Dianggap Tone Deaf Usai Mengunggah Video Mindfulness, Maudy Ayunda Minta Maaf

Menanggapi kritik tersebut, Maudy mengakui kesalahannya dan menegaskan bahwa kemampuan untuk melepaskan diri sejenak dari berita buruk merupakan sebuah hak istimewa (privilege) yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Dianggap Tone Deaf Usai Mengunggah Video Mindfulness, Maudy Ayunda Minta Maaf
Aktris Maudy Ayunda menyampaikan permohonan maaf dan klarifikasinya setelah konten video YouTube miliknya bertajuk "mindfulness in the age of bad news" memicu kritik luas dari warganet (Dok. Instagram @maudyayunda)

Frame Daily, Jakarta - Fenomena burnout akibat paparan berita buruk bertubi-tubi kerap menjadi topik hangat di media sosial. Namun, ketika gagasan untuk membatasi konsumsi informasi atau melakukan mindfulness disampaikan tanpa sensitivitas terhadap krisis riil yang melanda masyarakat, dampaknya bisa memicu gelombang kritik hebat. Hal itulah yang baru saja dialami oleh selebritas dan edukator Indonesia, Maudy Ayunda.

Konten video berdurasi sekitar 13 menit yang diunggah di saluran YouTube pribadinya dengan judul "mindfulness in the age of bad news" mendadak dibanjiri sorotan kritis. Video tersebut diniatkan Maudy sebagai ruang berbagi refleksi mengenai cara menjaga kesehatan mental dan tetap hadir secara penuh (present) di tengah kepungan arus berita negatif harian. Namun, bagi sebagian besar publik, narasi tersebut dinilai kontradiktif dan terlepas dari realitas sosial yang memprihatinkan.

Publik menyoroti momentum peluncuran video yang dinilai kurang tepat. Di saat masyarakat luas tengah berhadapan langsung dengan rentetan bencana—mulai dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), bencana alam gempa bumi, hingga keresahan sosial akibat berbagai kebijakan dan program pemerintah yang dianggap tidak tepat sasaran—saran untuk melangkah mundur dari berita (stepping away from the news) dipersepsikan sebagai bentuk ketidakpedulian yang dibungkus dengan narasi self-care.

Menanggapi arus kritik yang membesar di berbagai platform digital, Maudy Ayunda memilih untuk tidak menghindar. Lewat sebuah pernyataan tertulis yang diunggah di kanal komunikasinya, ia secara terbuka merespons masukan publik dan melayangkan permohonan maaf.

"Terima kasih untuk semua komentar dan perspektif yang disampaikan di sini. Aku sudah membaca banyak di antaranya, dan ada satu hal penting yang aku sadari belum cukup aku sampaikan di video ini," tulis Maudy membuka klarifikasinya.

Ia secara eksplisit mengakui bahwa ajakan untuk rehat dari deretan pemberitaan buruk bukanlah opsi yang fleksibel bagi semua lapisan masyarakat. Bagi mereka yang menjadi korban langsung dari bencana fisik maupun dampak kebijakan yang merugikan, tidak ada ruang untuk menutup mata.

"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," ujar pelantun lagu Perahu Kertas tersebut.

Lebih lanjut, Maudy menceritakan latar belakang awal dari pembuatan konten tersebut. Ia menegaskan bahwa video itu sebenarnya berangkat dari pergulatan pribadinya (struggles) dalam menyeimbangkan kepedulian terhadap isu sosial dengan kesehatan mental individu. Ia ingin mencari cara agar tetap bisa terlibat (engage) secara bermakna tanpa kehilangan kapasitas emosional untuk bertindak.

Maudy juga menepis tuduhan bahwa dirinya bermaksud mengajak masyarakat untuk apatis atau bersikap seolah-olah situasi di sekitar berada dalam kondisi baik-baik saja.

"Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja," tegasnya. Menurut pandangannya, praktek kesadaran penuh justru seharusnya melatih individu untuk melihat hubungan sebab-akibat secara jernih, sehingga dorongan untuk berempati dan membantu mereka yang terdampak menjadi lebih kuat.

Dalam penyataan yang sama, Maudy menyampaikan empati mendalam kepada masyarakat yang sedang tertimpa musibah Karhutla, gempa bumi, maupun kelompok yang terbebani oleh ketimpangan kebijakan sosial. Ia menekankan bahwa komunitas-komunitas yang terdampak ini membutuhkan dukungan riil serta visibilitas publik yang sebesar-besarnya.

Di akhir permohonan maafnya, aktris lulusan Universitas Oxford dan Stanford ini menyatakan komitmennya untuk terus belajar dan membuka diri terhadap kritik membangun dari publik. Langkah Maudy dalam mengakui kekurangpekaannya (privilege check) mendapat apresiasi beragam dari warganet, yang berharap para figur publik berkonsep edukatif dapat lebih berhati-hati dan komprehensif dalam membingkai isu-isu sensitif di ruang publik.

Ditulis oleh Defi

Komentar