan dampaknya.

Melalui berbagai unggahan di media sosial Threads dan Instagram, sejumlah selebritas dan kreator konten blak-blakan menyoroti aksi price gouging atau permainan harga yang membumbung tinggi. Aktor Deva Mahenra, misalnya, tanpa ragu mengecam perilaku segelintir masyarakat yang memanfaatkan kesusahan sesama demi meraup keuntungan berlipat. Kekecewaan senada diutarakan oleh kreator konten kuliner Nex Carlos yang menyuarakan agar kritik terhadap praktik spekulasi harga ini disebarkan lebih masif.

Sorotan tajam juga datang dari aktris Nana Mirdad. Dalam unggahannya, Nana membeberkan fakta temuan harga masker berstandar khusus yang semula dibanderol sekitar Rp12.000 per buah mendadak melonjak hingga mencapai Rp180.000. Sebagai sosok yang memahami gambaran harga distributor produk perlindungan pernapasan, Nana menyebut kenaikan harga spontan yang mencapai belasan kali lipat tersebut sangat tidak masuk akal dan nir-kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa kendati prinsip berjualan adalah mencari keuntungan, memanfaatkan situasi darurat bencana untuk "memperas" pembeli adalah tindakan yang sangat tidak etis.

Pengalaman serupa dialami oleh komedian dan pembawa acara Anwar BAB. Anwar mengaku turun langsung ke beberapa minimarket untuk mencari masker dengan harga wajar, namun justru mendapati stok barang yang ludes atau dipatok dengan harga yang di luar nalar. Kesulitan mengakses barang kebutuhan dasar ini membuat keresahan di tengah masyarakat kian meluas.

Tidak hanya diwarnai kekecewaan, reaksi publik juga diwarnai kritik satir. Selebgram Jek menyindir para penimbun dan pemoles harga masker melalui kelakar pedas yang mendoakan agar pelaku kejahatan pasar tersebut mendapat balasan setimpal atas perbuatannya. Sementara itu, Annissa Soebandono dan Tantri Namirah turut menyuarakan imbauan agar para penjual menghentikan aksi "aji mumpung". Mereka mengingatkan bahwa situasi bencana seharusnya menjadi momen bagi warga untuk saling bahu-membahu, bukan malah memperberat beban sesama.

Fenomena melonjaknya harga masker saat bencana bukanlah hal baru, namun kejadian berulang ini menjadi tamparan keras terkait pentingnya regulasi dan pengawasan distribusi alat kesehatan pada kondisi darurat. Ketika ancaman kesehatan nyata berada di depan mata akibat paparan abu vulkanik, kemudahan akses masyarakat terhadap alat pelindung diri seyogianya menjadi prioritas. Aksi protes yang disuarakan oleh para figur publik ini menjadi pengingat tegas bahwa kesadaran etika berbisnis dan kepedulian sosial harus tetap dijaga, terutama di saat masyarakat sedang berjuang menghadapi masa-masa sulit.

Ditulis oleh Defi

Komentar