Frame Daily, Donggala – UMKM perajin tenun di Sulawesi Tengah mendapat peluang memperluas pasar hingga tingkat internasional melalui penyelenggaraan Buya Subi Festival 2026. Festival budaya yang berlangsung pada 5–11 Juli 2026 itu menjadi wadah promosi tenun khas Donggala sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis warisan budaya daerah.
UMKM perajin tenun menjadi salah satu fokus pengembangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam mengangkat potensi industri kreatif lokal. Melalui kolaborasi dengan Eco Fashion Week Australia (EFWA), festival tersebut diharapkan mampu membuka akses pasar baru bagi produk unggulan Donggala sekaligus meningkatkan daya saing para pengrajin.
UMKM perajin tenun juga diproyeksikan memperoleh manfaat dari hadirnya pelaku industri fesyen internasional yang mengikuti rangkaian kegiatan festival. Momentum tersebut dinilai dapat memperluas jejaring bisnis, memperkenalkan kualitas kain tenun Donggala, serta menarik minat pasar global terhadap produk lokal Indonesia.
UMKM perajin tenun dinilai memiliki potensi besar karena tenun Donggala dikenal memiliki motif, warna, dan kualitas serat yang khas. Pemerintah daerah berharap promosi yang dilakukan melalui festival budaya tidak berhenti pada pameran semata, melainkan mampu mendorong transaksi dan keberlanjutan usaha para pengrajin.
UMKM perajin tenun juga dihadapkan pada tantangan regenerasi. Mayoritas penenun saat ini berasal dari kelompok usia lanjut sehingga diperlukan langkah strategis untuk memastikan keterampilan menenun tetap diwariskan kepada generasi muda.
Festival Jadi Etalase Tenun Donggala
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido mengatakan Buya Subi Festival 2026 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan tenun khas Donggala kepada pasar nasional maupun internasional.
Menurut Reny, festival tersebut bukan hanya agenda budaya, tetapi juga menjadi sarana memperlihatkan kekayaan warisan lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Buya Subi Festival bukan sekadar agenda budaya, tetapi juga menjadi pernyataan kepada dunia bahwa Sulawesi Tengah memiliki kekayaan tenun khas Donggala yang bernilai tinggi, sarat filosofi kehidupan, serta mampu menjadi bagian dari industri fashion berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional," katanya di Donggala, Rabu (8/7), seperti dikutip dari ANTARA.
Ia berharap penyelenggaraan festival mampu melahirkan berbagai kerja sama strategis yang memperkuat promosi pariwisata, memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta membuka akses pasar global bagi produk unggulan Sulawesi Tengah.
Kehadiran CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Zuhal Kuvan Mills, menurut Reny, menjadi peluang besar untuk memperkenalkan tenun Donggala kepada pelaku industri mode dunia.
"Mari jadikan festival ini sebagai ruang belajar, ruang berkarya, ruang berkolaborasi, sekaligus ruang membangun masa depan ekonomi kreatif Sulawesi Tengah yang inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.
Buya Subi Festival 2026 merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Eco Fashion Week Australia. Festival berlangsung selama tujuh hari dengan berbagai kegiatan yang mengangkat kekayaan budaya dan potensi ekonomi kreatif daerah.
Regenerasi Penenun Jadi Prioritas
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga menaruh perhatian terhadap keberlanjutan tradisi menenun. Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah pembahasan rencana pembukaan jurusan khusus tenun di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Menurut Reny, program tersebut menjadi bagian dari upaya regenerasi karena sebagian besar penenun aktif saat ini telah berusia lanjut.
Data pemerintah daerah menunjukkan terdapat sekitar 200 penenun yang tersebar di dua sentra utama, yakni Desa Towale dan Desa Limboro. Mayoritas dari mereka merupakan penenun senior yang selama ini menjaga keberlangsungan tradisi tenun Donggala.
"Jangan sampai tenun kita hilang karena para pengrajinnya didominasi generasi yang sudah lanjut usia. Regenerasi harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang," katanya.
Ia menilai regenerasi menjadi kebutuhan mendesak agar keterampilan menenun tidak terputus. Pendidikan vokasi dinilai dapat menjadi solusi untuk melahirkan generasi baru yang memiliki kemampuan teknis sekaligus memahami nilai budaya yang terkandung dalam setiap motif tenun.
Dorong Inovasi dan Daya Saing Produk
Reny juga menegaskan festival budaya harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan para pengrajin. Salah satunya melalui peningkatan minat masyarakat untuk membeli dan menggunakan produk tenun lokal secara berkelanjutan.
Menurut dia, kualitas tenun Donggala memiliki daya saing yang kuat karena didukung motif khas, warna yang menarik, dan serat kain berkualitas. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan inovasi desain agar mampu mengikuti perkembangan industri fesyen modern.
"Pemerintah ingin kualitas terus meningkat dengan desain yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Donggala," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga terus mendorong pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah. Penguatan sektor ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Reny mengajak generasi muda untuk bangga menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap karya para pengrajin. Menurutnya, penggunaan tenun dalam kehidupan sehari-hari akan memperkuat keberlangsungan industri kerajinan sekaligus menjaga identitas budaya daerah.
Melalui Buya Subi Festival 2026, pemerintah berharap UMKM perajin tenun tidak hanya dikenal sebagai pelestari warisan budaya, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi kreatif yang mampu bersaing di pasar internasional. Dengan dukungan promosi, inovasi produk, serta regenerasi penenun, tenun khas Donggala diharapkan semakin kuat sebagai salah satu ikon fesyen berbasis budaya dari Indonesia.
Komentar