Pasar Pagi Rawamangun Sepi, Pedagang Keluhkan Pembeli Menurun Meski Konsumsi Terjaga

Pedagang di Pasar Pagi Rawamangun mengeluhkan penurunan jumlah pembeli. Aktivitas pasar disebut hanya ramai pada akhir pekan, sementara data BI menunjukkan konsumsi ritel nasional masih relatif terjaga.

Pasar Pagi Rawamangun Sepi, Pedagang Keluhkan Pembeli Menurun Meski Konsumsi Terjaga
Banyak kios di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, tampak tutup saat aktivitas perdagangan berlangsung. Sejumlah pedagang menyebut kondisi pasar semakin sepi sehingga sebagian kios memilih tutup lebih awal, bahkan ada yang berhenti berjualan akibat minimnya pembeli. Foto : Rury Satria/RUS/Framedaily.id

Frame Daily, Jakarta – Aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Rawamangun, Jakarta Timur, disebut mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah pedagang mengaku jumlah pembeli terus berkurang sehingga berdampak pada omzet dan jam operasional usaha mereka.

Salah seorang pedagang ayam potong, Nina, mengatakan kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Menurutnya, banyak kios memilih tutup lebih awal, bahkan ada pedagang yang berhenti berjualan karena penjualan terus menurun.

Pedagang: Banyak Kios Tutup Lebih Awal

"Banyak kios yang tutup sebelum waktunya. Ada juga yang sudah tidak berjualan lagi karena sepi pembeli," kata Nina saat ditemui Frame Daily di Pasar Pagi Rawamangun, Jakarta Timur.

Ia mengatakan sebagian pedagang kini memilih mengurangi jam operasional untuk menekan biaya listrik, tenaga kerja, dan operasional harian karena jumlah pembeli tidak lagi seramai sebelumnya.

Menurut Nina, kondisi tersebut dirasakan oleh berbagai pedagang di pasar, terutama pada hari kerja.

Akhir Pekan Masih Menjadi Andalan

Meski begitu, aktivitas perdagangan masih meningkat pada Sabtu dan Minggu.

"Kalau Sabtu dan Minggu masih lumayan ramai. Tapi hari biasa memang jauh lebih sepi dibandingkan dulu," ujarnya.

Fenomena tersebut menunjukkan pola kunjungan masyarakat yang cenderung terkonsentrasi pada akhir pekan, sementara transaksi pada hari kerja melemah.

Data BI: Konsumsi Nasional Masih Terjaga

Kondisi yang dialami pedagang di Pasar Pagi Rawamangun belum tentu mencerminkan kondisi konsumsi nasional secara keseluruhan.

Bank Indonesia dalam Survei Penjualan Eceran memperkirakan kinerja penjualan ritel nasional pada Juni 2026 masih relatif terjaga dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 221,6. Meski demikian, secara tahunan penjualan eceran masih mengalami kontraksi 4,4 persen, menunjukkan pemulihan konsumsi belum merata di seluruh wilayah dan jenis usaha.

Di sisi lain, laporan perkembangan inflasi menunjukkan harga sejumlah komoditas pangan masih mengalami tekanan, termasuk beberapa bahan kebutuhan pokok. Kenaikan harga tersebut berpotensi memengaruhi pola belanja masyarakat, yang menjadi lebih selektif dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.

Namun demikian, hingga kini belum ada data resmi yang menyimpulkan bahwa penurunan aktivitas di Pasar Pagi Rawamangun secara langsung disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.

Pengelola Pasar Belum Berikan Keterangan

Para pedagang berharap jumlah pembeli kembali meningkat agar aktivitas perdagangan kembali bergairah dan pasar tradisional tetap menjadi pilihan utama masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pengelola Pasar Pagi Rawamangun maupun Perumda Pasar Jaya mengenai penurunan aktivitas perdagangan, tingkat okupansi kios, maupun langkah yang akan dilakukan untuk meningkatkan jumlah pengunjung.

Frame Daily akan memperbarui pemberitaan ini setelah memperoleh konfirmasi dari pihak pengelola pasar maupun instansi terkait.

Ditulis oleh RUS

Komentar