Frame Daily, Jakarta - Film dokumenter Oasis: Don’t Look Back in Anger mengungkap bagaimana hubungan Liam dan Noel Gallagher perlahan mencair setelah bertahun-tahun berseteru. Alih-alih memperlihatkan rekonsiliasi dramatis dengan percakapan penuh emosi, film tersebut justru menunjukkan proses keduanya kembali dekat melalui latihan dan terutama penampilan di atas panggung.
Dokumenter yang dibuat oleh Steven Knight dan disutradarai Dylan Southern serta Will Lovelace itu mengikuti perjalanan Oasis dalam tur reuni Live ’25. Film tersebut menghadirkan rekaman latihan, suasana belakang panggung, pertunjukan konser, serta wawancara bersama Liam dan Noel, termasuk wawancara bersama pertama mereka dalam lebih dari dua dekade.
Kisah hubungan kedua bersaudara tersebut menjadi salah satu bagian paling menarik dalam film. Setelah perpecahan Oasis pada 2009, Liam dan Noel menjalani karier masing-masing dan dikenal kerap saling melontarkan kritik. Keduanya kemudian kembali berada dalam satu panggung pada tur reuni 2025, sebuah momen yang sebelumnya sulit dibayangkan oleh penggemar.
Pertemuan Pertama Setelah Bertahun-tahun
Salah satu adegan yang mencuri perhatian terjadi ketika Oasis mulai menjalani latihan untuk tur reuni. Para personel band telah berkumpul dan mulai memainkan kembali lagu-lagu lama, sementara Liam belum datang.
Menurut sutradara Dylan Southern, situasi ketika itu cukup tegang. Tim dokumenter bahkan tidak mengetahui secara pasti kapan Liam akan tiba. Mereka menyadari bahwa pertemuan tersebut merupakan momen sensitif karena Liam dan Noel sudah sangat lama tidak berada dalam satu ruangan.
Namun, pertemuan yang ditunggu-tunggu itu ternyata berlangsung jauh lebih sederhana daripada yang mungkin dibayangkan. Liam datang, meletakkan tasnya, kemudian bertanya, “Are we ready then?” Setelah itu, ia langsung bergabung dengan latihan.
Tidak ada adegan pelukan, permintaan maaf panjang, atau percakapan emosional. Bahkan, menurut Southern, Liam kemudian meninggalkan tempat latihan setelah sesi selesai dan pola tersebut terjadi berulang kali. Justru dari kesederhanaan itulah terlihat bagaimana kedua bersaudara tersebut mulai kembali menjalani rutinitas sebagai rekan satu band.
Rekonsiliasi Liam dan Noel Terjadi di Atas Panggung
Menariknya, para pembuat film mengatakan bahwa rekonsiliasi Liam dan Noel tidak benar-benar terjadi selama latihan. Hubungan mereka mulai berubah ketika Oasis kembali tampil di hadapan penonton.
“Reconciliation didn’t happen in rehearsals,” kata Southern. Menurutnya, proses tersebut justru mulai terjadi di atas panggung dan terus berkembang sepanjang rangkaian konser.
Perubahan itu dapat dilihat dari cara Liam dan Noel berinteraksi selama pertunjukan. Salah satu momen paling simbolis terjadi ketika Liam meraih tangan Noel dan mengangkatnya ke udara saat mereka berjalan menuju panggung dalam konser pembuka di Cardiff.
Bagi penonton Oasis, tindakan sederhana tersebut memiliki makna besar. Setelah bertahun-tahun melihat dua bersaudara itu berseteru di depan publik, Liam dan Noel akhirnya kembali tampil sebagai satu kesatuan. Noel bahkan mengaku terkejut ketika Liam tiba-tiba menggenggam tangannya sebelum mereka tampil.
Tur tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu comeback musik paling besar dalam beberapa tahun terakhir. Oasis Live ’25 mencakup 41 konser di 14 negara dan lima benua, dengan jumlah penonton lebih dari dua juta orang.
“Semua Sudah Dimaafkan Tanpa Kata”
Dokumenter tersebut tidak memberikan jawaban gamblang mengenai kapan atau bagaimana Liam dan Noel benar-benar menyelesaikan persoalan mereka.
Justru bagian itu menjadi salah satu karakter utama film. Tidak ada satu adegan yang menjelaskan secara lengkap alasan mereka tiba-tiba kembali akur. Penonton hanya melihat perubahan hubungan tersebut berkembang sedikit demi sedikit sepanjang tur.
Noel kemudian menggambarkan perubahan itu dengan kalimat yang menjadi salah satu bagian paling kuat dalam dokumenter: “It was all forgiven without saying a word.” Ia juga mengatakan bahwa kini dirinya dan Liam lebih sering berhubungan dibandingkan sebelumnya.
Dalam wawancara lain yang berkaitan dengan film tersebut, Noel mengatakan dirinya bahkan kembali menemukan sisi humor Liam yang sempat terlupakan. Menurutnya, hal-hal kecil yang dahulu mengganggu hubungan mereka kini tidak lagi terasa penting.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa rekonsiliasi keduanya tidak digambarkan sebagai sebuah keputusan yang terjadi dalam satu malam. Sebaliknya, hubungan tersebut tampak pulih melalui pengalaman bersama, terutama ketika mereka kembali memainkan lagu-lagu Oasis di hadapan jutaan penggemar.
Dokumenter Tidak Membongkar Semua Rahasia Oasis
Meski menawarkan akses yang sangat dekat ke proses reuni, Oasis: Don’t Look Back in Anger tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan mengenai apa yang membuat Liam dan Noel akhirnya bersedia kembali bekerja bersama.
Sejumlah media yang telah menyaksikan film tersebut mencatat bahwa percakapan pertama antara keduanya setelah bertahun-tahun tidak ditampilkan secara utuh. Begitu pula dengan detail mengenai proses bisnis yang melatarbelakangi tur reuni.
Pilihan tersebut membuat dokumenter lebih banyak berbicara tentang pengalaman reuni daripada kronologi lengkap perseteruan Gallagher bersaudara. Fokusnya adalah apa yang terjadi setelah mereka memutuskan kembali menjadi Oasis.
Film juga memperlihatkan bagaimana musik menjadi ruang yang memungkinkan Liam dan Noel membangun kembali hubungan mereka. Alih-alih menyelesaikan konflik melalui sebuah percakapan besar, keduanya seperti menemukan kembali kecocokan mereka ketika memainkan lagu-lagu yang telah membentuk perjalanan Oasis.
Dokumenter itu sekaligus memperlihatkan besarnya ikatan antara Oasis dan para penggemarnya. Reaksi penonton, kisah personal sejumlah penggemar, serta suasana konser menjadi bagian penting dari film dan memperlihatkan bahwa reuni Oasis bukan hanya soal dua bersaudara yang kembali bekerja sama, tetapi juga tentang sebuah generasi yang kembali menemukan musik masa mudanya.
Comeback Oasis dan Babak Baru Gallagher Bersaudara
Oasis: Don’t Look Back in Anger pada akhirnya menghadirkan cerita yang berbeda dari sekadar film konser. Dokumenter ini memperlihatkan bagaimana dua saudara yang selama bertahun-tahun dikenal karena perseteruan mereka kembali menemukan titik temu melalui musik.
Hubungan Liam dan Noel tidak digambarkan berubah secara instan. Pertemuan awal mereka justru terasa kaku dan profesional. Namun, ketika Oasis mulai tampil di hadapan penonton, jarak tersebut perlahan menghilang. Dari latihan yang minim interaksi hingga momen ketika keduanya saling menggenggam tangan di atas panggung, perubahan itu terlihat tanpa harus dijelaskan panjang lebar.
Film tersebut telah menjalani pemutaran perdana dunia di Festival Film Venesia dan dirilis di bioskop serta IMAX pada September 2026, dengan distribusi streaming melalui Disney+ yang menyusul kemudian.
Pada akhirnya, dokumenter Oasis memperlihatkan bahwa perdamaian Liam dan Noel Gallagher bukan lahir dari satu percakapan dramatis, melainkan dari proses kembali bermain musik bersama. Setelah sekitar 15–16 tahun hubungan mereka terputus, panggung justru menjadi tempat keduanya perlahan kembali menemukan hubungan sebagai saudara sekaligus rekan satu band.
Komentar