Frame Daily, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan mengakui pelayanan jemaah di Mina menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026. Karena itu, ia meminta seluruh jajaran Kementerian Haji dan Umrah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh proses layanan tanpa ada persoalan yang ditutup-tutupi.
Pernyataan tersebut disampaikan Irfan saat memberikan arahan di Lapangan Makodau I, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (4/7/2026).
“Termasuk bagaimana kita bisa memperbaiki pelayanan kita di Mina. Kita tahu Mina menjadi salah satu titik kelemahan kita dalam pelayanan kemarin,” kata Irfan.
Menurutnya, setiap kekurangan yang ditemukan selama penyelenggaraan haji harus dibuka secara transparan agar menjadi bahan perbaikan pada musim haji mendatang.
Evaluasi Diminta Dilakukan Secara Terbuka
Irfan menegaskan evaluasi tidak boleh dilakukan sekadar sebagai formalitas. Seluruh jajaran diminta menyampaikan berbagai persoalan yang terjadi selama operasional haji tanpa saling menyalahkan.
Menurutnya, budaya terbuka menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pelayanan jemaah pada tahun-tahun berikutnya.
“Saya minta dievaluasi nanti kita tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua harus kita buka berbagai kesalahan, berbagai kekurangan kita buka selebar-lebarnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar kementeriannya tidak cepat berpuas diri meskipun penyelenggaraan haji tahun ini memperoleh berbagai apresiasi dari sejumlah pihak.
Pelayanan Mina Jadi Fokus Pembenahan
Mina menjadi salah satu fase paling krusial dalam rangkaian ibadah haji karena pada waktu yang hampir bersamaan jutaan jemaah berkumpul untuk menjalankan prosesi melontar jumrah. Mobilitas yang sangat tinggi membuat pengaturan transportasi, konsumsi, kesehatan, hingga penempatan jemaah menjadi tantangan besar dalam penyelenggaraan haji.
Karena itu, Menhaj menilai pelayanan di Mina harus menjadi fokus utama evaluasi agar kualitas layanan terhadap jemaah Indonesia dapat semakin ditingkatkan pada musim haji berikutnya.
Angka Kematian Turun, Istitaah Kesehatan Tetap Jadi Sorotan
Selain pelayanan di Mina, Irfan juga menyoroti aspek kesehatan jemaah.
Menurutnya, angka kematian jemaah haji Indonesia memang mengalami penurunan sekitar 25 persen dibandingkan musim haji sebelumnya. Namun, jumlah tersebut dinilai masih cukup tinggi sehingga upaya peningkatan istitaah kesehatan tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Ia menegaskan pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan perlu terus diperkuat agar jemaah yang berangkat benar-benar memenuhi syarat kesehatan untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah.
Inovasi Haji Akan Terus Dilanjutkan
Di sisi lain, Irfan menyebut penyelenggaraan haji 2026 juga menghadirkan sejumlah inovasi yang dinilai memberikan dampak positif bagi jemaah.
Beberapa di antaranya adalah penerapan alokasi kuota provinsi yang disebut lebih berkeadilan, penurunan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sekitar Rp2 juta, serta distribusi Kartu Nusuk kepada jemaah sejak masih berada di Tanah Air.
Menurutnya, berbagai inovasi tersebut akan tetap dipertahankan, sementara aspek pelayanan yang masih lemah akan menjadi prioritas utama pembenahan menjelang musim haji berikutnya.
Komentar