Frame Daily, Jakarta - Industri film horor di Asia Tenggara kembali melahirkan karya kolaborasi lintas negara yang mencuri perhatian publik. Film bertajuk Khadam, sebuah proyek pengerjaan bersama antara rumah produksi Malaysia dan Indonesia, sukses menggelar acara pemutaran perdana (gala premiere) di CGV Grand Indonesia, Jakarta, pada Senin malam (14/9/2026).
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran produser, sutradara, pameran utama, hingga para kritikus film dan pencinta sinema horor tanah air. Antusiasme yang meluap di area pemutaran perdana menjadi sinyal positif jelang penayangan resminya di seluruh jaringan bioskop Indonesia yang dimulai pada Rabu, 16 September 2026.
Meski baru menyapa penonton Indonesia pertengahan bulan ini, Khadam sebenarnya telah mencatatkan rekam jejak yang mengesankan di panggung internasional. Sejak dirilis pertama kali di Malaysia pada Juni 2026, film ini berhasil membukukan pendapatan fantastis melebihi USD 1,3 juta (sekitar Rp20 miliar lebih). Selain Malaysia, teror film ini telah merambah penonton di Singapura dan Kamboja, serta dijadwalkan bakal menyambangi wilayah Hong Kong dan Macau pada Oktober mendatang.
Secara produksi, Khadam menandai langkah ambisius dalam peta perfilman regional. Film ini disutradarai oleh Shamyl Othman dan lahir dari gabungan dua rumah produksi asal Malaysia, Red Communications dan Komet Productions, yang bermitra erat dengan dua rumah produksi Indonesia, MAGMA Entertainment dan VMS Studio.
Tak hanya berhenti di dua negara tetangga, proyek ini turut diperkuat oleh dukungan jaringan mitra internasional dari Hong Kong/China serta India. Sinergi ini ditujukan untuk menghadirkan tontonan horor yang tidak sekadar menakut-nakuti, melainkan membawa narasi yang lebih segar, berani, serta relevan secara kultural bagi penonton di kawasan Asia Tenggara.
Hal yang membuat Khadam begitu menyedot perhatian adalah keberaniannya mengolah folklor lokal. Cerita film berfokus pada kepercayaan tentang entitas Saka dari tradisi Malaysia—sosok gaib yang diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Berbeda dari narasi khodam atau kodam pada umumnya yang kerap dipercaya sebagai penjaga atau pelindung manusia, Khadam membalikkan anggapan tersebut. Film ini mengeksplorasi sisi gelap ketika sang entitas justru mengamati titik lemah manusia yang dirawatnya. Mengusung premis utama "Jangan sampai Jadi Tuan", teror psikologis dan fisik bermula saat sang penjaga perlahan berusaha mengambil alih kehidupan serta raga dari pemiliknya sendiri.
Aktris asal Indonesia, Aghniny Haque, didapuk menjadi pemeran utama bernama Melor, seorang ibu tunawicara yang harus berjuang keras melindungi kedua anaknya dari ancaran entitas Saka keluarga.
Tantangan akting Aghniny terasa kian intens karena karakter Melor harus menghadapi teror tak biasa: entitas gaib tersebut menjelma menjadi sosok yang menyerupai dirinya, lalu secara perlahan manipulatif merebut kasih sayang dan kepercayaan anak-anaknya. Berbekal bahasa isyarat, kepekaan naluri keibuan, dan ketangguhan fisik, Melor dipaksa bertaruh nyawa demi mempertahankan keutuhan keluarganya.
Keputusan sineas Khadam untuk tidak bergantung pada kejutan visual singkat (jumpscare) murah, melainkan membangun atmosfer mencekam secara perlahan (slow-burn horror), mendapat acungan jempol dari para penikmat film.
Di platform ulasan film global, Letterboxd, ulasan positif terus mengalir dari para pengguna yang telah menyaksikan film ini di beberapa negara penayangan awal. Banyak pengamat menilai Khadam berhasil menyajikan ritme ketegangan yang rapi, akting mendalam dari para pemerannya, serta tata suara yang memperkuat sensasi teror tanpa perlu berlebihan.
Dengan rekam jejak kesuksesan komersial di kawasan regional serta banjir pujian dari kritikus, Khadam diprediksi bakal menjadi salah satu film horor paling diperbincangkan di bioskop Indonesia sepanjang paruh kedua tahun 2026. Penonton Indonesia kini tinggal menunggu hitungan hari untuk membuktikan sendiri keriuhan teror Saka di layar lebar.
Komentar