Shareloc dengan Pasangan: Tanda Peduli atau Bentuk Mengontrol?

Fitur berbagi lokasi atau shareloc semakin sering digunakan pasangan untuk alasan keamanan dan komunikasi. Di balik manfaatnya, kebiasaan ini juga memunculkan pertanyaan soal privasi, kepercayaan, hingga potensi perilaku mengontrol dalam hubungan.

Shareloc dengan Pasangan: Tanda Peduli atau Bentuk Mengontrol?
'Shareloc' dengan pasangan, bukan untuk mengontrol tapi untuk saling peduli (Tim Frame Daily)


Frame Daily, Jakarta - Berbagi lokasi atau share location kini menjadi bagian dari keseharian banyak pasangan. Fitur yang tersedia di berbagai aplikasi, seperti WhatsApp, Google Maps, hingga Life360, memudahkan seseorang mengetahui keberadaan orang terdekatnya hanya melalui ponsel.

Bagi sebagian orang, kebiasaan ini merupakan bentuk perhatian dan rasa peduli. Di sisi lain, tidak sedikit yang menilai permintaan shareloc secara terus-menerus dapat mengarah pada perilaku mengontrol pasangan.

Perdebatan tersebut kembali menjadi perhatian setelah berbagai media internasional dan nasional mengulas bagaimana teknologi pelacakan lokasi memengaruhi dinamika hubungan modern.

'Shareloc' Makin Lazim Digunakan Pasangan

Laporan The New York Times menyebut berbagi lokasi telah menjadi salah satu bentuk ekspresi digital dalam hubungan, layaknya mengunggah foto pertama bersama atau mengubah status hubungan di media sosial.

Teknologi ini berkembang pesat sejak Apple memperkenalkan fitur Find My Friends pada 2011 yang kemudian berkembang menjadi Find My. Saat ini, layanan serupa juga tersedia melalui Google Maps, Life360, Glympse, hingga aplikasi khusus keluarga.

Survei Life360 bahkan menunjukkan sekitar 95 persen orang dewasa Amerika yang sedang menjalin hubungan menggunakan teknologi berbagi lokasi. Rata-rata pengguna membuka aplikasi tersebut hingga tujuh kali dalam sehari.

Generasi muda menjadi kelompok yang paling akrab dengan kebiasaan ini. Sebuah survei di Australia menemukan hampir satu dari lima responden berusia 18-24 tahun menganggap melacak lokasi pasangan kapan saja sebagai hal yang wajar.

Rasa Aman atau Bentuk Kontrol?

Berbagi lokasi memang memiliki manfaat praktis. Pasangan dapat mengetahui apakah orang yang dicintainya telah tiba dengan selamat di tempat tujuan, memperkirakan waktu kedatangan, atau memudahkan koordinasi ketika akan bertemu.

Psikolog sekaligus Direktur Klinis Growing Self Counseling & Coaching, Lisa Marie Bobby, mengatakan tidak ada aturan bahwa hubungan yang sehat harus selalu berbagi lokasi.

Menurut Bobby, persoalan muncul ketika salah satu pihak merasa terpaksa atau tidak nyaman karena terus diminta membagikan lokasi.

Ia menjelaskan bahwa permintaan tersebut dapat dipengaruhi pengalaman masa lalu, terutama jika seseorang pernah mengalami pengkhianatan atau trauma dalam hubungan sebelumnya. Dalam kondisi seperti itu, keinginan mengetahui keberadaan pasangan sering muncul sebagai upaya mencari rasa aman.

Di sisi lain, Bobby juga menilai penolakan yang sangat keras terhadap permintaan berbagi lokasi dapat menjadi bahan diskusi di dalam hubungan. Keterbukaan tetap penting selama dilakukan tanpa tekanan dan berdasarkan kesepakatan bersama.

Privasi Tetap Menjadi Hak Setiap Orang

Relasi yang sehat dibangun atas dasar kepercayaan, bukan pengawasan. Dikutip dari artikel Verywell Mind, setiap individu tetap memiliki hak atas privasi meskipun berada dalam hubungan yang berkomitmen. Berbagi lokasi dapat menjadi pilihan untuk alasan keamanan, bukan sebagai alat menggantikan rasa percaya.

Terapis hubungan Dr. Jenni Skyler juga mengingatkan bahwa permintaan untuk selalu mengetahui lokasi pasangan bisa berubah menjadi perilaku mengontrol apabila tidak dilandasi alasan yang sehat.

Menurutnya, kebiasaan memantau setiap pergerakan pasangan berpotensi memicu kecemasan, prasangka, dan kecurigaan yang justru memperburuk kualitas hubungan.

Pandangan serupa disampaikan terapis hubungan Nedra Glover Tawwab kepada The Guardian. Ia mengaku berbagi lokasi dengan suaminya karena tuntutan pekerjaan yang membuatnya sering bepergian.

Bagi Tawwab, teknologi bukanlah masalah. Yang menentukan sehat atau tidaknya sebuah hubungan adalah cara teknologi tersebut digunakan.

Mengecek lokasi pasangan setelah perjalanan jauh untuk memastikan keselamatannya merupakan bentuk perhatian. Sebaliknya, memantau setiap perpindahan lokasi sepanjang hari dapat menjadi pelanggaran terhadap privasi, sekalipun lokasi itu dibagikan secara sukarela.

Kunci Utamanya adalah Kesepakatan

Para psikolog sepakat bahwa shareloc bukan ukuran cinta maupun kesetiaan. Fitur tersebut dapat membantu pasangan menjalani aktivitas sehari-hari jika digunakan berdasarkan kebutuhan, komunikasi yang terbuka, dan persetujuan kedua belah pihak.

Sebaliknya, apabila berbagi lokasi berubah menjadi alat untuk mengurangi kecemasan, membuktikan kesetiaan, atau mengawasi pasangan setiap saat, persoalan utamanya bukan lagi teknologi, melainkan kepercayaan dalam hubungan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang memeriksa titik lokasi pasangannya di peta digital. Keamanan emosional justru tumbuh dari komunikasi yang jujur, rasa saling menghormati, serta keyakinan bahwa kepercayaan tidak harus dibuktikan dengan pengawasan sepanjang waktu.

Ditulis oleh Junaidi Saifuddin

Komentar