El Niño Belum Pergi sampai 2027, Ini Wilayah Indonesia yang Perlu Waspada Kekeringan dan Karhutla

El Niño sangat kuat masih berdampak pada Indonesia dan diprakirakan bertahan hingga awal 2027. Sejumlah wilayah menghadapi hari tanpa hujan ekstrem dan risiko karhutla.

El Niño Belum Pergi sampai 2027, Ini Wilayah Indonesia yang Perlu Waspada Kekeringan dan Karhutla
El Niño sangat kuat masih berdampak terhadap kondisi kering dan risiko karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. Ilustrasi: Framedaily.id

Frame Daily, jakarta - Fenomena El Niño belum menunjukkan tanda benar-benar pergi dari Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Niño dengan intensitas sangat kuat masih bertahan hingga awal 2027, sementara kondisi musim kemarau membuat sejumlah wilayah Indonesia tetap menghadapi risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam analisis terbaru BMKG untuk periode 18–24 September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan masih mengalami kondisi atmosfer kering. Sejumlah wilayah bahkan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari berturut-turut.

Kondisi tersebut tidak berarti seluruh Indonesia akan kering hingga 2027. Dampak El Niño berbeda menurut wilayah dan musim, sementara hujan tetap dapat terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer lainnya.

Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan Ekstrem

BMKG mencatat HTH kategori ekstrem masih terjadi di Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian utara dan selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, serta Papua Selatan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kombinasi kemarau dan El Niño dapat mengurangi pasokan kelembapan serta memperpanjang periode kering. Dampaknya tidak hanya pada ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Dalam analisis Dasarian I September, BMKG mencatat indeks ENSO tiga bulanan periode Juli–Agustus–September berada pada 2,6, yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat. Anomali suhu muka laut wilayah Niño 3.4 juga tercatat +2,76°C pada dasarian tersebut.

Kalimantan dan Sumatra Jadi Perhatian Karhutla

Risiko karhutla menjadi salah satu konsekuensi paling nyata dari kondisi atmosfer kering. Berdasarkan pemantauan satelit BMKG pada 7–16 September, konsentrasi hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak tercatat di Kalimantan Tengah sebanyak 3.177 titik.

Berikutnya terdapat Sumatera Selatan 1.305 titik, Kalimantan Barat 1.088 titik, dan Papua Selatan 960 titik. Angka tersebut merupakan hasil pemantauan hotspot dan tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktual, tetapi menjadi indikator yang perlu ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan.

BMKG sebelumnya juga menyebut Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur sebagai wilayah yang perlu mendapat perhatian utama dalam pengendalian karhutla.

Kondisi menjadi lebih sulit pada kawasan gambut. Dalam kondisi kering, api dapat menjalar hingga lapisan bawah permukaan sehingga kebakaran lebih sulit dideteksi dan dipadamkan. Asap yang dihasilkan juga dapat menyebar ke wilayah yang lebih luas.

Bukan Berarti Semua Wilayah Tanpa Hujan

Meski El Niño sangat kuat, BMKG masih mencatat hujan terjadi di sejumlah daerah. Pada 14–16 September, hujan lebat bahkan tercatat di Aceh dan Sumatera Barat masing-masing 138 mm per hari, Kalimantan Utara 83 mm per hari, Sumatera Utara 61 mm per hari, serta Papua 56 mm per hari.

Untuk periode 21–24 September, BMKG masih memperkirakan peluang hujan sedang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, sejumlah wilayah Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Karena itu, keberadaan El Niño tidak dapat diterjemahkan sebagai kondisi “tidak akan hujan”. Fenomena atmosfer lain, seperti gelombang Rossby dan Kelvin, tetap dapat memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah tertentu.

Risiko Kekeringan Masih Perlu Dipantau

Peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG untuk Dasarian II September juga menunjukkan sejumlah daerah masuk kategori waspada. Wilayah tersebut mencakup bagian Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sumatera Selatan.

BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan gambut, semak belukar dan hutan.

BMKG sendiri telah memperkuat langkah mitigasi, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan karhutla dan pengelolaan sumber daya air. Pemerintah juga menggunakan pemantauan hotspot sebagai salah satu dasar penentuan wilayah prioritas penanganan.

Dengan El Niño yang diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027, tantangannya bukan sekadar menunggu kapan hujan kembali merata. Kesiapan air, pencegahan karhutla dan pemantauan wilayah yang mengalami hari tanpa hujan panjang menjadi kunci selama periode risiko masih berlangsung.

Follow akun Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta terverifikasi, dan konteks di balik setiap peristiwa.


Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar