Klarifikasi Panas Uan Juicy Luicy yang Berujung Hujatan Soal Attitude

Siaran langsung vokalis Juicy Luicy, Julian Kaisar (Uan), memicu kecaman baru dari publik. Klarifikasi Uan terkait pembatalan panggung mereka di festival XYZ Liveground Batam menjadi sorotan tajam setelah sang vokalis menggunakan umpatan kasar seperti "goblok" dan "belegug" saat menuding panitia.

Klarifikasi Panas Uan Juicy Luicy yang Berujung Hujatan Soal Attitude
Uan Juicy Luicy dalam siaran langsungnya; makian kasar dan respons emosionalnya terhadap panitia memicu kritik tajam dari publik terkait attitude (Dok. Instagram @juicyluicyband)

Frame Daily, Jakarta - Pembatalan sepihak penampilan Juicy Luicy di festival XYZ Liveground Batam, Sabtu (5/9/2026), berbuntut panjang dan kian memanas. Semula, publik hanya menyoroti kegagalan koordinasi logistik bagasi antara pihak manajemen dan event organizer. Namun, fokus netizen seketika bergeser setelah Uan Kaisar melakukan siaran langsung di media sosial untuk menjelaskan posisi pihak band.

Dalam siaran langsung tersebut, Uan menjawab pertanyaan penonton dengan nada tinggi dan lontaran kalimat yang dinilai sangat tidak profesional oleh publik.

"Nggak jadi tampil di Batam karena panitianya goblok, nggak bayar bagasi sama hotel," cetus Uan dalam potongan video yang mendadak viral di berbagai platform media sosial.

Tak berhenti di situ, Uan juga melontarkan umpatan bahasa Sunda untuk meluapkan kekesalannya terhadap ketidakpastian akomodasi. "Karena nggak bayar bagasi, sama hotelnya ge can puguh (masih belum pasti). Hotelnya baru sehari. Bagasinya nggak dibayar, padahal udah lunas. Belegug," tambah Uan.

Penggunaan diksi kasar secara terbuka ini sontak memicu reaksi keras dari warganet, penonton yang terlanjur membeli tiket, hingga para pelaku industri hiburan.

Pernyataan emosional Uan dengan cepat memantik amarah publik. Klarifikasi yang seharusnya berfokus pada duduk perkara teknis technical rider justru terdistraksi oleh bahasa verbal dan ekspresi sang vokalis.

Usai video tersebut viral, netizen mulai menggali rekaman siaran langsung Uan sebelum-sebelumnya. Rekaman-rekaman tersebut memperlihatkan kebiasaan Uan merespons komentar penonton dengan ucapan bernada keras seperti "Jangan ngatur!", "Tong loba ngatur, ta*", hingga "Lu sok akrab nyuruh-nyuruh aku bikin lagu, lu siapa?".

Perilaku ini dinilai warganet sebagai cermin kepribadian yang arogan dan minim attitude. Sejumlah pengamat industri musik menyayangkan cara Uan menyampaikan respons. Dalam dunia pertunjukan, kekecewaan terhadap panitia adalah hal yang lumrah. Namun, melontarkan makian di ruang publik tanpa rasa empati terhadap penggemar yang sudah mengorbankan waktu dan uang demi membeli tiket dinilai melanggar etika seorang public figure.

Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku industri musik Tanah Air. Kejelasan kesepakatan rider teknis memang menjadi hak mutlak seorang musisi. Namun, menjaga kematangan emosional dan etika berkomunikasi saat menangani krisis (crisis communication) adalah kewajiban yang sama pentingnya agar profesionalisme tidak gugur hanya karena umpatan emosional di media sosial.

Ditulis oleh Defi

Komentar