BI Yakin Rupiah Menguat pada Juli–Agustus 2026, Ini Faktor Pendorongnya

BI Yakin Rupiah Menguat pada Juli–Agustus 2026, Ini Faktor Pendorongnya
Sumber : Ekonomi Bisnis

Frame Daily, Jakarta - Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat mulai Juli hingga Agustus 2026 setelah mengalami tekanan cukup besar dalam beberapa bulan terakhir. Keyakinan itu disampaikan langsung Gubernur Perry Warjiyo di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.700 per dolar AS.

Optimisme tersebut muncul setelah BI mengambil sejumlah langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valuta asing hingga kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi tingginya permintaan dolar AS yang bersifat musiman. Kondisi itu diperkirakan mulai mereda setelah Juni 2026.

“Kalau kita melihat history itu memang rupiah mendapat tekanan April, Mei, Juni, tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus,” kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (20/5), (dikutip dari antaranews com.)

Permintaan Dolar Tinggi Jadi Tekanan Utama

BI menjelaskan pelemahan rupiah sejak April dipicu lonjakan kebutuhan devisa di dalam negeri. Faktor tersebut antara lain pembayaran dividen perusahaan, kewajiban utang luar negeri, hingga kebutuhan valuta asing untuk musim haji.

Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga datang dari konflik geopolitik global, kenaikan harga minyak dunia, dan menguatnya dolar AS akibat tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

Gubernur BI Perry Warjiyo : ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI beberapa hari lalu, Perry menyebut kondisi rupiah saat ini masih undervalued atau berada di bawah nilai fundamental ekonominya.

BI juga menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dengan inflasi terkendali dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Harga Emas Hari Ini 20 Mei 2026: Antam Tembus Rp2,8 Juta, Investor Masih Borong Safe HavenFrame Daily
Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

BI Naikkan Suku Bunga dan Intervensi Pasar

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI menaikkan BI-Rate menjadi 5,25 persen. Kenaikan ini menjadi yang pertama dalam dua tahun terakhir dan lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Selain menaikkan suku bunga, BI memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga offshore NDF di pusat keuangan global seperti Singapura, Hong Kong, London, dan New York.

Bank sentral juga memperkuat daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik.

Perry memastikan cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman meski BI aktif melakukan intervensi besar di pasar.

Rupiah Diproyeksi Kembali ke Kisaran APBN

Bank Indonesia tetap mempertahankan keyakinan bahwa rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 masih berada dalam asumsi makro APBN, yakni sekitar Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Saat ini, rata-rata kurs rupiah secara year to date berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS. BI memperkirakan tekanan terhadap mata uang Garuda akan mulai mereda pada semester II tahun ini seiring menurunnya kebutuhan dollar di pasar domestik.

Sebelumnya, rupiah sempat menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada 2026 akibat ketidakpastian global dan derasnya arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.

Ditulis oleh T A

Komentar

Advertisement