Israel akui Hind Rajab Ditembaki Pasukan IDF

Israel untuk pertama kalinya mengakui pasukannya menembaki kendaraan yang ditumpangi Hind Rajab dan keluarganya di Gaza. Pengakuan tersebut muncul setelah penyelidikan militer Israel dan tekanan internasional atas kasus kematian bocah lima tahun itu.

Israel akui Hind Rajab Ditembaki Pasukan IDF
Jasad Hind Rajab ditemukan 12 hari setelah mobil yang ditumpangi keluarganya ditembaki oleh pasukan IDF. (AFP: Dokumentasi keluarga)

Frame Daily, JERUSALEM/LONDON — Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) merilis hasil lima penyelidikan internal terkait sejumlah serangan mematikan yang dilakukan tentaranya terhadap pekerja bantuan kemanusiaan dan tenaga medis di Gaza.

Informasi yang dirilis pada Rabu tersebut menjadi publikasi terbesar IDF dalam satu kesempatan terkait kematian warga sipil sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023.

Dari lima kasus tersebut, dua kasus paling mendapat perhatian kini menjadi objek penyelidikan kriminal oleh polisi militer Israel. Hal itu diungkapkan militer Israel pada Rabu.

IDF merilis hasil lima penyelidikan internal terkait insiden yang menewaskan warga sipil [ABC]

Sementara itu, dalam tiga kasus lainnya, termasuk serangan yang menewaskan pekerja bantuan asal Australia, Zomi Frankcom, para tentara dinyatakan tidak melakukan pelanggaran yang memerlukan proses pidana.

Bagaimana IDF Menyelidiki Kasusnya Sendiri?

IDF memiliki sistem peradilan berlapis yang menurut militer Israel dilengkapi dengan mekanisme "checks and balances" untuk menjamin ketidakberpihakan dan independensi.

Namun, cara militer Israel menyelidiki dugaan pelanggaran yang dilakukan tentaranya sendiri telah dikritik kelompok-kelompok hak asasi manusia, baik di Israel maupun di luar negeri. Mereka menilai sistem tersebut belum cukup serius dalam menindak tentara yang diduga melakukan pelanggaran.

Penyelidikan awal

Dugaan pelanggaran oleh tentara IDF pertama-tama diperiksa oleh Military Advocate General's Corps (MAG Corps). Lembaga ini merupakan bagian dari IDF, tetapi Israel menyatakan lembaga tersebut bekerja secara independen.

MAG Corps menyaring berbagai laporan dugaan pelanggaran dan menentukan kasus mana yang membutuhkan penyelidikan lebih lanjut.

Pemeriksaan lebih lanjut

Jika MAG Corps menilai sebuah dugaan pelanggaran memiliki dasar yang dapat dipercaya tetapi membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam, kasus tersebut biasanya diteruskan kepada General Staff Fact-Finding Assessment Mechanism (FFAM).

Lembaga ini memiliki kewenangan luas dan diharapkan menyelesaikan pemeriksaan dalam waktu relatif cepat. Hasil penyelidikan kemudian ditinjau oleh Military Advocate General, yang merupakan kepala MAG Corps.

Penyelidikan kriminal

Jika diperintahkan Military Advocate General, Military Police Criminal Investigation Division (MPCID) akan melakukan penyelidikan kriminal.

Setelah penyelidikan selesai, berkas kasus dikembalikan ke Office of the Military Advocate for Operational Affairs untuk ditinjau.

Setelah proses tersebut, Military Advocate General memutuskan apakah perkara akan dilanjutkan ke proses hukum pidana.

Pengadilan militer

Pengadilan militer Israel menangani dakwaan terhadap tentara IDF. Sistem tersebut mencakup beberapa pengadilan, termasuk Pengadilan Banding.

Hakim militer profesional yang ditunjuk secara independen dari IDF serta perwira IDF yang tidak memiliki keterkaitan dengan kasus yang diperiksa bertugas dalam pengadilan tersebut dan menentukan apakah seorang tentara bersalah.

Lima Kasus yang Diselidiki

Hasil pemeriksaan tersebut diterbitkan oleh General Staff Fact-Finding and Assessment Mechanism (FFAM)

FFAM merupakan bagian dari militer Israel yang bertugas melakukan pemeriksaan awal terhadap dugaan kejahatan perang serta menentukan apakah suatu kasus perlu diperluas menjadi penyelidikan lebih lanjut.

Cara militer Israel menyelidiki dirinya sendiri telah mendapat kritik dari kelompok hak asasi manusia di dalam maupun luar negeri. Mereka menilai dugaan kejahatan perang tidak ditangani secara serius.

"Sistem yang sebagian besar menutup kasus tanpa pertanggungjawaban, bertahun-tahun setelah kejadian, dan hanya merespons setelah mendapat tekanan internasional terus-menerus, bukanlah keadilan, melainkan upaya menutupi kesalahan,” kata juru bicara Human Rights Watch seperti dilansir ABC News setelah IDF merilis hasil penyelidikannya.

