Frame Daily Jakarta – Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan perubahan signifikan pada peta elektabilitas calon presiden. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) kini berada di posisi teratas dalam simulasi semi terbuka, mengungguli Presiden Prabowo Subianto dengan selisih yang cukup lebar.
Survei bertajuk Elektabilitas Calon-calon Presiden tersebut dipresentasikan Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani melalui kanal YouTube SMRC TV pada Rabu, 29 Juli 2026.
Dedi Mulyadi Pimpin Elektabilitas
Dalam simulasi semi terbuka yang memuat 20 nama calon presiden, Dedi Mulyadi yang juga merupakan kader Partai Gerindra besutan Prabowo, emperoleh dukungan sebesar 35 persen. Angka itu terpaut jauh dari Prabowo Subianto yang berada di posisi kedua dengan elektabilitas 14,5 persen.
Di bawah keduanya terdapat Anies Baswedan dengan 8,2 persen, disusul Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, serta Mahfud MD 4 persen. Nama-nama lain masing-masing memperoleh dukungan di bawah 2 persen. Sebanyak 12,8 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.

Tren Elektabilitas Berubah
SMRC mencatat elektabilitas Prabowo mengalami penurunan dalam sembilan bulan terakhir. Pada survei November 2025, Prabowo masih memperoleh dukungan 34,9 persen dalam simulasi semi terbuka. Pada survei terbaru Juli 2026, angkanya turun menjadi 14,5 persen.
Di sisi lain, elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat cukup tajam. Dari 19,7 persen pada November 2025, dukungannya naik menjadi 35 persen pada Juli 2026.
Perubahan itu memperlihatkan pergeseran dukungan publik terhadap sejumlah figur yang dinilai berpotensi maju pada pemilihan presiden mendatang.
Dedi Menang Jauh dalam Simulasi Head-to-Head
Keunggulan Dedi juga terlihat dalam simulasi dua nama yang hanya mempertemukan dirinya dengan Prabowo Subianto.
Pada simulasi tersebut, Dedi memperoleh dukungan sebesar 59 persen. Sementara Prabowo meraih 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.
SMRC juga membandingkan hasil itu dengan survei Februari–Maret 2026. Saat itu, Prabowo masih mencatat elektabilitas 50,5 persen dalam simulasi dua nama, sedangkan Dedi memperoleh 42,6 persen. Dalam survei Juli 2026, posisi keduanya berbalik dengan Dedi mencapai 59 persen dan Prabowo turun menjadi 28,3 persen.
Metodologi Survei
Pengumpulan data dilakukan pada 5–19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang memiliki hak pilih, yaitu warga negara Indonesia berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.
Sebanyak 605 responden yang memiliki telepon seluler diwawancarai melalui sambungan telepon menggunakan metode double sampling. Adapun 144 responden yang tidak memiliki telepon diwawancarai secara tatap muka menggunakan metode stratified multistage random sampling.
SMRC menyebut survei tersebut memiliki margin of error sekitar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Penilaian Publik terhadap Pemerintah
Dalam paparan hasil surveinya, SMRC menyatakan penurunan elektabilitas Prabowo berjalan seiring dengan memburuknya penilaian publik terhadap sejumlah aspek pemerintahan. Penilaian itu mencakup kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, serta pelaksanaan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
SMRC juga menyebut penurunan dukungan terhadap Prabowo ikut berpengaruh terhadap elektabilitas Partai Gerindra.
"Penurunan elektabilitas Prabowo juga berdampak terhadap melemahnya elektabilitas Gerindra, partainya," tulis SMRC dalam paparan hasil survei yang dipublikasikan pada 29 Juli 2026.
Komentar