Frame Daily, Jakarta — Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka duduk perkara di balik jembatan yang viral di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Ia menegaskan informasi yang berkembang di media sosial tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan karena masyarakat sebenarnya tidak membangun jembatan baru, melainkan membuat akses jalan sementara setelah ruas jalan menuju jembatan longsor.
Penjelasan itu disampaikan Tito saat rapat koordinasi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera. Menurutnya, pemerintah telah turun langsung ke lokasi, memediasi perbedaan pandangan antara masyarakat dan Balai Pelaksana Jalan Nasional, sekaligus menyiapkan solusi jangka pendek hingga pembangunan jembatan permanen.
Jalan Longsor Jadi Awal Persoalan
Tito menjelaskan jembatan baja yang menjadi perhatian publik sebenarnya tidak runtuh. Yang mengalami kerusakan adalah badan jalan di salah satu sisi jembatan setelah diterjang longsor sehingga akses menuju jembatan terputus.
Balai Pelaksana Jalan Nasional sempat meminta masyarakat tidak melintasi jembatan karena kondisi tanah di sekitar lokasi masih labil dan berisiko membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Sebagai alternatif, masyarakat diarahkan menggunakan jalur lain. Namun jalur tersebut dinilai terlalu jauh sehingga biaya perjalanan meningkat. Kondisi itu mendorong warga bergotong royong membuat jalan sementara menggunakan material batu dan sirtu sepanjang sekitar 75 hingga 100 meter agar kendaraan roda dua dan kendaraan ringan tetap bisa melintas.
“Yang dibangun masyarakat bukan jembatannya, tetapi jalan sirtu menuju jembatan,” ujar Tito.
Pemerintah Cari Jalan Tengah
Melihat perbedaan pandangan antara masyarakat dan petugas di lapangan, Tito mengatakan pemerintah kemudian memfasilitasi mediasi agar kebutuhan mobilitas warga tetap terpenuhi tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
Hasilnya, akses tersebut diperbolehkan digunakan secara terbatas oleh kendaraan roda dua dan kendaraan ringan. Sementara kendaraan bertonase besar tetap dilarang melintas karena kondisi tanah dan struktur penyangga belum sepenuhnya aman.
Di sisi lain, Kementerian Pekerjaan Umum mulai memperkuat struktur penyangga jembatan yang terdampak longsor serta mengaspal jalan sementara yang sebelumnya dibangun masyarakat. Jalur alternatif juga akan diperbaiki, termasuk pembangunan kembali dua jembatan yang rusak agar akses transportasi masyarakat kembali normal.
Jembatan Permanen Dibangun pada 2027
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah berencana membangun jembatan baru sepanjang sekitar 400 meter di lokasi yang memiliki kondisi tanah lebih stabil.
Menurut Tito, pembangunan jembatan permanen tersebut ditargetkan dimulai pada 2027. Sementara itu, pekerjaan perbaikan akses sementara telah berjalan sejak akhir Juni 2026 agar aktivitas masyarakat tidak terganggu selama proses pembangunan berlangsung.
Ia menegaskan pemerintah sejak awal tidak tinggal diam dalam menangani persoalan tersebut. Perbedaan yang muncul lebih disebabkan oleh pertimbangan teknis mengenai keamanan jembatan dengan kebutuhan masyarakat yang menginginkan akses lebih cepat.
Dengan kesepakatan yang telah dicapai, masyarakat tetap dapat menggunakan jalur sementara secara terbatas sambil menunggu pembangunan infrastruktur permanen selesai.
Komentar