Menurut Human Rights Watch, sistem yang sebagian besar menutup kasus tanpa pertanggungjawaban, bertahun-tahun setelah kejadian dan hanya setelah mendapat tekanan internasional, bukanlah keadilan.

Berikut lima kasus yang tercantum dalam hasil penyelidikan tersebut

Penyelidikan Kriminal Dibuka atas Kematian Hind Rajab

Untuk pertama kalinya, IDF mengakui bahwa tentaranya melepaskan tembakan ke kendaraan yang membawa Hind Rajab, bocah Palestina berusia lima tahun, beserta anggota keluarganya.

Rajab awalnya selamat ketika kendaraan keluarganya ditembaki saat mereka berusaha meninggalkan Gaza City pada 29 Januari 2025. Insiden tersebut menjadi salah satu kasus paling banyak dikecam selama perang.

Jasad Hind Rajab (5 tahun) ditemukan 12 hari kemudian bersama enam anggota keluarganya dan dua paramedis.

Terjebak di dalam kendaraan yang dipenuhi jasad anggota keluarganya, Rajab menerima telepon dari Palestinian Red Crescent Society dan tetap berada di sambungan telepon selama berjam-jam di dalam mobil yang dipenuhi lubang peluru.

Sambungan telepon tersebut kemudian terputus di tengah suara tembakan. Rekaman permohonan bantuan Rajab yang berlangsung selama berjam-jam disiarkan ke berbagai penjuru dunia dan memicu kecaman internasional.

Jasad Rajab ditemukan 12 hari kemudian bersama enam anggota keluarganya dan dua paramedis.

Pada Februari 2025, IDF mengatakan hasil penyelidikan awal menunjukkan tidak ada tentara Israel di lokasi ketika insiden tersebut terjadi.

Namun, pada Rabu, IDF untuk pertama kalinya mengakui bahwa tentara Israel memang menembaki kendaraan yang ditumpangi Rajab. Ambulans yang berusaha menyelamatkannya juga terkena "tembakan peluru".

IDF kemudian menyatakan insiden tersebut kini menjadi objek penyelidikan kriminal oleh Military Police Criminal Investigation Division (MPCID), unit utama militer Israel yang menangani dugaan tindak pidana yang dilakukan anggota militernya.

Kisah Rajab kemudian menginspirasi film yang masuk nominasi Oscar, The Voice of Hind Rajab, serta mendorong pembentukan organisasi nirlaba hukum Hind Rajab Foundation.

Organisasi tersebut mengatakan tidak memiliki kepercayaan terhadap keputusan militer Israel untuk membuka penyelidikan kriminal.

Penyelidikan Dibuka atas Kematian 15 Warga Palestina

IDF juga mengumumkan penyelidikan kriminal terhadap insiden yang menewaskan 15 warga Palestina, termasuk paramedis Palestinian Red Crescent, di Gaza bagian selatan pada 23 Maret 2025.

Insiden tersebut sebelumnya mendapat perhatian internasional

Pada Rabu, IDF mengatakan MPCID membuka penyelidikan karena "penembakan yang dilakukan selama insiden tersebut menimbulkan dugaan kuat adanya pelanggaran pidana".

Menurut IDF, pada dini hari 23 Maret, tentara Israel menembaki sejumlah kendaraan penyelamat di kamp pengungsi Tel al-Sultan, dekat Rafah. Penembakan terjadi dalam tiga insiden terpisah selama sekitar 90 menit.

"Belakangan diketahui bahwa kendaraan yang terkena tembakan dalam insiden pertama dan kedua adalah mobil pemadam kebakaran dan ambulans, sedangkan kendaraan yang terkena dalam insiden ketiga adalah kendaraan PBB milik Palestina," demikian pernyataan IDF yang dirilis pekan ini.

IDF menyatakan total 15 warga Palestina tewas dalam tiga insiden tersebut. Militer Israel mengklaim enam di antaranya merupakan anggota Hamas.

Namun, IDF juga mengakui bahwa "tenaga medis dan paramedis" termasuk di antara korban.

IDF mengatakan seorang komandan telah menerima teguran, sedangkan wakil komandan telah diberhentikan dari jabatannya terkait insiden tersebut.

Dalam pernyataannya, Palestinian Red Crescent Society meminta dibentuknya "komisi penyelidikan internasional independen untuk mengungkap keadaan sebenarnya dari kejahatan ini".

IDF Hentikan Penyelidikan Serangan yang Menewaskan Zomi Frankcom

IDF menyatakan tidak akan membuka penyelidikan kriminal atas serangan pada 1 April 2024 yang menewaskan tujuh pekerja kemanusiaan, termasuk warga Australia Zomi Frankcom, yang berada dalam rombongan kendaraan organisasi bantuan.

IDF mengatakan telah menemukan sejumlah kegagalan serius yang membuat tentaranya keliru mengira ada anggota Hamas di dalam rombongan tersebut. Padahal, kendaraan itu milik World Central Kitchen (WCK), organisasi bantuan pangan.

