Frame Daily, Jakarta - Industri perfilman Korea Selatan kembali menghadirkan adaptasi layar lebar yang dinantikan publik Tanah Air. Film remake dari komedi-drama Hollywood populer, The Intern, dipastikan resmi menyapa penonton dan menghiasi jaringan bioskop Indonesia mulai 30 Oktober mendatang.

Langkah adaptasi ini terbilang istimewa karena hadir setelah lebih dari satu dekade sejak film orisinalnya memikat penonton global. Versi aslinya, yang dirilis pada 2015 dan disutradarai Nancy Meyers, sukses menembus jajaran box office lewat duet apik peraih Oscar Robert De Niro bersama Anne Hathaway. Kini, napas baru ditiupkan ke dalam narasi tersebut melalui perspektif budaya dan dinamika kerja khas Korea Selatan.
Daya tarik utama dari proyek ini terletak pada jajaran pemeran utamanya. Film ini mempertemukan dua aktor papan atas lintas generasi yang memiliki rekam jejak mentereng di industri hiburan Korea, yakni Han So-hee dan aktor veteran Choi Min-sik. Keputusan menyandingkan kedua nama besar ini langsung mencuri perhatian para pecinta film sejak pengumuman perdananya.
Han So-hee, yang namanya melambung hingga ranah internasional lewat peran fenomenalnya dalam serial The World of the Married, didapuk memainkan karakter Sun-woo. Sun-woo digambarkan sebagai seorang Chief Executive Officer (CEO) muda yang ambisius, serba cepat, dan gila kerja dalam mengelola perusahaan e-commerce mode yang berkembang pesat. Peran ini menjadi panggung baru bagi Han So-hee untuk menampilkan karakter pemimpin wanita modern yang kuat namun menyimpan kerentanan di tengah tekanan industri yang kompetitif.
Di sisi lain, lawan mainnya bukanlah sosok sembarangan. Aktor senior Choi Min-sik, yang dikenal luas lewat akting legendarisnya dalam film cult classic Oldboy serta film horor-thriller tersukses Exhuma, mengambil peran sebagai Ki-ho. Karakter Ki-ho merupakan seorang pensiunan dengan pengalaman kerja selama 37 tahun yang memutuskan untuk bangkit dari masa pensiunnya dan mencoba peruntungan baru sebagai "anak magang senior" di perusahaan yang dipimpin Sun-woo.
Secara garis besar, alur cerita versi Korea ini tetap mempertahankan esensi dan benang merah dari versi orisinalnya. Fokus utama narasi tertuju pada benturan kultural serta dinamika unik hubungan kerja lintas generasi yang terjadi di dalam lingkungan kantor modern yang serba digital. Penonton akan diajak menyaksikan bagaimana benturan pandangan antara metode kerja konvensional berbasis pengalaman puluhan tahun bersinggungan dengan budaya kerja startup yang cepat, serba teknologi, dan penuh tekanan.
Meskipun datang dari era dan latar belakang yang bertolak belakang, hubungan antara Sun-woo dan Ki-ho berkembang menjadi lebih dari sekadar ikatan atasan dan bawahan. Chemistry antara karakter Han So-hee dan Choi Min-sik berpusat pada proses saling mengisi; Ki-ho membawa kearifan hidup, ketenangan, serta etika kerja klasik untuk membantu Sun-woo navigasi dalam krisis pribadi dan profesionalnya. Sebaliknya, Sun-woo memberikan Ki-ho rasa memiliki serta tujuan baru di masa tuanya.
Kehadiran film remake ini juga membawa relevansi kuat bagi penonton Indonesia, mengingat Isu-isu seperti kesenjangan antargenerasi di dunia kerja (gap generation), kesehatan mental akibat beban kerja, hingga arti penting keseimbangan hidup semakin hangat dibicarakan di masyarakat perkotaan saat ini.
Dengan kombinasi naskah yang hangat, bumbu komedi yang segar, serta kekuatan akting dari kolaborasi dua generasi aktor terbaik Korea Selatan, film ini diprediksi akan menjadi salah satu tontonan wajib di penghujung tahun. Bagi para penggemar film drama-komedi hangat maupun pengikut setia Han So-hee dan Choi Min-sik, kepastian jadwal tayang pada 30 Oktober di bioskop Tanah Air tentu menjadi kabar yang sudah sangat ditunggu.
Komentar