Berisiko, Kursi Boeing 737 MAX Salah Dipasang

FAA memerintahkan inspeksi puluhan ribu kursi Boeing 737 MAX akibat dugaan pemasangan tidak tepat yang berisiko saat darurat.

Berisiko, Kursi Boeing 737 MAX Salah Dipasang
Sebuah pesawat Boeing 737-9 MAX milik United Airlines lepas landas dari Bandara Internasional Los Angeles pada bulan Maret 2024. (Foto: AaronP/Bauer-Griffin)

Frame Daily, Amerika Serikat - Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) memerintahkan maskapai penerbangan melakukan inspeksi menyeluruh terhadap kursi penumpang di pesawat Boeing 737 MAX. Langkah itu diambil setelah ditemukan indikasi pemasangan kursi yang tidak tepat sehingga berpotensi membahayakan keselamatan penumpang dalam kondisi darurat.

Kebijakan tersebut tertuang dalam usulan Airworthiness Directive (AD) yang diterbitkan FAA pada Senin, 28 Juli 2026 waktu Amerika Serikat. Informasi ini juga menjadi perhatian sejumlah media internasional dan telah diberitakan oleh media nasional pada Rabu, 29 Juli 2026, mengutip laporan The Wall Street Journal mengenai arahan terbaru regulator penerbangan AS.


FAA Temukan Risiko Kursi Terlepas dari Rel

Dalam dokumen tersebut, FAA meminta maskapai memeriksa sistem pengait kursi yang terpasang pada rel kabin di pesawat Boeing 737-8, 737-9, dan 737-8200. Regulator menyatakan telah menerima laporan yang menunjukkan sejumlah rangkaian kursi tidak terkunci dengan benar pada rel pemasangannya.

Apabila kondisi tersebut dibiarkan, kursi berpotensi terlepas ketika pesawat mengalami turbulensi berat, pendaratan darurat, atau menerima beban besar saat proses evakuasi. Situasi itu dinilai dapat menghambat keselamatan penumpang sekaligus memperbesar risiko cedera.

FAA mencatat inspeksi akan mencakup 453 pesawat Boeing 737 MAX yang beroperasi di Amerika Serikat. Jumlah tersebut setara sekitar seperlima dari lebih dari 2.300 armada 737 MAX yang saat ini masih aktif beroperasi di berbagai maskapai.

Lebih dari 80.000 Kursi Akan Diperiksa

Perusahaan analitik penerbangan Cirium memperkirakan terdapat lebih dari 80.000 kursi yang harus diperiksa pada seluruh pesawat terdampak. Juru bicara Cirium, Mike Arnot, menjelaskan rata-rata satu pesawat Boeing 737 MAX memiliki sekitar 190 kursi penumpang. Dari hasil estimasi FAA, sebanyak 69 kursi di setiap pesawat kemungkinan harus dipasang ulang apabila ditemukan pemasangan yang tidak sesuai standar.

Arnot mengatakan belum terdapat petunjuk yang menjelaskan secara spesifik pesawat mana saja yang mengalami persoalan tersebut sehingga pemeriksaan perlu dilakukan secara menyeluruh terhadap armada yang masuk dalam arahan FAA.

United dan Southwest Miliki Armada Terdampak Terbanyak

Berdasarkan data industri penerbangan, United Airlines menjadi maskapai dengan jumlah Boeing 737 MAX terdampak paling banyak, yakni sekitar 284 unit.
Di posisi berikutnya terdapat Southwest Airlines dengan lebih dari 260 pesawat Boeing 737 MAX dalam armadanya.

FAA memperkirakan biaya inspeksi mencapai sekitar US$2,7 juta untuk seluruh armada yang diperiksa. Angka tersebut belum memasukkan biaya pemasangan ulang kursi apabila ditemukan ketidaksesuaian. Estimasi biaya pemasangan kembali satu kursi diperkirakan mencapai sekitar US$85.

Boeing Terus Berupaya Memulihkan Kepercayaan

Arahan inspeksi ini terbit tidak lama setelah FAA mengembalikan kewenangan Boeing untuk memberikan persetujuan akhir keselamatan pada pesawat 737 yang baru diproduksi. Kewenangan tersebut sempat dicabut selama hampir tujuh tahun setelah dua kecelakaan fatal Boeing 737 MAX, yakni Lion Air JT610 di Indonesia pada 2018 dan Ethiopian Airlines ET302 pada 2019, yang menewaskan total 346 orang. Dua kecelakaan tersebut dipicu kegagalan sistem perangkat lunak kendali penerbangan otomatis MCAS yang menerima data sensor keliru sehingga memaksa hidung pesawat terus menukik.

CEO Boeing Kelly Ortberg mengatakan perusahaan memahami pentingnya kepercayaan regulator terhadap kualitas produksi pesawat.

"Kami telah bekerja keras membangun kembali kepercayaan dari FAA dan memandang tanggung jawab ini dengan sangat serius," kata Ortberg dalam konferensi paparan kinerja keuangan kuartal kedua perusahaanu.

Di tengah arahan inspeksi tersebut, Boeing melaporkan kerugian kuartal kedua sebesar US$280 juta. Perusahaan juga memperkirakan total kerugian hingga US$2,8 miliar berasal dari kontrak produksi dua pesawat kepresidenan Air Force One yang masih menghadapi penundaan serta pembengkakan biaya.

Meski menghadapi sejumlah tantangan operasional, saham Boeing justru menguat sekitar 5 persen setelah laporan keuangan terbaru menunjukkan kerugian perusahaan lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ditulis oleh Junaidi Saifuddin

Komentar