Militer Israel sebelumnya mengklaim ada seorang pria bersenjata yang bepergian bersama rombongan. Namun, dalam hasil penyelidikan terbaru, IDF menyatakan pria tersebut ternyata merupakan petugas keamanan.

Dalam hasil pemeriksaan yang dirilis Rabu, IDF menyatakan tentaranya "secara keliru meyakini bahwa kendaraan tersebut membawa anggota militer Hamas dan karena itu menyerang kendaraan tersebut".

Zomi Frankcom telah bekerja untuk WCK selama beberapa tahun sebelum tewas dalam serangan IDF. [Dokumentasi: Facebook]

Meskipun tidak ada penyelidikan kriminal lanjutan, dua komandan IDF telah dicopot dari pangkat kolonel dan mayor.

Seorang kolonel, seorang mayor jenderal, dan seorang brigadir jenderal juga telah menerima teguran terkait insiden tersebut.

Dalam pernyataannya, WCK menyebut keputusan IDF tersebut "sangat menyinggung".

"Investigasi militer mencampuradukkan berbagai rangkaian waktu dan peristiwa, mengaburkan persoalan dan mengalihkan kesalahan atas tindakan ilegal IDF," kata WCK.

"Kami terus menuntut kebenaran dan keadilan bagi tim kami dan keluarga mereka."

Tidak Ada Penyelidikan Kriminal atas Kematian Pekerja MSF

Dua kasus terakhir dalam pernyataan IDF pada Rabu berkaitan dengan serangan yang menewaskan pekerja Médecins Sans Frontières (MSF) di Gaza bagian selatan.

Kasus pertama terjadi pada dini hari 20 Februari 2024 ketika IDF menyerang sebuah bangunan di wilayah Khan Yunis bagian selatan. IDF mengatakan bangunan tersebut "belakangan diketahui merupakan milik Médecins Sans Frontières".

Dua perempuan tewas dan tujuh orang lainnya terluka dalam serangan tersebut Dalam pernyataannya pada Rabu, IDF mengatakan pasukannya mengidentifikasi sebuah bangunan yang menghadap jalur yang "tidak berada di bawah kendali operasional" mereka, serta berada di dekat kompleks pertempuran Hamas yang menurut militer Israel diperkirakan menjadi lokasi keberadaan pasukan musuh.

IDF menyatakan bangunan tersebut berada di lokasi yang dianggap mengancam. Militer juga menyebut lampu di bangunan tersebut dalam keadaan mati dan tidak terlihat adanya aktivitas.

Berdasarkan hukum internasional, suatu objek dapat diserang dalam kondisi tertentu apabila dianggap sebagai sasaran militer berdasarkan sifat, lokasi, tujuan, atau penggunaannya, atau apabila objek tersebut memberikan kontribusi efektif terhadap kegiatan militer.

Dalam situasi yang meragukan, objek yang pada dasarnya merupakan fasilitas sipil seharusnya dianggap tidak digunakan untuk kepentingan militer.

Dalam pernyataan MSF saat serangan terjadi, organisasi tersebut mengatakan sebuah tank Israel menembaki rumah tempat pekerja MSF dan keluarga mereka tinggal.

Hasil pemeriksaan IDF menyimpulkan bahwa pasukan menembak dengan tujuan militer terhadap objek yang mereka nilai sebagai sasaran militer. Karena itu, menurut IDF, tidak ada dasar untuk membuka penyelidikan kriminal.

Meski demikian, IDF menyatakan terdapat "sejumlah kesalahan" dalam serangan tersebut yang akan ditangani langsung bersama para komandan terkait.

Seorang anak laki-laki melihat lokasi serangan Israel terhadap tempat penampungan milik MSF di Khan Younis. (Reuters: Mohammed Salem)

Serangan Kedua terhadap Konvoi MSF

Serangan kedua yang melibatkan pekerja MSF terjadi pada 18 November 2023 di Gaza City.

Menurut pernyataan IDF, kesalahpahaman antara otoritas militer dan tentara di sebuah pos pemeriksaan menyebabkan konvoi MSF yang telah mendapat izin untuk melakukan perjalanan antara fasilitas organisasi tersebut di bagian utara dan selatan Gaza dihentikan dan diminta menunggu.

IDF mengklaim konvoi tersebut mengabaikan instruksi untuk menunggu dan berusaha kembali ke Gaza City tanpa izin. Tentara Israel kemudian melepaskan "tembakan peringatan" ke arah jalan.

Dalam hasil penyelidikannya, IDF menyatakan ada "kemungkinan" dua penumpang dalam konvoi tersebut tewas akibat pantulan peluru atau serpihan peluru dari tembakan peringatan.

ABC telah menghubungi MSF untuk meminta tanggapan terkait hasil penyelidikan tersebut. (ABCNews)

Ditulis oleh Junaidi Saifuddin

Komentar