IHSG Ditutup Anjlok ke Level 6.599, di bursa hari ini.

IHSG Ditutup Anjlok ke Level 6.599, di bursa hari ini.
Foto AI : Framedaily.id

Frame Daily, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (18/5/2026). Tekanan jual yang terjadi sejak awal sesi membuat IHSG berakhir di level 6.599,24 atau turun 1,85 persen.

Data penutupan perdagangan menunjukkan IHSG terkoreksi 124,08 poin dibanding sesi sebelumnya. Bahkan, indeks sempat jatuh mendekati lima persen pada perdagangan intraday sebelum perlahan memangkas pelemahan hingga penutupan pasar.

Pelemahan tajam ini menjadi sorotan pelaku pasar karena terjadi di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan keluarnya dana asing dari pasar saham domestik.

Sentimen Global Tekan Bursa Asia dan Indonesia

Di lansir dari kantor berita nasional ANTARA, pelemahan IHSG dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi era suku bunga tinggi global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

Pelaku pasar memilih memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman atau safe haven asset di tengah ketidakpastian global. Kondisi ini membuat tekanan jual meningkat pada saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia.

Kelompok saham unggulan LQ45 juga ikut terkoreksi dan ditutup turun ke posisi 651,09.

Saham Big Caps Jadi Pemberat IHSG

Sektor energi, barang baku, perbankan, dan saham berbasis komoditas menjadi penyumbang tekanan terbesar terhadap pergerakan indeks hari ini.

Volume transaksi pasar tercatat cukup tinggi dengan nilai perdagangan mencapai sekitar Rp20,71 triliun. Sementara frekuensi transaksi menembus 2,57 juta kali perdagangan saham.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang level 6.398 hingga 6.631. Angka tersebut menunjukkan volatilitas pasar yang cukup tinggi dalam satu hari perdagangan.

BEI Minta Investor Tidak Panik

Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, meminta investor tetap tenang menghadapi koreksi pasar.

Di kutip dari media ekonomi nasional, Jeffrey menegaskan kondisi pasar saat ini masih dipengaruhi berbagai ketidakpastian global dan domestik sehingga investor diminta tidak mengambil keputusan emosional.

Sementara itu, sejumlah analis memproyeksikan volatilitas pasar masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Faktor yang menjadi perhatian investor antara lain arah suku bunga Bank Indonesia, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arus modal asing.

Tekanan Pasar Sudah Terlihat Sejak Pekan Lalu

Sebelumnya, tren pelemahan IHSG sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa perdagangan terakhir. Data BEI menunjukkan indeks saham domestik mengalami penurunan lebih dari 3 persen sepanjang pekan pendek Mei 2026.

Arus keluar dana asing atau foreign net sell juga terus terjadi di pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut membuat kapitalisasi pasar ikut mengalami penyusutan dalam beberapa pekan terakhir.

Pelaku pasar kini menunggu sentimen baru yang dapat mengembalikan optimisme investor terhadap pasar modal Indonesia, terutama dari sisi stabilitas global dan kebijakan moneter dalam negeri.

Ditulis oleh T A

Komentar