UMKM di Banyuwangi Bakal Panen Peluang saat BEC 2026

UMKM di Banyuwangi diproyeksikan meraih peluang besar dari Banyuwangi Ethno Carnival 2026 yang menghadirkan pameran usaha, parade budaya, dan konser musik.

UMKM di Banyuwangi Bakal Panen Peluang saat BEC 2026
Model memperagakan kostum kreasinya dalam Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2025. (Dok.ANTARA)

Frame Daily, Banyuwangi – UMKM di Banyuwangi diproyeksikan kembali memperoleh dorongan ekonomi melalui penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menghadirkan festival budaya tersebut sebagai bagian dari upaya mempromosikan kekayaan lokal sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

UMKM di Banyuwangi menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian dalam rangkaian Banyuwangi Ethno Carnival tahun ini. Agenda pembuka berupa pameran produk lokal diharapkan mampu menarik ribuan pengunjung yang datang untuk menyaksikan parade busana etnik modern pada 17–19 Juli 2026.

UMKM di Banyuwangi diperkirakan menikmati peningkatan transaksi seiring tingginya mobilitas wisatawan selama pelaksanaan festival. Produk kuliner khas, kerajinan tangan, fesyen berbasis budaya, hingga berbagai hasil ekonomi kreatif menjadi daya tarik yang melengkapi kemeriahan Banyuwangi Ethno Carnival.

UMKM di Banyuwangi selama ini tumbuh seiring berkembangnya sektor pariwisata daerah. Pemerintah daerah secara konsisten memadukan agenda budaya dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat agar manfaat penyelenggaraan event tidak hanya dirasakan pelaku industri pariwisata, tetapi juga usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

UMKM di Banyuwangi kembali mendapat momentum promosi karena Banyuwangi Ethno Carnival telah menjadi salah satu agenda wisata nasional yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Kehadiran wisatawan dari berbagai daerah diharapkan memperluas pasar produk lokal sekaligus memperkuat citra Banyuwangi sebagai destinasi wisata budaya unggulan.

Festival Angkat Sejarah Perang Bayu

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Banyuwangi Ethno Carnival 2026 mengusung tema "Perang Bayu-The Great War of Blambangan". Tema tersebut mengangkat kisah heroik perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajahan Belanda atau VOC pada 1771–1772 yang menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya Banyuwangi.

Menurut Ipuk, setiap penyelenggaraan BEC selalu mengangkat kekayaan lokal sebagai identitas utama festival sehingga memiliki karakter yang berbeda dibandingkan karnaval lainnya.

"BEC bukan sekadar karnaval kostum biasa, tetapi sebuah mahakarya seni berakar kearifan lokal. Jadi, ide dan tema yang diangkat setiap tahun diambil dari seni, budaya, tradisi, sejarah hingga potensi alam Banyuwangi, dan inilah yang membedakan BEC dengan karnaval lainnya," ujar Ipuk di Banyuwangi, Rabu (8/7), seperti dikutip dari ANTARA.

Ia menjelaskan kostum-kostum yang diperagakan para peserta akan menggambarkan lima subtema yang merepresentasikan perjalanan sejarah Perang Bayu.

Subtema pertama bertajuk Pejuang Blambangan, yang menghadirkan visualisasi tokoh Rempeg Jogopati dan Sayu Wiwit sebagai simbol perjuangan masyarakat Banyuwangi.

Subtema kedua adalah Genderang Perang, yang menampilkan berbagai senjata tradisional seperti keris, tombak, dan jemparing atau panah yang digunakan rakyat saat melawan penjajah.

Subtema ketiga, VOC dan Sekutu, memvisualisasikan pasukan kolonial beserta unsur-unsur yang berkaitan dengan kekuatan penjajah pada masa itu.

Kreativitas Budaya Jadi Magnet Wisata

Panitia juga menghadirkan subtema Situs Perang, yang mengangkat lokasi-lokasi bersejarah seperti Rowo Bayu, Teluk Pang-pang, dan Pelabuhan Grajagan sebagai bagian dari narasi perjuangan rakyat Blambangan.

Subtema terakhir bertajuk Hasil Bumi menampilkan kekayaan alam Banyuwangi berupa rempah-rempah dan hasil perkebunan yang pada masa lalu menjadi incaran bangsa kolonial.

"Inilah kekayaan tema lokal Banyuwangi yang tidak akan pernah habis digali, dan tentunya akan sangat menarik untuk melihat semua subtema tersebut divisualisasikan secara kreatif dalam sebuah rancangan kostum karnaval," kata Ipuk.

Menurut dia, keterlibatan seniman, budayawan, desainer, serta generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian budaya lokal melalui karya-karya kreatif yang ditampilkan setiap tahun.

Ipuk juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terus mendukung pelestarian budaya Banyuwangi melalui penyelenggaraan festival.

"Terima kasih kepada seniman, budayawan, desainer serta anak-anak Banyuwangi yang terus setia mengangkat kearifan lokal, sehingga khasanah Banyuwangi akan selalu hidup dan lestari," ujarnya.

BEC telah menjadi bagian dari rangkaian Banyuwangi Attraction sejak 2011. Festival ini juga masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata secara berkelanjutan sejak 2022.

Peluang Ekonomi Semakin Terbuka

Penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival tidak hanya menawarkan pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang promosi bagi UMKM di Banyuwangi. Pameran yang digelar pada hari pertama menjadi kesempatan bagi pelaku usaha memperkenalkan produk kepada wisatawan dan calon pembeli dari berbagai daerah.

Efek berganda dari kegiatan tersebut diperkirakan akan dirasakan oleh berbagai sektor usaha. Tingkat kunjungan wisata yang meningkat umumnya berdampak terhadap penjualan produk oleh-oleh, kuliner, kerajinan, jasa transportasi, penginapan, hingga berbagai layanan pendukung pariwisata lainnya.

BEC 2026 akan mengambil titik awal di Taman Blambangan dan berakhir di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan rute parade sepanjang 2,5 kilometer. Ratusan talenta akan mengenakan kostum etnik modern hasil karya para desainer lokal yang mengangkat nilai sejarah dan budaya daerah.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari, yakni 17–19 Juli 2026. Agenda dimulai dengan pameran UMKM, dilanjutkan BEC Grand Carnival pada 18 Juli, kemudian ditutup dengan Konser Musik BEC pada hari terakhir.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berharap Banyuwangi Ethno Carnival kembali menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan kunjungan wisatawan. Kehadiran festival budaya berskala nasional tersebut juga diharapkan memperkuat daya saing UMKM di Banyuwangi, memperluas akses pasar produk lokal, serta menjaga keberlanjutan pelestarian budaya sebagai identitas daerah.

Ditulis oleh Irianto Susilo

Komentar